Padang, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) mengambil langkah cepat untuk mengamankan stok pangan hingga tiga bulan ke depan. Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah, resmi mengajukan permintaan suplai tambahan kepada Badan Pangan Nasional (Bapanas) guna membentengi cadangan pangan daerah dari ancaman inflasi pascabencana hidrometeorologi.
Langkah ini menjadi intervensi krusial mengingat Sumatera Barat sedang berada dalam tekanan ganda: pemulihan sektor pertanian yang hancur akibat bencana November lalu dan lonjakan permintaan menjelang Ramadhan serta Idul Fitri 2026.
“Kita sudah siapkan langkah intervensi strategis. Cadangan pangan harus cukup untuk tiga bulan ke depan agar tidak terjadi kelangkaan yang memicu lonjakan harga,” tegas Mahyeldi dalam High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Kantor Bank Indonesia Perwakilan Sumbar, Kamis (22/1/2026).
Dampak Bencana: Infrastruktur dan Pertanian Lumpuh
Bencana hidrometeorologi akhir tahun lalu bukan sekadar musibah fisik, melainkan ancaman ekonomi nyata. Kerusakan parah pada sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan secara otomatis memutus rantai distribusi dan menekan angka produksi lokal.
Data BPS menunjukkan bahwa sepanjang 2025, inflasi Sumbar didominasi oleh kelompok makanan dan minuman. Mahyeldi memperingatkan jika tidak segera dimitigasi, kondisi ini akan menjadi “bom waktu” inflasi saat memasuki bulan suci.
Strategi 2 Jalur: Serangan Jangka Pendek dan Panjang
Mahyeldi menawarkan dua pendekatan utama untuk menjaga dompet masyarakat tetap aman:
- Jangka Pendek: Fokus pada pengendalian harga pasar, operasi pasar murah, distribusi cadangan pangan Bapanas, dan pengawasan ketat terhadap spekulan atau penimbun barang.
- Jangka Panjang: Memperkuat ketahanan pangan daerah agar lebih tangguh menghadapi fluktuasi iklim dan bencana, sehingga Sumbar tidak lagi bergantung penuh pada pasokan luar saat krisis.
Waspada “Trio” Penyumbang Inflasi
Belajar dari siklus tahun 2024–2025, TPID Sumbar memberikan perhatian khusus pada tiga komoditas utama: cabai merah, bawang merah, dan beras. Ketiga barang ini selalu menjadi motor penggerak inflasi saat Ramadhan.
Selain operasi pasar, Pemprov Sumbar akan mengintensifkan komunikasi efektif kepada masyarakat guna mencegah panic buying. Sinergi dengan bupati, wali kota, dan Bank Indonesia diharapkan mampu menciptakan jaring pengaman ekonomi yang solid bagi warga Sumatera Barat selama periode hari besar keagamaan tahun ini.

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.