Menu ✖

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

PENDIDIKAN · 12 Jun 2026 10:35 WIB ·

Membangun SDM Desa, Investasi Lebih Berharga dari Beton


					Membangun SDM Desa, Investasi Lebih Berharga dari Beton Perbesar

Padang, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Jalan mulus dan jembatan kokoh mungkin memanjakan mata, namun bagi Ketua DPRD Sumatera Barat, Muhidi, itu bukan pencapaian puncak sebuah daerah. Di sela Pelatihan Konvensi Hak Anak (KHA) di Padang, Kamis (11/6/2026), ia melontarkan kritik reflektif: “Beton dan aspal bisa dibangun lalu selesai, tapi membangun SDM membutuhkan keterlibatan lintas generasi dan visi yang panjang.”

Bagi masyarakat di nagari-nagari Sumatera Barat, pesan ini adalah pengingat bahwa masa depan desa tidak ditentukan oleh seberapa lebar jalannya, melainkan oleh seberapa aman anak-anak di sana tumbuh. Untuk mewujudkan sekolah ramah anak dan desa layak anak, ada ratusan elemen yang harus dipenuhi—mulai dari sistem kelembagaan hingga pemenuhan hak sipil anak. Ini jauh lebih rumit daripada sekadar mengecor jalan, karena melibatkan perubahan cara pandang masyarakat terhadap tumbuh kembang generasi penerus.

Di nagari, lingkungan keluarga dan sekolah adalah pilar utama pembentukan karakter. Muhidi menekankan empat pilar penyangga: iman, akhlak, kasih sayang, dan ilmu pengetahuan. Keempatnya adalah “infrastruktur” tak kasat mata yang akan menentukan nasib Sumatera Barat 20 hingga 30 tahun ke depan. Jika anak-anak di pelosok nagari bisa belajar tanpa rasa takut dan tanpa bullying, maka potensi mereka akan meledak secara maksimal.

Langkah DPRD Sumbar melalui Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2021 memang telah mengokohkan perlindungan anak. Namun, status “layak anak” bukanlah garis finis. Ini adalah proses berkelanjutan yang menuntut setiap desa untuk berbenah. Sekolah ramah anak yang digalakkan di kota harus “menjalar” hingga ke pelosok kecamatan, memastikan bahwa setiap anak, termasuk mereka yang difabel atau terdampak bencana, mendapatkan hak yang sama.

Pada akhirnya, jalan dan jembatan akan retak dimakan waktu. Namun, generasi yang cerdas, berakhlak, dan berdaya saing adalah warisan yang tak akan lapuk. Saat pemerintah desa mulai beralih fokus dari sekadar membangun fisik menuju pembangunan jiwa, itulah saat di mana desa sesungguhnya sedang membangun peradaban. Inilah investasi paling mahal, yang dampaknya baru akan kita tuai saat beton-beton pembangunan hari ini telah lama tak lagi terlihat.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 42 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Gubernur Sumbar Dorong IMLA Perkuat Pembelajaran Bahasa Arab

25 September 2026 - 13:38 WIB

Guru Samarinda Dilatih Menangkal Penipuan Finansial Digital

23 September 2026 - 23:37 WIB

Lepas 340 Penerima Beasiswa Sawit, Gubernur Mahyeldi : Jangan Sia-siakan Kesempatan

22 September 2026 - 10:45 WIB

Di Tengah Demam AI, Guru Sumbar Butuh Perlindungan

5 September 2026 - 14:24 WIB

Bangkit dari Bawah: Pemulihan Gempa Ngada Berbasis Desa

4 September 2026 - 21:07 WIB

Kelurahan Cipayung dan Paramadina Buka Ruang Kolaborasi Global

1 September 2026 - 14:21 WIB

Trending di PENDIDIKAN