Menu ✖

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

EKONOMI BISNIS · 8 Feb 2026 07:01 WIB ·

Yoan Hidroponik: Dari Ejekan Hingga Sukses Kelola 1.500 Lubang


					Yoan Hidroponik: Dari Ejekan Hingga Sukses Kelola 1.500 Lubang Perbesar

Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah [DESA MERDEKA] – Di tengah skeptisisme terhadap dunia pertanian di kalangan generasi muda, Yoan (32), seorang pemuda dari Desa Sei Asem, Kapuas Hilir, justru membuktikan bahwa bertani bisa menjadi jalan ninja menuju sukses ekonomi. Melalui bendera Yoan Hidroponik, ia berhasil mengubah rasa ingin tahu menjadi mesin uang dengan mengandalkan teknologi pertanian modern tanpa tanah.

Langkah Yoan tergolong berani. Memulai dari modal terbatas dan belajar secara otodidak melalui media daring, kini ia telah mengelola sekitar 1.500 lubang tanam hanya dalam waktu lima bulan. Sayuran segar seperti selada dan seledri miliknya kini menjadi primadona yang dipanen setiap pagi untuk memenuhi permintaan pasar yang kian meningkat.

Mental Baja: Pernah Ditolak Pasar
Kesuksesan Yoan tidak datang dalam semalam. Di masa awal rintisannya, hasil panennya sering kali ditolak mentah-mentah oleh calon pembeli. Namun, alih-alih menyerah, penolakan tersebut ia jadikan bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas produksi dan teknik pengepakan.

“Semua bermula dari rasa ingin tahu dan keberanian untuk mencoba,” ujar Yoan saat ditemui di sela aktivitas panennya, Sabtu (7/2/2026). Kegigihan ini membuahkan hasil; kini ia tidak lagi mencari pembeli, melainkan pembeli tetap yang datang mencarinya karena kualitas sayuran yang konsisten dan higienis.

Bertarung Melawan Cuaca dan Angin
Tantangan terbesar yang dihadapi Yoan bukanlah hama, melainkan faktor cuaca ekstrem di Kapuas Hilir. Angin kencang sering kali merobek plastik UV yang melindungi instalasi hidroponiknya. Kerusakan fisik ini tentu berdampak pada biaya produksi dan jadwal panen. Namun, Yoan tetap konsisten memelihara instalasinya demi menjaga kepercayaan pelanggan.

Dampak Ekonomi bagi Masyarakat Desa
Menariknya, usaha ini kini tidak lagi dikelola Yoan seorang diri. Ia melibatkan anggota keluarga dan masyarakat sekitar dalam proses panen hingga pengepakan. Hal ini menciptakan ekosistem ekonomi lokal yang baru di Desa Sei Asem.

Yoan berharap langkah kecilnya ini bisa memicu gairah bertani modern bagi pemuda desa lainnya. Ia membuktikan bahwa dengan smartphone di tangan dan kemauan belajar, pemuda desa bisa menjadi pengusaha sukses tanpa harus merantau ke kota besar.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 32 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Membedah “Karpet Merah” Ekosistem Kendaraan Listrik di Ranah Minang

2 Oktober 2026 - 15:22 WIB

Paramadina Dorong Pemuda Cerdas Finansial dan Amankan Data

3 September 2026 - 06:03 WIB

Wisata Halal Sumbar: Berkah Kota Besar, Nagari Penonton

28 Agustus 2026 - 21:36 WIB

Warung Pangan ID Food Diperluas, Pasar Tradisional Didorong Putus Rantai Pasok

11 Agustus 2026 - 05:32 WIB

Suara Pelaku UMKM Sumbar: Butuh Legalitas Dan Keuangan

29 Juli 2026 - 14:45 WIB

Ekonomi Halal Global Harus Dimulai dari Desa dan UMKM

23 Juli 2026 - 14:58 WIB

Trending di EKONOMI BISNIS