Menu ✖

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

RAGAM · 16 Agu 2024 07:47 WIB ·

Data e-HDW dan Rembuk Stunting Desa Pangkas Gizi Buruk


					Data e-HDW dan Rembuk Stunting Desa Pangkas Gizi Buruk Perbesar

Jakarta [DESA MERDEKA] – Senjata paling ampuh melawan stunting di Indonesia ternyata bukan dari pusat, melainkan berawal dari meja diskusi di balai desa. Melalui forum “rembuk stunting desa”, warga dan aparatur desa kini bisa melacak sekaligus memangkas kasus gangguan gizi kronis pada anak secara akurat menggunakan aplikasi digital.

Selama ini, penanganan stunting sering kali salah sasaran karena program yang dibuat tidak sesuai dengan kebutuhan riil di lapangan. Namun, kehadiran aplikasi e-HDW (Electronic Human Development Worker) mengubah pola tersebut. Aplikasi ini menyajikan data kesehatan ibu hamil dan balita tingkat desa secara langsung (real-time).

“Data e-HDW memberikan gambaran yang jelas tentang situasi di tingkat desa, memungkinkan kami merancang program yang lebih efektif,” ujar Panudi, seorang fasilitator pengembangan desa dalam sebuah diskusi virtual baru-baru ini.

Melalui rembuk stunting desa, data dari e-HDW dibedah bersama oleh kepala desa, petugas puskesmas, tokoh masyarakat, hingga kader posyandu. Mereka mencari akar masalah—apakah karena sanitasi yang buruk, kurangnya edukasi gizi, atau akses layanan kesehatan yang jauh—lalu menyusun rencana aksi yang didanai oleh Anggaran Dana Desa.

Panudi menegaskan bahwa keterlibatan aktif warga dalam pengambilan keputusan adalah kunci utama. “Dengan melibatkan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan, kita dapat memastikan bahwa intervensi relevan dan berkelanjutan,” tambahnya.

Meski demikian, perangkat desa tidak bisa berjalan sendiri. Penanganan stunting yang kompleks membutuhkan keroyokan atau pendekatan multisektoral dari lembaga pemerintah, tenaga kesehatan, dan organisasi lokal. Kolaborasi ini bertujuan mempermudah akses warga terhadap makanan bergizi, konseling pola asuh, dan jaminan sosial.

“Pendekatan multisektoral sangat penting untuk mengatasi penyebab kompleks stunting,” kata Panudi memungkasi.

Pada akhirnya, mengejar target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) bukan sekadar urusan angka di atas kertas. Gerakan akar rumput berbasis data digital inilah yang akan menentukan apakah anak-anak di pelosok Indonesia bisa tumbuh lebih sehat dan kompetitif di masa depan.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 58 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Tragedi Desa Sugi: Trauma Mafia Tanah dan Apatisme Nelayan Mangrove

12 Oktober 2026 - 21:28 WIB

Pasir Pantai Merah Putih Obi Dikeruk Ilegal, APH dan Pemda Didesak Bertindak

3 Oktober 2026 - 10:31 WIB

Bertahan di Ruas Kaputusan: Nestapa dan Resiliensi Warga

29 September 2026 - 16:06 WIB

Siasat Ekspor Mikro: Berhenti Berteori, Saatnya Menyambung Titik Cuan Desa

20 September 2026 - 16:09 WIB

Transportasi Desa Indari Disorot, Pemerintah Diminta Beri Solusi

17 September 2026 - 21:04 WIB

Ketika Mesin Digugat: Palagan Manusia di Pilkades Bantarjaya

17 September 2026 - 13:44 WIB

Trending di RAGAM