Wonogiri [DESA MERDEKA] – Kabar gembira datang dari Wonogiri! Sejumlah petani di Desa Ngadipiro, Kecamatan Nguntoronadi, sejak sepekan terakhir ini mulai menikmati hasil jerih payahnya dengan memanen padi sawah. Sumarsih (49), seorang petani Dusun Kamplong, mengungkapkan rasa syukurnya atas hasil panen kali ini. “Semua butir padi yang berjatuhan kami masukkan ke dalam karung untuk dijemur,” katanya antusias.
Sumarsih memperkirakan, panen di wilayahnya yang mencapai 1.250 hektare tergolong cukup baik. Terlebih lagi, tanaman padi relatif aman dari serangan hama penyakit. Proses panen masih dilakukan secara tradisional, menggunakan sabit kecil untuk memotong batang-batang padi. Kemudian, batang padi yang terkumpul akan dirontokkan atau di-erek hingga bulir-bulir padi berjatuhan.

Mayoritas padi yang dipanen kali ini ditanam pada November 2023. Petani menggunakan dua jenis benih padi, yaitu padi lokal yang memiliki masa panen lebih singkat, sekitar 75 hingga 90 hari, serta benih unggulan dengan masa panen sekitar 105 hari setelah tanam. Pemilihan jenis padi usia pendek menjadi strategi petani setempat, yang sebagian besar mengandalkan tadah hujan, untuk menghindari risiko kekeringan.
Meskipun demikian, Sumarsih mengakui bahwa perhitungan untung rugi dalam bertani selalu menjadi tantangan. Biaya operasional yang meliputi pembajakan, pembelian benih, penanaman, pemeliharaan, pemupukan, hingga panen, memerlukan затраты yang tidak sedikit. Tenaga kerja laki-laki dibayar dengan upah uang, sementara tenaga perempuan mendapatkan upah berupa satu karung gabah per orang.

Tradisi unik juga mewarnai kehidupan petani Ngadipiro setelah panen. Gabah hasil panen umumnya dikeringkan terlebih dahulu, kemudian disimpan. Penyimpanan ini memiliki beberapa tujuan. Selain sebagai cadangan konsumsi sehari-hari, gabah juga menjadi solusi untuk memenuhi berbagai kebutuhan mendesak rumah tangga. Lebih dari itu, hasil panen juga memiliki fungsi sosial yang kuat. Masyarakat Ngadipiro memiliki tradisi menyumbangkan beras, antara 2 hingga 10 kilogram, sebagai bentuk solidaritas dalam berbagai acara seperti kelahiran, pernikahan, sunatan, hingga kematian.
Setelah panen padi, petani Ngadipiro memiliki tradisi turun temurun untuk memanfaatkan lahan yang masih basah dengan menanam kacang hijau dan kedelai. Upaya ini bukan hanya sebagai praktik ketahanan pangan keluarga, tetapi juga bertujuan untuk meningkatkan pendapatan ekonomi petani dari hasil tanaman selain padi. Semangat gotong royong dan kerja keras para petani terlihat jelas dari pagi hingga sore hari di sawah.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.