Menu ✖

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

POLITIK · 21 Apr 2026 06:59 WIB ·

Pasar Tradisional Sekarat: Jeritan Anak Pedagang Menggugat Khofifah


					Pasar Tradisional Sekarat: Jeritan Anak Pedagang Menggugat Khofifah Perbesar

​ Jombang, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Di balik megahnya angka pertumbuhan ekonomi Jawa Timur, tersimpan duka mendalam dari balik kios-kios pengap yang mulai ditinggalkan pembeli. Pasar tradisional, yang selama ini menjadi jantung ekonomi rakyat kecil, kini berubah menjadi zona perang. Para pedagang dipaksa bertarung melawan raksasa digital dan gurita mal modern tanpa perisai perlindungan dari negara.

Kegerahan ini memuncak saat Baret Mega Lanang, seorang penulis yang tumbuh dari rahim pasar tradisional di Jombang, meluapkan kemarahannya. Baginya, kondisi pasar yang kumuh dan bau adalah bukti nyata kegagalan pemerintah dalam memanusiakan ekonomi rakyat bawah.

“Kami Bukan Komoditas Politik!”
Baret menegaskan bahwa pedagang pasar muak hanya dijadikan objek kunjungan seremonial saat musim pemilihan. “Saya bicara sebagai anak yang dibesarkan dari recehan hasil pasar. Kami muak melihat pasar tradisional hanya dijadikan komoditas politik. Di lapangan, kami dibiarkan sekarat!” tegas Baret dengan nada emosional.

Menurutnya, membiarkan pasar rakyat hancur sama saja dengan membunuh pelan-pelan para petani dan nelayan desa yang menggantungkan hidup pada rantai pasok tradisional. Pemerintah dinilai terlalu asyik menggelar karpet merah bagi pemodal besar, sementara pasar rakyat dibiarkan becek, tidak teratur, dan menjijikkan bagi konsumen.

Empat Tuntutan Radikal untuk Penyelamatan
Situasi ini dianggap sebagai bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Baret secara terbuka menantang Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, untuk melakukan tindakan konkret, bukan sekadar menyatakan keprihatinan. Ada empat poin krusial yang didesak:

  • Audit Total Infrastruktur: Pasar harus bersih dan nyaman setara dengan mal.
  • Proteksi Perdagangan Digital: Regulasi yang melindungi pedagang lokal dari sapuan pasar online.
  • Jaminan Sosial Nyata: Akses BPJS dan jaminan kesehatan bagi pedagang yang bekerja dari fajar hingga senja.
  • Beasiswa Anak Pedagang: Memutus rantai kemiskinan agar profesi di pasar tidak menjadi warisan penderitaan.

Berpihak atau Berkhianat?
Kini, jargon “Optimis Jatim Bangkit” dipertaruhkan. Jika kondisi riil di pasar-pasar kumuh tetap diabaikan, jargon tersebut hanya akan menjadi slogan kosong bagi kasta ekonomi terbawah. Pasar tradisional adalah ruang hidup yang harus dijaga marwahnya.

Masyarakat kini menunggu langkah nyata Gubernur Jatim: apakah akan turun tangan menyelamatkan ekonomi rakyat, atau membiarkan pasar rakyat terkubur oleh hiruk-pikuk modernisasi yang tidak adil?

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 81 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Dilema Fiskal Malaka di Tengah Klaim Program Miliaran

27 Oktober 2026 - 08:43 WIB

Menembus Tembok Parlemen: Ikhtiar Politik Perempuan Minang

15 Oktober 2026 - 20:52 WIB

Mengapa Plh Kades Dukuh Subang Tebar Peringatan Netralitas?

8 Oktober 2026 - 18:45 WIB

Gelombang Gen Z Guncang Benteng Petahana Desa Tamansari

20 September 2026 - 18:26 WIB

Peta Senyap di Karanghaur: Menakar Realitas Politik Panggung Desa

16 September 2026 - 16:15 WIB

Kas Provinsi Seret, Pemprov Sumbar Sabet Retribusi Surfing Mentawai

15 September 2026 - 19:48 WIB

Trending di POLITIK