Menu

Mode Gelap
Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi Bukan Seremoni, Desa Kambuno Rayakan Hari Desa dengan Aksi

OPINI · 6 Jun 2025 09:11 WIB ·

Transformasi Pesantren ke Dunia Kerja: Membangun Pilar Green Economy dari Pinggiran


					Transformasi Pesantren ke Dunia Kerja: Membangun Pilar Green Economy dari Pinggiran Perbesar

Oleh: Penta Peturun

(Staf Khusus Menteri Ketenagakerjaan RI)

 

Kampus Negeri Sakti, Harapan Baru dari Lembah Hijau

Matahari belum sepenuhnya naik di Negeri Sakti, Pesawaran. Kabut pagi masih menari di antara ladang kelapa dan pagar sekolah pesantren yang sepi. Namun di dalam aula Institut Teknologi dan Bisnis Diniyyah Lampung, gema suara masa depan sudah mulai bergema.

Hari itu, 4 Juni 2025, bukan sekadar upacara kuliah umum. Ia adalah upaya menyulam kembali urat nadi pendidikan, ketenagakerjaan, dan kemanusiaan yang selama ini compang-camping oleh ketimpangan, urbanisasi paksa, dan ketidakpastian kerja.

Saya menyampaikan satu hal,bahwa generasi siap kerja bukan hanya soal mengantongi ijazah, tapi tentang mengenali akar, berani tumbuh, dan mampu membaca arah angin zaman.

Pesantren dan Pabrik Masa Depan

Diniyyah Putri Lampung bukan pesantren sembarangan. Didirikan oleh perempuan pelopor, Hj. Halimah Syukur, lembaga ini telah menyeberang dari pendidikan keagamaan menuju gerakan pemberdayaan ekonomi berbasis nilai. Kampus ITB Diniyyah, yang lahir dari rahim pesantren ini, kini menjadi rumah bagi ilmu bisnis, teknologi, dan kewirausahaan.

Di tengah dunia yang dikuasai kecerdasan buatan dan algoritma tanpa akhlak, pesantren seperti Diniyyah adalah oase. Bukan hanya karena mengajarkan tafsir, tetapi karena ia mengerti akar rumput dan tetumbuhan lokal yang bisa tumbuh jadi kekuatan ekonomi bangsa.

Tenaga Kerja Lampung: Potensi dan Patah Harapan

Di Provinsi ini, dari pantai ke gunung, dari ladang ke pasar, potensi masih terserak. Pertanian menyumbang hampir 28% PDRB, tapi generasi muda banyak yang pergi ke kota, mencuci piring atau menjadi operator gawai. Angka pengangguran muda 17,9% dan lebih dari sepertiga lulusan tak bekerja sesuai keahliannya (Sakernas 2023).

Lampung menyimpan lima pintu peluang:

1. Hilirisasi Pertanian

2. Industri Halal

3. Digital Agribisnis

4. Ekowisata

5. Ekonomi Sirkular Berbasis Limbah

Dan kini bertambah satu, ‘Green Job’ – sebuah arah baru yang membawa semangat lingkungan ke dalam dapur rumah tangga dan lembar gaji rakyat kecil.

Green Job: Tenaga Kerja Hijau, Masa Depan Bersih

Menurut data Kementerian ESDM, KLHK, dan Bappenas, Lampung dapat menampung lebih dari 45.000 tenaga kerja di sektor pekerjaan hijau pada 2025. Pertanian organik, daur ulang limbah, energi terbarukan, dan industri eco-packaging adalah ladang baru. Tapi ladang ini tidak bisa digarap dengan bajak usang.

Ia butuh pelatihan. Ia butuh program. Ia butuh kehadiran negara.

Kemnaker, lewat Satpel BLK Lampung di bawah BPVP Serang, telah membuka jalur: pelatihan TIK, energi surya, tata boga halal, hingga pertanian organik di pesantren. BLK Komunitas bukan lagi sekadar tempat las dan montir, tetapi juga tempat menyemai petani baru dan pengusaha muda hijau.

Rekomendasi untuk Negara dan Umat

Bagi pesantren dan kampus, bangun green campus, kembangkan kurikulum agroekologi, buat inkubator bisnis hijau di setiap desa.

Bagi Kemnaker, bentuk BLK Hijau yang khusus mendampingi pelatihan kerja di sektor energi bersih dan circular economy. Permudah akses insentif sertifikasi untuk santri dan petani muda. Dan jangan lupa, data harus dibuka, dipetakan, dan disebarkan. “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”

Demikian pula kebijakan. Selama ia tidak menyentuh tanah, tidak menyentuh rakyat, ia hanya akan tinggal di lembar dokumen yang berdebu di rak kementerian.

Penutup: Dari Negeri Sakti ke Tanah Harapan

Kuliah umum itu bukan akhir, melainkan awal. Kita telah bicara soal pasar kerja, teknologi, dan santri. Tapi sejatinya, kita sedang bicara soal keberanian. Keberanian anak-anak pesantren untuk keluar dari pagar sekolah, dan masuk ke dunia kerja dengan kepala tegak dan tangan terampil.

Dan jika negara benar-benar hadir, maka bukan mustahil, dari ladang kelapa itu akan tumbuh pabrik daur ulang, dari surau kecil lahir teknopreneur lingkungan, dan dari meja belajar santri tercipta revolusi hijau yang kita rindukan bersama.

 

Catatan:

Tulisan ini merupakan narasi kuliah umum Penta Peturun di Kampus ITB Diniyyah Lampung

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 38 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Seni Jurnalisme Bernyawa: Senjata Manusia Melawan Dominasi AI

29 Maret 2026 - 13:52 WIB

Kiamat Bagi Wartawan Tukang Salin di Era Kecerdasan Buatan

28 Maret 2026 - 23:02 WIB

Seni Melawan Malas: Jurnalis Bukan Sekadar Mesin Fotokopi

27 Maret 2026 - 23:09 WIB

Dari Mafia Berkeley ke Sri Mulyani Cs.: Evolusi Pemikiran Ekonomi Pembangunan Indonesia

27 Maret 2026 - 15:55 WIB

Bahaya Laten Foto AI dalam Laporan Berita Desa

26 Maret 2026 - 14:53 WIB

Strategi Bengkel Desa: Cuan Melimpah di Jalur Lintas Provinsi

25 Maret 2026 - 20:17 WIB

Trending di OPINI