Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

POLITIK · 14 Agu 2023 16:37 WIB ·

Saatnya Santri Jadi Kepala Desa, Ubah Wajah Indonesia


					Saatnya Santri Jadi Kepala Desa, Ubah Wajah Indonesia Perbesar

Jombang, Jawa Timur [DESA MERDEKA] Jombang tidak hanya sedang membicarakan masa depan pesantren, melainkan cetak biru baru pembangunan nasional dari level paling bawah. Anggapan kuno bahwa kursi kepala desa (kades) hanyalah tempat bernaung para tetua kampung kini resmi digugat.

Dalam riuh Silaturahim Nasional Santri Vokasi dan Rakornas BLK Komunitas di Jombang, Wakil Ketua DPR RI Bidang Korkesra, Abdul Muhaimin Iskandar, melempar sebuah manifesto berani: kaum santri dan anak muda berpendidikan tinggi harus turun gelanggang dan “berebut” kursi kepala desa.

Langkah ini bukan sekadar urusan cari kerja, melainkan strategi mutakhir untuk memastikan dana desa dikelola oleh tangan-tangan yang memiliki integritas dan keikhlasan khas pesantren. Jabatan kades adalah titik awal paling strategis untuk memegang kendali pembangunan nasional secara riil. Kaum santri harus mengambil peran kepemimpinan ini demi kemaslahatan rakyat luas.

“Santri harus siap merebut jabatan, minimal kepala desa. Ini penting karena orang-orang yang memiliki keikhlasan harus mengambil peran kepemimpinan,” tegas pria yang akrab disapa Gus Muhaimin tersebut.

Gagasan out of the box ini seirama dengan kegelisahan Menteri Desa PDTT, Abdul Halim Iskandar. Gus Halim sejak awal menantang arus urbanisasi dengan meminta para lulusan universitas berhenti berjejalan mencari kerja di kota besar. Sudah saatnya mereka pulang kampung dan menjadi motor penggerak ekonomi desa.

Logikanya sederhana namun mematikan: jika seorang kades paham manajemen modern dan memiliki kapasitas intelektual mumpuni, maka tata kelola keuangan desa otomatis akan jauh lebih transparan, akuntabel, dan produktif. Kehadiran pemimpin muda berpendidikan adalah garansi mutlak bagi kemajuan sebuah wilayah.

Gerakan “pulang kampung” untuk memimpin ini diharapkan mampu memutus rantai birokrasi desa yang selama ini kerap berjalan monoton tanpa inovasi akibat jebakan senioritas. Kursi kades harus dilihat sebagai posisi mulia yang menuntut kompetensi, kepemimpinan modern, serta keberanian mengelola anggaran negara.

Bagi kaum santri, birokrasi desa adalah kawah candradimuka. Memulai karier politik dari tingkat dasar merupakan pijakan kokoh menuju jenjang kepemimpinan yang lebih tinggi, mulai dari bupati, gubernur, hingga presiden. Jangan sampai posisi krusial dalam menentukan arah pembangunan nasional ini justru jatuh ke tangan yang salah. Pemimpin desa masa depan adalah mereka yang siap bertanggung jawab penuh atas kesejahteraan warganya.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 41 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Gelombang Gen Z Guncang Benteng Petahana Desa Tamansari

20 September 2026 - 18:26 WIB

Peta Senyap di Karanghaur: Menakar Realitas Politik Panggung Desa

16 September 2026 - 16:15 WIB

Fraksi PDI Perjuangan-PKB Sampaikan Pandangan Umum terhadap Ranperda Perubahan APBD Sumbar 2026

15 September 2026 - 19:48 WIB

Saat Sirene Pemilu Padam, Advokasi Kaum Akar Rumput Menyala

30 Juli 2026 - 22:23 WIB

PDI-P Dorong Ronaldo Asury Maju Pilkada Malaka 2030

26 Juli 2026 - 14:23 WIB

Membangun Sumatra Barat dari Kekuatan Identitas Budaya Nagari

19 Juli 2026 - 21:50 WIB

Trending di POLITIK