Opini [DESA MERDEKA] Supratiwi Amir S.Ds., M.Sn., Dosen Program Studi Desain komunikasi Visual ITK
Pertumbuhan jurnal ilmiah di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir pantas menjadi perhatian serius seluruh pemangku kebijakan pendidikan tinggi, akademisi, dan pembaca luas. Ledakan jumlah publikasi ini di satu sisi mencerminkan dinamika akademik yang meningkat, namun di sisi lain menimbulkan pertanyaan penting: apakah lonjakan publikasi itu benar-benar mencerminkan prestasi ilmiah, atau justru sekadar pemenuhan target administratif?
Data terbaru menunjukkan bahwa Indonesia menjadi salah satu kontributor terbesar jurnal open access di dunia. Per Maret 2025, jumlah jurnal Indonesia yang terindeks di Directory of Open Access Journals (DOAJ) mencapai 2.473 judul, melampaui negara-negara lainnya. Perkembangan ini mencerminkan investasi besar lembaga akademik dan universitas terhadap publikasi ilmiah yang terbuka dan dapat diakses secara luas.
Fenomena serupa juga terjadi di Institut Teknologi Kalimantan (ITK), menunjukkan perkembangan yang sangat signifikan dalam pengelolaan dan kemunculan jurnal ilmiah seperti Specta, Pikat, Ismateck, dan salah satu yang akan hadir adalah jurnal Dekaverse di Prodi Desain Komunikasi Visual ITK. Bukan sekadar peningkatan jumlah jurnal, hal ini mencerminkan tumbuhnya kesadaran sivitas akademika akan pentingnya publikasi ilmiah sebagai bagian integral dari tridarma perguruan tinggi.
Pertumbuhan jurnal ilmiah dapat dipahami sebagai respons atas dinamika kebijakan pendidikan tinggi yang menempatkan riset dan publikasi sebagai indikator kinerja utama. Dosen dan institusi didorong untuk tidak hanya menghasilkan penelitian, tetapi juga memastikan hasil riset tersebut terdokumentasi, tervalidasi, dan dapat diakses oleh publik ilmiah. Dalam konteks ini, jurnal ilmiah berperan sebagai ruang legitimasi keilmuan sekaligus sarana diseminasi pengetahuan.
Namun, fenomena ini tidak berdiri semata pada dorongan regulatif. Munculnya banyak jurnal khususnya di ITK juga menandai meningkatnya kapasitas akademik dan kepercayaan diri institusi dalam mengelola pengetahuan secara mandiri. Program studi mulai melihat jurnal bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan sebagai identitas keilmuan dan wadah penguatan ekosistem riset yang relevan dengan kebutuhan regional, khususnya Kalimantan sebagai kawasan strategis nasional.
Di sisi lain, pertumbuhan yang cepat ini menghadirkan tantangan serius, terutama terkait kualitas pengelolaan jurnal. Konsistensi penerbitan, mutu artikel, proses peer review, serta etika publikasi menjadi isu krusial yang tidak dapat diabaikan. Jurnal ilmiah bukan hanya soal terbit atau tidak, tetapi tentang kredibilitas, integritas akademik, dan kontribusi nyata terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.
Oleh karena itu, fenomena menjamurnya jurnal perlu diiringi dengan penguatan kapasitas sumber daya manusia, pendampingan tata kelola jurnal, serta komitmen terhadap standar ilmiah nasional dan internasional. Kolaborasi dengan komunitas pengelola jurnal, pemanfaatan teknologi pengelolaan jurnal berbasis open access, dan budaya menulis yang sehat menjadi kunci agar kuantitas pertumbuhan sejalan dengan kualitas.
Pada akhirnya, meningkatnya jumlah jurnal ilmiah di Indonesia, khususnya di ITK, adalah sinyal positif bagi masa depan akademik institusi. Jika dikelola dengan serius dan berkelanjutan, jurnal-jurnal tersebut tidak hanya akan menjadi sarana publikasi, tetapi juga motor penggerak lahirnya gagasan, inovasi, dan solusi berbasis riset yang berakar pada konteks lokal dan berdampak secara nasional. Namun, tantangan mutu publikasi tetap harus menjadi fokus utama.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.