Banyumas, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Krisis air bersih di Kabupaten Banyumas kian meluas menyusul hantaman fenomena ekstrem El Niño Godzilla. Hingga Jumat (9/10/2026), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas mencatat kekeringan telah mengeringkan sumur-sumur di 85 desa yang tersebar di 22 kecamatan.
Meski bantuan darurat berupa droping air rutin dilakukan—termasuk penyaluran dua tangki air oleh Wakil Bupati Dwi Asih Lintarti di Desa Kalitapen, Kecamatan Purwojati—warga dan pengamat mengingatkan bahwa penanganan struktural jauh lebih mendesak ketimbang sekadar bantuan tangki musiman.
Terjebak di Atas Batuan Kapur dan Bukit Curam
Krisis yang dialami puluhan ribu warga Banyumas ini sebenarnya bukan sekadar persoalan absennya hujan, melainkan dampak dari kendala geografis yang akut. Wilayah seperti Kecamatan Purwojati, Cilongok, Sumpiuh, dan Tambak berada di zona perbukitan dengan karakteristik batuan sedimentasi dan kapur (karst) yang minim kemampuan menyimpan cadangan air tanah dalam.

Saat kemarau panjang tiba, sumber air permukaan (mata air) menyusut drastis, sementara sumur gali warga langsung mengering karena air tanah lolos ke lapisan batuan terdalam yang tidak terjangkau pompa biasa.
“Daerah kami memang perbukitan. Kalau kemarau, mencari air harus turun ke lembah atau menunggu bantuan tangki. Sumur bor biasa sering gagal keluar air karena terbentur lapisan batu,” keluh salah satu warga terdampak.
Dampak Meluas ke Sekolah dan Puskesmas
Berdasarkan data terbaru BPBD Banyumas, krisis hidrometeorologi ini telah menyengsarakan sedikitnya 22.162 kepala keluarga (KK) atau setara 76.425 jiwa. Hingga saat ini, armada tangki telah menggelontorkan lebih dari 6 juta liter air bersih.
Ironisnya, kekeringan tidak lagi hanya melumpuhkan rumah tangga. Fasilitas publik mulai rontok: 13 sekolah, 3 puskesmas, dan 2 fasilitas umum kini dilaporkan kesulitan beroperasi normal akibat ketiadaan sanitasi yang layak. Kepala BPBD Banyumas, Dwi Irawan Sukma, memperingatkan krisis ini bisa bertahan sangat lama.
“Ini adalah musim El Niño Godzilla. Kemarau diperkirakan bisa mencengkeram hingga Februari depan. Kami bersiaga penuh dari pagi sampai pagi lagi,” ujar Irawan.
Butuh Solusi Struktural, Bukan Sekadar Seremoni
Meski Wakil Bupati Lintarti menyatakan komitmennya bahwa Pemkab akan terus menggelontorkan bantuan air hingga kemarau usai, pendekatan jangka pendek ini mulai dikritik. Mengandalkan ritase truk tangki (yang sudah mencapai 1.314 rit) dianggap hanya “memadamkan kebakaran” sesaat tanpa menyelesaikan akar masalah.
Masyarakat dan para ahli tata ruang mendesak Pemkab Banyumas untuk mulai beralih ke solusi permanen berbasis geografis wilayah, seperti:
- Pembangunan Jaringan Pipa Air Bersih Terintegrasi dari sumber air Gunung Slamet untuk menyuplai wilayah perbukitan selatan yang kering.
- Pembuatan Embung atau Waduk Retensi di wilayah tangkapan air perbukitan untuk menampung air hujan saat musim basah.
- Pemberian Subsidasi Sumur Bor Dalam (Deep Well) berbasis geolistrik agar tidak gagal menembus batuan keras pelindung akuifer.
Tanpa adanya cetak biru penanganan struktural berbasis kondisi geografis ini, puluhan ribu warga Banyumas dipastikan akan terus terjebak dalam ritual tahunan yang sama: mengantre jeriken di bawah jepretan kamera pejabat, tahun demi tahun.

Nanang Anna Noor, Jurnalis berpengalaman di media cetak,online dan televisi. Nanang Anna Noor juga seorang aktor film dan penyair Indonesia.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.