Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

SOSBUD · 19 Jan 2026 01:30 WIB ·

Dakwah Jalur Langit: Saat Milenial Tulungagung “Recharging” Spiritualitas


					Dakwah Jalur Langit: Saat Milenial Tulungagung “Recharging” Spiritualitas Perbesar

Tulungagung, Jawa Timur [DESA MERDEKA] Anggapan bahwa pengajian hanya didominasi oleh kalangan lanjut usia terpatahkan di Desa Tugu, Kecamatan Rejotangan. Dalam peringatan Isra Mi’raj yang digelar di Joglo Ngasho Sa Sirmu, Minggu (18/1/2026), ratusan kaum milenial justru membanjiri lokasi. Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran gaya hidup religi di mana pengajian kini menjadi ruang “recharging” mental dan ajang self-love melalui jalur langit.

Acara yang dikemas modern dengan tata cahaya (lighting) estetik dan audio menggelegar dari grup selawat “Janur Aji” sukses menyulap suasana pengajian menjadi sangat relevan dengan selera anak muda. Kehadiran Gus Amir, Gus Naseh, dan Ustadz Soim Alkasi yang membawakan dakwah secara santai namun berisi, membuat jemaah betah bertahan berjam-jam tanpa rasa bosan.

Wakil Bupati Tulungagung, H. Ahmad Baharudin, yang turut hadir dalam kesempatan tersebut, mengapresiasi sinergitas yang tercipta. Menurutnya, pembangunan Kabupaten Tulungagung tidak boleh hanya bertumpu pada infrastruktur fisik, tetapi juga harus menyentuh sisi mental dan spiritual masyarakat.

“Peringatan Isra Mikraj ini bukan sekadar rutinitas seremonial tahunan. Ini adalah kesempatan bagi kita semua untuk memperbarui semangat keimanan. Kami berharap masyarakat Desa Tugu terus bersinergi membangun daerah, baik secara fisik maupun mental,” ujar Baharudin di hadapan ratusan jemaah.

Inovasi Religi: Menjawab Tantangan Zaman
Kepala Desa Tugu, Didik Purno Nugroho atau yang akrab disapa Mbah Tugu, menegaskan bahwa kesehatan spiritual adalah fondasi keamanan daerah. Ia melihat kegiatan ini sebagai bentuk investasi jangka panjang bagi karakter warga desa. Jika spiritualitas masyarakat sehat, maka kedamaian dan kesejahteraan akan mengikuti dengan sendirinya.

Pesan mendalam juga disampaikan oleh Gus Soim Alkasi dalam tausiahnya. Ia menyentil fenomena sosial saat ini dengan menekankan bahwa menjadi pribadi yang “benar” jauh lebih utama daripada sekadar “pintar”.

“Banyak orang berilmu tapi tidak beradab. Di zaman penuh adu domba ini, tanyakan pada diri sendiri: apakah ketikan dan lisan kita sudah mencerminkan rahmat Nabi? Jika cinta Nabi, jadilah penyejuk, bukan penyulut api permusuhan,” tegas Gus Soim.

Acara yang dihadiri jajaran Forkopimcam Rejotangan ini membuktikan bahwa nilai-nilai Islam klasik tetap bisa bersinar di tengah gempuran modernitas. Dengan kemasan yang tepat, majelis ilmu terbukti mampu menjadi perekat sosial yang kuat bagi lintas generasi, sekaligus menjadi benteng karakter bagi anak muda di tengah kompleksitas tantangan zaman.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 107 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

UMKM Lokal Hidupkan Festival Kuliner 100 Tahun Jam Gadang

21 Juni 2026 - 22:20 WIB

Ritual Sedekah Gunung, Kekuatan Budaya Warga Desa Lencoh

18 Juni 2026 - 04:22 WIB

Muharam di Desa: Momentum Revolusi Mental dan Etos Kerja

17 Juni 2026 - 15:31 WIB

Mandeh Siti Manggopoh, Inspirasi Pembangunan Desa Agam Modern

16 Juni 2026 - 13:46 WIB

Prasasti Kuno Buktikan Akar Sejarah Literasi Desa Nusantara

14 Juni 2026 - 08:22 WIB

Batik Singosari: Dari Sebatang Lilin Menuju Pengakuan Nasional

14 Juni 2026 - 05:43 WIB

Trending di SOSBUD