Jombang, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Narasi lama yang menganggap jabatan kepala desa (kades) hanya sebagai urusan administratif di tingkat bawah kini mulai bergeser. Dalam Silaturahim Nasional Santri Vokasi dan Rakornas BLK Komunitas di Jombang, Wakil Ketua DPR RI Bidang Korkesra, Abdul Muhaimin Iskandar (Gus Muhaimin), menyerukan gerakan besar agar para santri dan anak muda berpendidikan tinggi tidak ragu “berebut” kursi kepala desa.
Gus Muhaimin menegaskan bahwa kepemimpinan desa adalah titik awal yang sangat strategis untuk mengelola pembangunan nasional secara nyata. Menurutnya, jiwa keikhlasan dan integritas yang ditempa di pesantren merupakan aset paling mahal yang dibutuhkan untuk mengelola dana desa langsung dari pusat.
“Santri harus siap merebut jabatan, minimal kepala desa. Ini penting karena orang-orang yang memiliki keikhlasan harus mengambil peran kepemimpinan demi kemaslahatan rakyat,” tegas Gus Muhaimin di hadapan para santri, Minggu (13/8).
Kepala Desa: Karier Strategis untuk Sarjana
Senada dengan hal tersebut, Menteri Desa PDTT, Abdul Halim Iskandar (Gus Halim), sebelumnya juga memberikan tantangan serupa kepada para mahasiswa. Ia mengubah perspektif bahwa lulusan universitas tidak harus mencari kerja di kota besar, melainkan pulang untuk menjadi motor penggerak di desa masing-masing.
Gus Halim meyakini bahwa latar belakang pendidikan yang kuat pada seorang kepala desa adalah jaminan bagi kemajuan sebuah wilayah. Jika kades memahami manajemen modern dan memiliki kapasitas intelektual yang baik, maka tata kelola keuangan desa akan jauh lebih transparan dan produktif.
“Saya akan sangat senang jika ada sarjana yang berkompetisi menjadi kepala desa. Saya yakin seyakin-yakinnya, jika kepala desanya punya latar belakang pendidikan bagus, desanya pasti maju,” tutur Gus Halim.
Menghapus Stigma Jabatan Desa
Sudut pandang “pulang kampung” untuk menjadi pejabat desa ini diharapkan dapat memutus rantai pengelolaan desa yang sekadar berdasarkan senioritas tanpa inovasi. Jabatan kades kini dipandang sebagai posisi mulia yang menuntut kompetensi kepemimpinan, komitmen melayani, dan keberanian dalam mengelola anggaran negara secara berkelanjutan.
Gus Muhaimin mengingatkan agar momentum pemilihan kepala desa tidak dilewatkan begitu saja oleh kaum santri. Kehadiran mereka di birokrasi paling dasar adalah langkah awal menuju jenjang kepemimpinan yang lebih tinggi, mulai dari bupati, gubernur, hingga level presiden.
“Jangan sampai bukan santri yang mengelola pembangunan nasional. Jabatan kades itu mulia dan kelak akan bertanggung jawab secara penuh dalam perilaku pembangunan,” pungkas Gus Muhaimin.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.