Padang, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Menghadapi era digital, gelar sarjana saja tidak lagi cukup untuk menjamin masa depan karier. Dalam Studium Generale di Universitas Andalas (Unand), Jumat (10/1/2025), Menteri Ketenagakerjaan RI, Prof. Yassierli, memberikan peringatan keras: 63 persen perusahaan kini terhambat oleh kesenjangan keterampilan digital karyawannya.
Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, yang hadir dalam acara tersebut, menyambut hangat “kepulangan” Menaker asal Minang ini. Bagi Mahyeldi, kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah sangat krusial untuk menekan angka pengangguran di Sumbar yang masih menjadi tantangan besar. Ia meyakini, penguasaan Artificial Intelligence (AI) dan soft skills adalah kunci utama bagi lulusan perguruan tinggi agar terserap maksimal di pasar kerja.
Rendahnya Daya Saing Tenaga Kerja Indonesia
Menaker Yassierli membedah fakta pahit mengenai kualitas tenaga kerja nasional. Saat ini, komposisi pekerja Indonesia masih terjebak di sektor informal dengan angka lebih dari 50 persen. Kondisi ini diperparah dengan Human Capital Index (HCI) Indonesia yang hanya menyentuh skor 0,53—tertinggal jauh dari negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand.
“Rendahnya produktivitas ini menjadi tantangan besar untuk bersaing di kancah global. Kita menghadapi tiga gelombang besar: AI, akses digital, serta sistem otonom,” ungkap Yassierli di depan ratusan mahasiswa di Convention Hall Unand.
Menyelaraskan Teknologi dengan Karakter
Alih-alih takut digantikan oleh mesin, lulusan universitas didorong untuk menjadikan AI dan big data sebagai mitra kerja. Namun, teknologi hanyalah alat. Yassierli menekankan bahwa pembeda utama manusia dengan robot adalah soft skills. Kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan adaptasi tetap menjadi fondasi yang tidak bisa digantikan oleh algoritma apa pun.
Pemerintah Provinsi Sumbar sendiri berencana menyerap masukan ini untuk merumuskan kebijakan ketenagakerjaan daerah yang lebih taktis. Dengan menghadirkan para rektor ternama seperti Efa Yonnedi (Unand) dan Martin Kustati (UIN IB Padang), acara ini menjadi momentum sinkronisasi antara kurikulum pendidikan dengan kebutuhan riil industri yang kini serba digital.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.