[DESA MERDEKA] – Bagi sebagian besar desa di Indonesia, membangun Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang mapan adalah sebuah jalan sunyi yang panjang. Tengok saja BUMDes Tirta Mandiri di Desa Ponggok, Klaten, atau BUMDes Sumber Sejahtera di Pujon Kidul, Malang. Mereka harus merangkak dari bawah, mengumpulkan rupiah demi rupiah dari iuran air bersih warga atau tiket wisata recehan, hingga butuh waktu hampir satu dekade untuk mencetak Pendapatan Asli Desa (PADes) miliaran rupiah.
Namun, cerita berbeda datang dari bentang alam seluas 44.736 hektar di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Desa Sungai Payang, yang pada 2017 masih menyandang status Desa Sangat Tertinggal, berhasil memotong kompas sejarah. Memanfaatkan letak geografisnya yang berada di lingkar industri ekstraktif, desa ini melakukan “jalan pintas” finansial melalui BUMDes Payang Sejahtera.
Tidak tanggung-tanggung, sepanjang periode 2019-2025, BUMDes ini sukses membukukan omzet kumulatif fantatistis sebesar Rp115,11 miliar. Sebuah lompatan finansial yang mustahil diraih dalam waktu singkat tanpa adanya ekosistem captive market (pasar terikat).
Cetak Biru Klasemen Papan Atas
Meski angka omzetnya terlihat seperti anomali, pola yang diterapkan oleh BUMDes Payang Sejahtera sebenarnya 100% identik dengan rekam jejak BUMDes klasemen papan atas di Indonesia. Ada tiga zona evolusi yang wajib dilewati: mengunci mesin uang monopoli, menahan hasrat bagi-bagi keuntungan demi reinvestasi, dan terakhir, mendistribusikan kesejahteraan sosial.
Di fase awal, jika Ponggok memonopoli kekayaan air alaminya dan BUMDes Niagara Bandung mengunci retribusi pasar desa, maka Payang Sejahtera mengunci kontrak Business-to-Business (B2B) dengan PT Multi Harapan Utama (MHU). Mereka mengambil alih sektor jasa korporat, mulai dari katering logistik, transportasi, hingga konstruksi. Hasilnya, omzet tahunan mereka melesat dari Rp4,67 miliar di tahun 2019 menjadi Rp27,67 miliar pada tahun 2023.
Namun, ujian sejati sebuah BUMDes bukanlah saat mereka mencari uang, melainkan saat mereka membelanjakannya. Banyak BUMDes gagal karena terburu-buru membagikan laba murni untuk bantuan sosial instan demi popularitas politik lokal. Payang Sejahtera memilih patuh pada aturan main BUMDes elite: Kanibalisme Modal.
Dari total omzet ratusan miliar tersebut, kontribusi bersih yang disetor ke PADes “hanya” sebesar Rp1,68 miliar. Ke mana sisa uangnya? Pengelola menolak membagikan uang tunai massal ala BUMDes Ponggok era modern. Menggunakan pendekatan Sustainable Livelihood Approach (SLA), sisa keuntungan kotor disuntikkan kembali untuk membangun benteng pertahanan ekonomi menghadapi masa pascatambang.
Menjinakkan “Kutukan Sumber Daya”
Sektor jasa tambang memiliki tanggal kedaluwarsa. Ketika batubara habis dikeruk, seluruh kontrak katering dan transportasi akan langsung terhenti.
Menyadari risiko resource curse ini, BUMDes Payang Sejahtera mengalihkan kapitalisme tambang untuk menghidupkan sektor ril yang bisa diperbarui.
Modal jumbo dari tambang dialihkan untuk mendirikan unit usaha perikanan dan pengelolaan perkebunan—dua sektor produsen yang pasokannya lestari dan pasarnya abadi selama manusia butuh makan.
Tidak hanya itu, mereka menginvestasikan dana tersebut ke dalam aset infrastruktur jangka panjang berupa fasilitas pengolahan air (Water Treatment Plant) Kuntap dan E-West yang kini menyuplai air bersih ke 642 kepala keluarga.
Kesejahteraan yang ditawarkan pun bukan berupa subsidi premi asuransi atau pembagian THR warga, melainkan ketersediaan lapangan kerja. Sebanyak 195 warga lokal diserap langsung menjadi pekerja. Ibu-ibu desa yang dulunya tidak produktif kini memiliki slip gaji bulanan dari unit katering, sementara para pemuda desa berdaya sebagai operator logistik.
Melalui strategi penahanan modal ini, status Desa Sungai Payang berhasil meroket dari sangat tertinggal menjadi Desa Maju. Mereka membuktikan bahwa kedekatan dengan korporasi tambang tidak selalu berakhir menjadi penonton di tanah sendiri.
BUMDes Payang Sejahtera sedang berada di jalur evolusi yang tepat. Mereka menggunakan masa emas pertambangan sebagai booster modal dan ruang pelatihan SDM. Ketika korporasi kelak pergi dan mesin-mesin keruk berhenti menderu, Desa Sungai Payang dipastikan tidak akan kolaps. Mereka telah berhasil mengubah ketergantungan jasa ekstraktif menjadi kemandirian ekonomi desa produsen yang sesungguhnya.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.