Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan [DESAMERDEKA] – Kepadatan Pelabuhan Bonerate 2026 terlihat sejak pukul sepuluh pagi di Kecamatan Pasimarannu. Matahari terik memantul dari permukaan dermaga yang dipadati manusia dan kendaraan, sementara suara mesin motor bersahutan tanpa jeda.
Di tengah suhu yang terus meninggi, langkah-langkah tergesa, panggilan nama, dan pelukan yang enggan dilepas menjadi pemandangan yang berulang di sepanjang dermaga.
Hari itu, Jumat (27/03/2026), Pelabuhan Bonerate mencapai puncak arus balik Lebaran gelombang kedua. Kapal perintis KM Sabuk Nusantara 85 bersandar, membawa ratusan penumpang yang akan kembali ke perantauan.
Kepadatan Pelabuhan Bonerate 2026 di Bawah Terik Matahari
Sejak pagi menjelang siang, arus manusia dan kendaraan terus mengalir ke area pelabuhan. Data Posko Angkutan Lebaran mencatat sebanyak 485 penumpang diberangkatkan pada hari itu.

Ratusan kendaraan turut memadati area:
• 310 sepeda motor
• 11 kendaraan roda tiga
• 2 mobil pick-up
Semuanya bergerak dalam ritme yang sama: datang, menunggu, lalu perlahan mendekat ke lambung kapal.
Kepadatan Pelabuhan Bonerate 2026 tampak dari lonjakan kendaraan dan antrean penumpang yang terus bertambah hingga siang hari.
Di tengah kepadatan tersebut, petugas bekerja tanpa jeda, mengatur pergerakan agar tidak terjadi penumpukan di titik-titik krusial.

Petugas Wilker Bonerate, Ade Ilhamsyah, A.Md.Tra, menyampaikan bahwa pengawasan dilakukan secara maksimal sejak pagi hingga keberangkatan kapal.
“Sejak pagi kami melakukan pengawasan dan pengaturan secara maksimal hingga proses keberangkatan. Alhamdulillah, meskipun terjadi kepadatan penumpang dan kendaraan, situasi tetap terkendali dan berjalan lancar,” ujarnya.
Ia menambahkan, kelancaran ini tidak lepas dari kerja sama seluruh pihak di lapangan.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh Tim Posko Angkutan Lebaran, khususnya anggota Koramil 1415-03 Pasimarannu dan Satpol PP yang telah membantu dalam pengawasan serta pengaturan di tengah tingginya mobilitas penumpang dan kendaraan,” tambahnya.
Kapasitas Penuh dan Harapan yang Tertunda
KM Sabuk Nusantara 85 berangkat dalam kondisi penuh. Dari Bonerate, sebanyak 191 penumpang naik, bergabung dengan 294 penumpang lanjutan dari pelabuhan sebelumnya seperti Maumere dan Kalaotoa.
Total 485 penumpang menjadi batas maksimal yang diizinkan demi keselamatan pelayaran.
Namun, di balik angka tersebut, tidak semua calon penumpang dapat terakomodasi. Sejumlah warga terlihat harus menunda keberangkatan karena tidak mendapatkan tiket.

Di tengah kondisi itu, harapan tetap disampaikan.
Salah seorang penumpang, Lila, berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap lonjakan penumpang setiap musim mudik dan arus balik.
“Ke depan kami berharap ada penambahan armada atau trip tambahan, supaya penumpang tidak perlu khawatir kehabisan tiket dan antrean panjang bisa dikurangi,” ungkapnya.
Sebagai alternatif, penumpang yang belum terangkut diarahkan ke jadwal berikutnya, yakni KMP Takabonerate pada 28 Maret 2026 dan KM Maloli pada awal April.
Perpisahan di Ujung Dermaga
Di tengah kerumunan itu, suasana perpisahan berlangsung sederhana namun sarat makna. Sejumlah keluarga terlihat mengantar kerabat mereka hingga ke ujung dermaga.
Lambaian tangan, pesan singkat, hingga bekal makanan yang diselipkan menjadi pemandangan yang berulang di setiap sudut pelabuhan.
Tak banyak kata yang terucap, namun raut wajah dan gestur yang tertinggal menggambarkan beratnya melepas kepergian orang-orang terdekat kembali ke perantauan.
Di bawah terik matahari, momen-momen seperti ini terasa semakin kuat—seolah waktu berjalan lebih cepat, meninggalkan ruang yang tak sempat diisi oleh kata-kata panjang.
Laut sebagai Urat Nadi Kehidupan
Bagi masyarakat Kecamatan Pasimarannu, jalur laut merupakan urat nadi utama yang menghubungkan kehidupan di pulau dengan wilayah lain.
Kapal seperti KM Sabuk Nusantara 85 bukan sekadar alat transportasi, melainkan penghubung aktivitas ekonomi, pendidikan, dan kebutuhan sosial masyarakat.
Kelancaran arus balik tahun ini mencerminkan koordinasi yang baik antara petugas, kru kapal, dan masyarakat.
Data angkutan Lebaran ini juga sejalan dengan informasi resmi dari Kementerian Perhubungan RI.
Ketika Kapal Menjauh
Pelan namun pasti, KM Sabuk Nusantara 85 mulai meninggalkan dermaga.
Lambaian tangan perlahan mengecil. Suara perlahan mereda. Yang tersisa hanyalah garis laut dan perjalanan yang kembali dimulai.
Di Bonerate, setiap arus balik bukan sekadar pergerakan manusia, melainkan siklus kehidupan yang terus berulang—tentang pergi untuk bertahan, dan pulang untuk kembali menguatkan alasan untuk melangkah lagi.

kontributor Desamerdeka.id wilayah Sulawesi Selatan. Aktif meliput isu-isu sosial, pemerintahan desa, dan dinamika pembangunan masyarakat pesisir.

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.