Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

OPINI · 1 Mei 2026 06:10 WIB ·

Kunjungan Widiyanti Putri Wardhana ke Bukittinggi: Pesona Sudah Diakui, Kesiapan Masih Diuji


					Kunjungan Widiyanti Putri Wardhana ke Bukittinggi: Pesona Sudah Diakui, Kesiapan Masih Diuji Perbesar

Opini [DESA MERDEKA]-Kunjungan perdana Menteri Pariwisata ke Bukittinggi bukan sekadar agenda kerja dua hari. Ia adalah penanda—bahwa Sumatera Barat kembali masuk radar perhatian pusat, sekaligus cermin yang memperlihatkan wajah pariwisata daerah ini apa adanya: memesona, tetapi belum sepenuhnya siap.

Kekaguman terhadap Bukittinggi mudah dipahami. Kota ini bukan hanya indah secara visual, tetapi juga padat secara makna. Di jantungnya, Jam Gadang berdiri sebagai ikon yang melampaui fungsi estetika. Ia adalah simpul ingatan kolektif, tempat sejarah, identitas, dan ruang publik bertemu. Dari sudut pandang promosi, Bukittinggi memiliki hampir semua yang dibutuhkan untuk tampil sebagai destinasi unggulan: lanskap, budaya, dan narasi.

Namun justru di titik inilah ujian dimulai. Pesona yang diakui tidak otomatis berbanding lurus dengan kesiapan. Ambisi mendorong Jam Gadang menuju pengakuan UNESCO, misalnya, membuka ruang optimisme sekaligus pertanyaan. Pengakuan internasional bukan sekadar soal keindahan atau sejarah, melainkan konsistensi dalam pengelolaan: konservasi kawasan, tata ruang, hingga kapasitas institusi. Ketika pemerintah daerah masih memprioritaskan penyelesaian Geopark Silokek, publik melihat adanya strategi yang belum sepenuhnya padu—antara mengejar simbol global dan menyelesaikan fondasi lokal.

Di sisi lain, dorongan menghidupkan kembali Tour de Singkarak (TdS) pada 2027 menghadirkan narasi kebangkitan. Event ini pernah menjadi etalase internasional Sumatera Barat, menghubungkan keindahan alam dengan panggung olahraga dunia. Tetapi dunia pariwisata hari ini tidak lagi sama seperti satu dekade lalu. Kompetisi makin ketat, ekspektasi wisatawan makin tinggi, dan pengalaman yang ditawarkan harus lebih utuh. Menghidupkan kembali TdS bukan sekadar soal kalender, melainkan soal relevansi. Tanpa pembaruan konsep dan kesiapan lintas sektor, ia berisiko menjadi nostalgia yang mahal.

Masalah yang lebih mendasar terletak pada integrasi. Pernyataan bahwa pariwisata harus dikembangkan secara terintegrasi terdengar tepat, tetapi sekaligus mengisyaratkan kekurangan lama. Infrastruktur, konektivitas, dan akomodasi masih berjalan dengan logika masing-masing. Rencana penambahan landasan pacu di Kepulauan Mentawai sepanjang ratusan meter adalah contoh konkret: penting, tetapi belum cukup. Akses yang lebih mudah harus diimbangi dengan kesiapan destinasi—mulai dari kapasitas hotel hingga kualitas layanan. Tanpa itu, lonjakan kunjungan justru bisa menekan daya dukung kawasan.

Upaya mendorong Padang sebagai kota gastronomi dunia juga memperlihatkan dinamika serupa. Kuliner Minangkabau telah lama melintasi batas geografis, menjadi identitas yang dikenal luas. Namun pengakuan formal menuntut lebih dari sekadar reputasi. Ia membutuhkan ekosistem yang rapi: standardisasi, inovasi, hingga keberlanjutan pelaku usaha. Jika tidak, gastronomi hanya akan menjadi cerita lama yang terus diulang tanpa pembaruan makna.

Pada titik ini, Sumatera Barat tampak berada di persimpangan. Di satu sisi, ia memiliki kekuatan identitas yang kokoh—budaya, sejarah, dan lanskap yang khas. Di sisi lain, ia mencoba mengakselerasi diri melalui event dan pengakuan global. Keduanya bukan pilihan yang saling meniadakan, tetapi membutuhkan satu hal yang kerap luput: arah yang konsisten. Tanpa itu, pariwisata akan bergerak sporadis—ramai sesaat oleh event, lalu kembali sunyi setelahnya.

Kunjungan Menteri Pariwisata seharusnya menjadi lebih dari sekadar catatan kegiatan. Ia adalah momentum untuk menata ulang prioritas: dari sekadar mempromosikan pesona menjadi membangun kesiapan. Sebab dalam lanskap pariwisata global yang semakin kompetitif, keindahan bukan lagi pembeda utama. Yang membedakan adalah kemampuan mengelola keindahan itu menjadi pengalaman yang berkelanjutan.

Sumatera Barat tidak kekurangan daya tarik. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk berbenah secara menyeluruh—menyatukan infrastruktur, memperkuat tata kelola, dan memperjelas arah. Pesona telah diakui. Kini, kesiapanlah yang sedang diuji. (DA)

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 11 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Hentikan Pemujaan Tokoh Dalam Berita Kegiatan Desa

1 Mei 2026 - 07:12 WIB

Informasi Berkualitas Hak Mutlak Warga Desa

30 April 2026 - 14:30 WIB

Kapitalisme Rakus Bakal Menelan Habis Desa Pesisir Kita

29 April 2026 - 02:09 WIB

Jangan Cuma Jual Berita: Desa Wajib Ciptakan Peristiwa

27 April 2026 - 19:56 WIB

Stop Seremoni Mangrove: Jangan Jadikan Laut Desa Pemakaman Bibit

27 April 2026 - 07:16 WIB

Saat Suara Desa Terbungkam oleh “Akal Sehat” Kota

26 April 2026 - 16:32 WIB

Trending di OPINI