Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

OPINI · 18 Mar 2025 19:58 WIB ·

Jurus AISAS: Ubah Mudik Lebaran Jadi Cuan Desa Wisata


					Jurus AISAS: Ubah Mudik Lebaran Jadi Cuan Desa Wisata Perbesar

Opini [DESA MERDEKA] Tradisi mudik Lebaran bukan sekadar ritual pulang kampung, melainkan pergeseran ekonomi raksasa dari kota ke desa. Bagi pengelola desa wisata, momen ini adalah “gelanggang pertarungan” untuk berebut perhatian jutaan pemudik. Pertanyaannya, siapkah desa Anda menangkap peluang ini, atau hanya akan menjadi penonton di tengah kemacetan?

Kunci keberhasilannya bukan lagi sekadar spanduk di pinggir jalan, melainkan penerapan model strategi AISAS (Attention, Interest, Search, Action, Share). Strategi ini menggeser cara lama pemasaran desa yang cenderung pasif menjadi ekosistem digital yang agresif dan terukur.

Rebut Perhatian Sejak dari Gawai (Attention & Interest)
Langkah pertama dimulai jauh sebelum pemudik menginjakkan kaki di desa. Di era digital, visual adalah “mata uang” utama. Konten media sosial yang menonjolkan arsitektur tradisional atau proses pembuatan kerajinan lokal harus mampu mencuri perhatian (Attention) di tengah riuhnya timeline pengguna.

Setelah perhatian didapat, ikat mereka dengan minat (Interest). Tonjolkan pengalaman otentik yang hanya ada saat Lebaran, seperti tradisi makan bersama di sawah atau festival budaya lokal. Narasi yang dibangun harus menyentuh emosi: “Pulang bukan sekadar mudik, tapi merayakan tradisi.”

Search: Pastikan Desa Anda “Ada” di Peta Digital
Salah satu titik lemah desa wisata adalah minimnya informasi di mesin pencari. Ketika pemudik mencari tempat liburan keluarga di kampung halaman (Search), website desa harus hadir dengan informasi lengkap: detail lokasi, rute peta digital, harga paket, hingga kontak yang responsif. Tanpa jejak digital yang kuat, desa wisata dianggap tidak ada.

Mudahkan Transaksi dan Sebar Pengalaman (Action & Share)
Dorong calon pengunjung untuk segera bertindak (Action). Sistem reservasi online dan paket promosi khusus Lebaran menjadi magnet penarik. Pastikan proses pemesanan semudah memesan kopi di mal.

Terakhir, ciptakan pengalaman yang layak masuk Instagram (Share). Spot foto estetis dan penggunaan tagar (hashtag) khusus bukan sekadar gaya-gayaan, melainkan alat promosi gratis. Ulasan positif dan foto yang diunggah pengunjung di media sosial mereka adalah “iklan” paling tepercaya bagi calon wisatawan berikutnya.

Kesimpulan: Menuju Kedaulatan Ekonomi Desa
Penerapan strategi digital yang terintegrasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk membangun kedaulatan ekonomi lokal. Dengan memaksimalkan potensi mudik melalui strategi AISAS, desa wisata tidak hanya menyuguhkan pemandangan, tetapi juga pengalaman yang berputar menjadi kesejahteraan bagi warga desa.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 47 kali

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Gotong Royong Digital di Balik Lagu Mas Bahlil Ganteng

1 Juni 2026 - 20:35 WIB

Keadilan Kurban: Mengalirkan Berkah Hingga ke Pelosok Desa

29 Mei 2026 - 21:01 WIB

Kurban Negara: Antara Keadilan Sosial dan Ekonomi Desa

29 Mei 2026 - 15:32 WIB

Membongkar Jurnalisme Feodal dalam Narasi Pembangunan Desa

29 Mei 2026 - 14:08 WIB

Bahaya Fenomena Candu Seremoni dalam Komunikasi Pembangunan Desa

28 Mei 2026 - 17:45 WIB

Sapi Kurban Presiden: Jejak Ekonomi di Kandang Desa

28 Mei 2026 - 14:51 WIB

Trending di OPINI