Menu ✖

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

RAGAM · 21 Jan 2026 16:59 WIB ·

Mr. Assaat: Menggugat Gelar Pahlawan untuk Presiden RI yang Terlupakan


					Mr. Assaat: Menggugat Gelar Pahlawan untuk Presiden RI yang Terlupakan Perbesar

Padang, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Sejarah Indonesia sering kali hanya menonjolkan dwitunggal Soekarno-Hatta, namun ada satu nama yang perannya sangat krusial dalam menyelamatkan eksistensi Republik: Mr. Assaat Datuak Mudo. Kini, Ikatan Keluarga Banuhampu (IKB) Pekanbaru secara resmi mengusulkan putra asli Agam ini sebagai Pahlawan Nasional, sebuah langkah yang mendapat dukungan penuh dari Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah.

Dukungan tersebut ditegaskan Mahyeldi di Istana Gubernuran, Rabu (21/1/2026). Menurutnya, Mr. Assaat bukan sekadar tokoh Minangkabau biasa, melainkan pemegang tonggak kepemimpinan tertinggi saat Indonesia berada di persimpangan jalan pasca Agresi Militer Belanda II.

“Beliau adalah tokoh strategis yang menjaga keberlangsungan Republik Indonesia. Mr. Assaat menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia Sementara pada masa Republik Indonesia Serikat (RIS),” ungkap Mahyeldi.

Menambal Mata Rantai Sejarah yang Hilang
Sudut pandang “Presiden yang Terlupakan” menjadi motor penggerak usulan ini. Ketua IKB Pekanbaru, Muhammad Hamdi, menekankan bahwa tanpa kepemimpinan Mr. Assaat pada 27 Desember 1949 hingga 15 Agustus 1950, Indonesia bisa saja jatuh kembali ke tangan penjajah akibat kekosongan kekuasaan saat Bung Karno dan Bung Hatta ditahan.

Meskipun namanya jarang menghiasi buku teks sejarah sekolah, peran Mr. Assaat sebagai penopang utama kedaulatan di Yogyakarta adalah fakta yang tak terbantahkan. Tak hanya di bidang politik, tokoh kelahiran Banuhampu, 18 September 1904 ini juga merupakan salah satu arsitek di balik berdirinya Universitas Gadjah Mada (UGM).

Tradisi Intelektual dan Perjuangan Minang
Gubernur Mahyeldi menambahkan bahwa pengusulan ini memperkuat posisi Sumatera Barat sebagai “pabrik” pahlawan nasional. Deretan nama seperti Mohammad Hatta, Sutan Syahrir, hingga Rasuna Said membuktikan bahwa tradisi intelektual dan semangat kebangsaan masyarakat Minangkabau sangatlah kuat.

“Pemerintah Provinsi Sumbar berkomitmen mengawal pengusulan ini hingga tingkat pusat. Ini adalah bentuk integritas kita dalam menghargai pejuang daerah,” tegasnya.

Sebagai langkah nyata, IKB Pekanbaru telah membentuk panitia khusus untuk menyusun biografi resmi dan melengkapi persyaratan administrasi. Mereka bahkan telah melakukan audiensi dengan Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, guna memastikan jasa Mr. Assaat Datuak Mudo mendapat pengakuan resmi yang sudah semestinya ia terima sejak lama.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 37 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Pasir Pantai Merah Putih Obi Dikeruk Ilegal, APH dan Pemda Didesak Bertindak

3 Oktober 2026 - 10:31 WIB

Bertahan di Ruas Kaputusan: Nestapa dan Resiliensi Warga

29 September 2026 - 16:06 WIB

Siasat Ekspor Mikro: Berhenti Berteori, Saatnya Menyambung Titik Cuan Desa

20 September 2026 - 16:09 WIB

Transportasi Desa Indari Disorot, Pemerintah Diminta Beri Solusi

17 September 2026 - 21:04 WIB

Ketika Mesin Digugat: Palagan Manusia di Pilkades Bantarjaya

17 September 2026 - 13:44 WIB

Tegaskan Bebas Tendensi Politik, LSM KANe Malut Buka Suara Soal Monitoring BLT dan Legalitas Organisasi

8 September 2026 - 06:13 WIB

Trending di RAGAM