Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

OPINI · 24 Jul 2026 18:14 WIB ·

Minke, Londo Ireng, dan Hak Desa Mengabarkan Kebenaran


					Minke, Londo Ireng, dan Hak Desa Mengabarkan Kebenaran Perbesar

Opini [DESA MERDEKA] Pernyataan Presiden Prabowo Subianto pada pertengahan Juli 2026 mengejutkan ruang publik. Beliau menyamakan jurnalis, pengamat, dan LSM yang kritis dengan istilah londo ireng. Istilah historis ini merujuk pada pribumi yang menjadi antek penjajah. Kritik pers terhadap fasilitas publik yang rusak—seperti sekolah atau infrastruktur desa—dianggap sebagai upaya mencari-cari kesalahan pemerintah.

Sikap ini memicu kekhawatiran besar di tingkat tapak. Ada salah kaprah yang akut dalam memandang fungsi pers. Jurnalisme kerap dipaksa bertindak bagai hubungan masyarakat (humas) yang hanya bertugas menyiarkan keberhasilan penguasa.

Jika kita membuka kembali lembaran sastra Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, kita akan menemukan tokoh Minke. Kekasih Annelies itu adalah representasi jurnalis pertama bumiputera. Minke menulis bukan untuk menjadi pemandu sorak kekuasaan kolonial, melainkan untuk membuka mata rakyat atas ketimpangan di depan mata. Pers lahir sebagai kontrol sosial, bukan alat stempel birokrasi.

Stigma londo ireng ini menjadi tantangan serius bagi gerakan kebangkitan desa yang sedang belajar mengabarkan dirinya sendiri. Lewat platform jurnalisme warga, masyarakat desa kini aktif menuliskan realitas mereka. Mereka mengabarkan potensi wisata, tetapi mereka juga punya hak mutlak untuk melaporkan jalan runtuh, jembatan putus, atau dana desa yang diselewengkan.

Melaporkan penderitaan desa bukanlah tindakan makar atau pengkhianatan ala londo ireng. Justru, itulah wujud cinta tertinggi warga kepada tanah airnya. Saat desa berani mengabarkan kebenaran apa adanya, mereka sedang meneruskan api perjuangan Minke: melawan pembungkaman dan merebut kedaulatan informasi dari bawah.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 15 kali

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Kisah Susana Noni: Merajut Damai Lewat Sekeping Tanah

24 Juli 2026 - 16:51 WIB

Jalan Tol, Tanah Ulayat, dan Dialog Minangkabau

21 Juli 2026 - 05:40 WIB

Strategi ATM Moana Disney untuk Branding Desa Pesisir

10 Juli 2026 - 09:18 WIB

UU KIP: Senjata Transparansi atau Jebakan Batas Desa?

9 Juli 2026 - 19:14 WIB

Asta Cita atau Derita? Kala Sawah Desa Dikunci Sepihak

9 Juli 2026 - 16:52 WIB

Di Era AI, WhatsApp Gantikan Kertas Dinding Aspirasi Desa

26 Juni 2026 - 20:26 WIB

Trending di OPINI