Malang, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Suasana aula Desa Ardimulyo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, seketika hening. Puluhan peserta rapat serentak meletakkan tangan di dada sebelah kiri, meresapi detak jantung mereka sendiri atas instruksi pembicara di depan forum.
“Detak jantung yang kita rasakan hari ini adalah bukti bahwa ada ribuan detak jantung anak-anak di Singosari yang sedang kita perjuangkan masa depannya,” ucap salah satu pemateri, memecah kesunyian.
Momen emosional ini menjadi puncak Rapat Koordinasi Kader Pembangunan Manusia (KPM) dan Operator e-HDW Kecamatan Singosari. Lewat agenda triwulanan tersebut, para kader desa menegaskan bahwa perang melawan stunting tidak sekadar urusan administrasi, melainkan perjuangan nyata menyelamatkan masa depan bangsa.

Perjuangan di tingkat tapak ini menjadi krusial mengingat tantangan besar yang dihadapi Indonesia. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting nasional saat ini berada di angka 19,8 persen. Pemerintah pusat sendiri telah menetapkan target penurunan yang agresif: menjadi 18,8 persen pada tahun 2026, menembus 14,2 persen pada 2029, dan menyisakan maksimal 5 persen pada tahun 2045 demi menyambut visi Indonesia Emas.
Target besar tersebut mustahil tercapai tanpa keakuratan data di level desa. Oleh karena itu, rakor yang dihadiri oleh 28 KPM dari 14 desa, jajaran Camat Singosari, serta Tenaga Pendamping Profesional (TPP) ini fokus pada penguatan konvergensi berbasis data.
Kasi Pemerintahan Kecamatan Singosari, Slamet Sutiono, SH, yang hadir mewakili Camat, menekankan bahwa validitas input pada aplikasi e-HDW adalah harga mati. Aplikasi ini bukan sekadar alat pelapor digital, melainkan instrumen pemetaan kondisi ibu hamil dan balita berisiko stunting.
“Data e-HDW yang dimasukkan harus valid karena akan menjadi dasar rekomendasi penyusunan RKP Desa. Data yang benar akan menghasilkan kebijakan anggaran yang tepat sasaran,” tegas Slamet.
Satu kesalahan data di aplikasi dapat membuat keluarga miskin yang membutuhkan intervensi justru terlewat.
Sebaliknya, integrasi data yang solid diakui oleh Kepala Desa Ardimulyo, Riyanto, sebagai kunci utama keberhasilan kolaborasi di lapangan. Menurutnya, penanganan stunting tidak bisa bertumpu pada satu pihak saja.
“Keberhasilan pembangunan manusia di tingkat desa membutuhkan gerak bersama yang padu antara pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader, hingga sektor pemuda,” ujar Riyanto.

Gerakan bersama itu langsung mewujud dalam rakor kali ini melalui empat inovasi taktis yang disepakati bersama:
KPM Digital Squad: Gerakan pemanfaatan media sosial oleh para kader untuk menyebarkan edukasi gizi dan pola asuh sehat secara lebih luas.
Lomba Dapur Sehat Singosari: Kompetisi menyusun menu bergizi seimbang berbasis pangan lokal murah sebagai percontohan Pemberian Makanan Tambahan (PMT).
KPM Hero Award: Bentuk apresiasi berkala bagi kader yang menunjukkan akurasi data tertinggi dan pendampingan lapangan paling berdampak.
Duta Stunting Muda: Kolaborasi dengan Karang Taruna untuk melibatkan generasi muda dalam literasi kesehatan berbasis teknologi digital.
Langkah konkret dari Kecamatan Singosari mengirimkan pesan kuat ke seluruh penjuru negeri. Pembangunan manusia tidak harus selalu menunggu proyek makro dari pusat. Perubahan besar justru dimulai ketika seorang kader mengetuk pintu rumah warga, memastikan timbangan balita akurat, dan mengawal hak tumbuh kembang anak sejak dalam kandungan.
Indonesia Emas 2045 tidak akan berdiri di atas beton infrastruktur yang megah semata, melainkan di atas fondasi anak-anak desa yang tumbuh sehat, cerdas, dan bebas dari stunting.

Mochamad Fajar Kurniawan adalah Founder Forum Handarbeni Singhasari (FONDASI), CEO Raja Kebab Singosari dan Raja Ayam Geprek Singosari, serta anggota Tim Pendamping Profesional (TPP) Kecamatan Singosari sejak 2017. Alumni SMAN 3 Malang (BHAWIKARSU) dan Universitas Brawijaya ini juga menjadi Pembina Paguyuban Batik Singosari dan Paguyuban Batik Lawang.Jurnalis
Berbekal pengalaman sebagai mantan Pemimpin Redaksi sebuah tabloid di Kota Malang, ia aktif menulis tentang tata kelola pemerintahan desa, pemberdayaan masyarakat, ekonomi lokal, UMKM, pelestarian budaya, dan pembangunan berbasis potensi desa. Melalui tulisan dan kegiatan pendampingan, ia berkomitmen mendorong lahirnya desa-desa yang mandiri, inovatif, dan berkelanjutan.

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.