Rembang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Balita di pelosok desa kerap kali kalah sebelum bertanding melawan masa depan akibat ancaman tengkes yang mengintai pertumbuhan mereka. Menyadari risiko besar tersebut, Pemerintah Desa Kedungboto langsung bergerak cepat menggelar Musyawarah Rembug Stunting pada Selasa, 26 Mei 2026, di Balai Desa Kedungboto. Forum koordinasi lintas sektor ini tidak sekadar menjadi ruang pertemuan formal, melainkan sebuah komitmen krusial untuk melakukan aksi konvergensi demi percepatan penurunan stunting di tingkat desa.
Suasana balai desa mendadak dinamis saat bidan desa mulai memaparkan grafik data hasil penimbangan serta pengukuran balita dari seluruh posyandu. Dari sana, tabir masalah pelik pedesaan mulai terbuka lebar. Para kader posyandu yang menjadi ujung tombak di lapangan secara gamblang membeberkan fakta bahwa persoalan gizi buruk ini berakar dari tiga masalah utama: pola asuh keliru, buruknya akses sanitasi, hingga terbatasnya pangan bergizi bagi keluarga prasejahtera.

Hadir langsung dalam forum tersebut, Camat Limbangan, Sucipto, bersama Kepala Desa Kedungboto, Ina Kristiyani. Komponen penting lainnya seperti perwakilan Puskesmas, Ketua TP PKK Desa, perangkat desa, serta tokoh masyarakat juga duduk bersama merumuskan strategi intervensi. Langkah terpadu ini menempatkan data sasaran balita stunting dan balita berisiko stunting di desa sebagai prioritas utama yang harus diselamatkan.
Camat Limbangan, Sucipto, dalam arahannya menekankan bahwa penanganan stunting tidak akan pernah berhasil jika hanya dibebankan pada pundak tenaga kesehatan. Diperlukan kolaborasi intim yang melibatkan pemerintah desa, puskesmas, hingga unit terkecil yaitu keluarga. Berdasarkan kesepakatan konvergensi tersebut, Desa Kedungboto langsung mengunci sejumlah program aksi konkret, mulai dari intervensi pemberian makanan tambahan (PMT), pendampingan ketat bagi ibu hamil, hingga pembenahan infrastruktur kebersihan sanitasi dan penyediaan air bersih.
Pada akhir musyawarah, Kepala Desa Kedungboto, Ina Kristiyani, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak menjadi penonton pasif. Pembagian peran dan tanggung jawab bersama kini telah diketuk. Melalui Rembug Stunting Desa Kedungboto ini, target penurunan prevalensi stunting bukan lagi sekadar angka di atas kertas, melainkan langkah nyata mewujudkan generasi masa depan desa yang sehat, tangguh, dan cerdas.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.