Batang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Di tengah gempuran budaya digital yang individualis, sekumpulan mahasiswa asal Batang yang menimba ilmu di Pekalongan justru memilih jalan pengabdian. Melalui komunitas Lemah Abang (Lesehan Mahasiswa Asal Batang di Pekalongan), mereka resmi melantik nakhoda baru untuk periode 2025-2026 di Aula Kecamatan Bandar, Sabtu (1/3/2025).
Pelantikan ini bukan sekadar seremoni pergantian jabatan, melainkan pernyataan sikap bahwa mahasiswa daerah adalah aset strategis yang tidak boleh “hilang” di tanah rantau. Slamet Khafidzin, ketua terpilih, menekankan bahwa jabatan ini adalah bentuk pengabdian sosial yang nyata, melampaui kepentingan akademik semata.
“Menjadi pengurus bukan soal gaya-gayaan jabatan. Lemah Abang harus menjadi rumah yang menghidupkan nalar kritis dan kontribusi sosial bagi mahasiswa Batang di Pekalongan,” ujar Slamet Khafidzin dengan penuh optimisme.

Melawan Arus Pragmatisme Mahasiswa
Sudut pandang menarik muncul dari Slamet Nurchamid selaku pembina. Ia melihat Lemah Abang sebagai laboratorium hidup bagi mahasiswa untuk menjadi agen perubahan (agent of change). Di saat banyak mahasiswa terjebak dalam pragmatisme indeks prestasi, Lemah Abang justru mendorong anggotanya untuk tetap “membumi” dan memikirkan nasib daerah asal mereka.
Sinergi ini diperkuat oleh Maezun, Sekretaris Forum Mahasiswa Batang se-Indonesia (FORKOMBI). Menurutnya, jaringan antarorganisasi mahasiswa daerah adalah kunci untuk membangun sumber daya manusia (SDM) yang berdedikasi. Tanpa kolaborasi, mahasiswa hebat hanya akan menjadi individu yang pintar secara personal, namun gagal secara sosial.
Solidaritas Alumni dan Estafet Kepemimpinan
Salah satu kekuatan unik Lemah Abang adalah keterlibatan aktif Forum Komunikasi Alumni (FOKAL). Dukungan alumni memastikan bahwa organisasi ini tidak kehilangan kompas moral dan sejarahnya. Meski alumni siap mendukung penuh, tanggung jawab besar untuk membawa organisasi ke level yang lebih tinggi tetap berada di pundak pengurus yang baru dilantik.
Usai prosesi pelantikan, pengurus langsung bergerak cepat menggelar Rapat Kerja (Raker). Fokusnya jelas: merancang program yang tidak hanya bermanfaat di internal organisasi, tetapi juga memiliki dampak langsung ke masyarakat.
Langkah awal ini menyisakan pertanyaan menarik: mampukah pengurus periode 2025-2026 ini mengubah “budaya lesehan” menjadi gerakan intelektual yang mampu mengubah wajah Kabupaten Batang di masa depan? Melihat semangat yang ada, optimisme itu terasa sangat nyata.

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.