Sorong, Papua Barat Daya [DESA MERDEKA] – Bulan Ramadhan 2026 menjadi saksi bisu pecahnya kebuntuan komunikasi antar-kubu pemuda di provinsi termuda Indonesia. Bukan di ruang sidang yang kaku, melainkan di atas meja makan saat buka puasa bersama, para petinggi Caretaker DPD KNPI Papua Barat Daya (PBD) dari berbagai versi duduk berdampingan untuk merajut kembali persatuan yang sempat terbelah.
Pertemuan yang berlangsung di kediaman tokoh senior Fahmy Macap pada Rabu (18/03/2026) ini, bukan sekadar ritual ibadah. Acara ini bertransformasi menjadi “Meja Rekonsiliasi” bagi kubu Haris Pertama yang dipimpin Jois Kambu dan kubu Ryano Panjaitan. Keduanya sepakat menanggalkan ego sektoral demi satu tujuan: melahirkan KNPI yang sah secara hukum dan bersatu di bawah SK Kemenkumham RI.
Misi Penyatuan di Provinsi Termuda
Wakil Ketua Caretaker DPD KNPI PBD, Jonias Titus Ohoiner, menegaskan bahwa momentum ini adalah langkah strategis untuk membangun fondasi pemuda yang kokoh. “Fokus kami adalah rekonsiliasi. Kami ingin membangun persatuan yang nyata, bukan sekadar formalitas, demi agenda besar organisasi ke depan,” ujarnya lugas.
Senada dengan itu, Jois Kambu secara terbuka menyatakan kesiapannya untuk berkoordinasi intensif dengan kubu pimpinan Bung Dikson. Langkah koordinatif ini dinilai esensial sebagai prasyarat utama menuju pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) bersama yang inklusif dan demokratis.
Menuju Sejarah: Musda Perdana Papua Barat Daya
Pertemuan hangat ini juga menjadi sinyal kuat dimulainya tahapan Rapat Pimpinan Paripurna Daerah (Rapimpurda) dan Musda KNPI PBD yang perdana. Faisal Muslim Ishak Warwei, Wakil Sekretaris Caretaker, menekankan pentingnya dukungan dari elemen Cipayung Plus dan Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP/I).
“Kami ingin memastikan transisi kepemimpinan di provinsi baru ini berjalan tanpa sekat. Dukungan semua pihak sangat krusial agar kepengurusan definitif nanti mampu menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks,” jelas Faisal.
Restu Senior untuk Akselerasi Pembangunan
Fahmy Macap, sang tokoh senior yang menjadi tuan rumah, memberikan apresiasi tinggi. Baginya, melihat anak muda mengedepankan musyawarah adalah modal utama pembangunan. “Jika pemudanya solid, maka pembangunan di Papua Barat Daya akan memiliki akselerasi yang luar biasa,” tuturnya optimistis.
Diskusi yang berakhir dengan suasana kekeluargaan ini menandai babak baru bagi pergerakan pemuda di Papua Barat Daya. Dari meja makan, sebuah komitmen besar untuk menyatukan langkah demi kemaslahatan daerah telah resmi dipancangkan.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.