Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

PEMDA · 19 Jan 2026 21:26 WIB ·

Surau Bambu Talang: Simbol Kemandirian Warga Padang Pascabencana Galodo


					Surau Bambu Talang: Simbol Kemandirian Warga Padang Pascabencana Galodo Perbesar

Padang, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] Di tengah bayang-bayang trauma banjir bandang (galodo) November 2025 lalu, warga Kampung Talang, Kelurahan Kapalo Koto, Kota Padang, justru menciptakan standar baru dalam pemulihan pascabencana. Alih-alih hanya menunggu bantuan pemerintah pusat, mereka bersinergi membangun Huntara Mandiri dan Surau Bambu dengan memanfaatkan potensi alam sekitar.

Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, yang hadir melakukan peletakan batu pertama pembangunan Surau Bambu Talang pada Senin (19/1/2026), mengaku takjub. Menurutnya, inisiatif ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan sebuah gerakan “revolusi kemandirian” masyarakat yang mengedepankan kearifan lokal di atas lahan seluas tiga hektare.

“Ini adalah bentuk pemulihan yang sangat autentik. Warga menggunakan kayu dan asbes untuk hunian, serta bambu untuk rumah ibadah. Ini bukti bahwa kearifan lokal masih menjadi senjata paling ampuh untuk bangkit dari bencana,” ujar Mahyeldi di hadapan warga dan relawan.

Bambu Sebagai Solusi Adaptif
Sudut pandang menarik dari proyek ini adalah penggunaan bambu sebagai material utama surau. Bambu dipilih bukan karena kekurangan bahan bangunan modern, melainkan sebagai bentuk adaptasi terhadap lingkungan yang rawan bencana hidrometeorologi.

Khalid Syaifullah dari Kelompok Pecinta Alam (KPA) Bias menjelaskan, pemberian nama Surau Bambu Talang merujuk pada material yang diambil langsung dari vegetasi sekitar. Penggunaan bambu dinilai lebih fleksibel, ramah lingkungan, dan memiliki nilai filosofis tinggi dalam menyatu dengan alam perbukitan Kecamatan Pauh.

Kolaborasi Lintas Lini
Keberhasilan membangun hunian bagi 10 kepala keluarga terdampak ini merupakan buah dari kolaborasi “pentahelix” yang nyata di lapangan:

  • Masyarakat Lokal: Sebagai penggerak utama dan pemilik lahan.
  • TNI & Babinsa: Memberikan dukungan teknis dan tenaga konstruksi.
  • Mahasiswa & Relawan: Menyumbangkan ide kreatif dan manajemen distribusi material.
  • Pemerintah Daerah: Memberikan dukungan administratif dan penguatan moril.

Gubernur Mahyeldi berharap, model pembangunan huntara mandiri ini menjadi percontohan bagi daerah lain di Indonesia. Bahwa di balik bencana, ada ruang untuk menumbuhkan kembali kehidupan sosial, budaya, dan spiritual yang lebih kuat dari sebelumnya.

Hadirnya infrastruktur ini memastikan bahwa meski raga berada di tempat pengungsian sementara, martabat dan nilai-nilai spiritualitas warga Kampung Talang tetap tegak berdiri di bawah atap bambu yang mereka anyam sendiri.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 33 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Sapi ‘Monster’ Limosin 1,05 Ton Kiriman Presiden Prabowo Tiba di Tulungagung

26 Mei 2026 - 16:46 WIB

Satlinmas Nagari Garda Amankan Pembangunan Desa Sumatera Barat

25 Mei 2026 - 20:57 WIB

Cetak Miliarder Digital Desa Lewat Nagari Creative Hub Sumbar

25 Mei 2026 - 20:49 WIB

Bupati Erwin Burase Pacu Kemandirian UMKM Desa Parigi Moutong

24 Mei 2026 - 22:02 WIB

Diaspora Minang Ditantang Bangun Kemandirian Nagari Sumbar

24 Mei 2026 - 21:59 WIB

Sinergi Diaspora Membangun Nagari Jadi Strategi Resmi Sumbar

24 Mei 2026 - 19:33 WIB

Trending di PEMDA