Tanjung Selor [DESA MERDEKA] – Kalimantan Utara (Kaltara) tak ingin ketinggalan dalam peta pariwisata Indonesia. Provinsi yang berbatasan langsung dengan Malaysia ini baru saja menetapkan lima desa menawan sebagai andalan untuk menjaring lebih banyak wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Langkah ini diharapkan tak hanya mendongkrak angka kunjungan, tetapi juga menggerakkan roda perekonomian masyarakat setempat.
Kelima desa yang terpilih memiliki pesona dan keunikan masing-masing, menawarkan pengalaman wisata yang beragam. Desa Pulau Sapi, yang hanya berjarak 15 menit dari Malinau, Kabupaten Malinau, misalnya, memanjakan mata pengunjung dengan keindahan alamnya yang asri. Lebih dari itu, kreativitas warganya dalam menghasilkan kerajinan anyaman, batik, suvenir, hingga kuliner khas Dayak Lundayeh menjadi daya tarik tersendiri. Kekayaan seni dan budaya masyarakat mayoritas Dayak Lundayeh di desa ini siap memukau setiap mata yang datang.
Bergeser ke Kabupaten Bulungan, terdapat dua permata wisata. Desa wisata Ardimulyo di Kecamatan Tanjung Palas Utara menawarkan pengalaman menyusuri hutan mangrove yang eksotis, dipadukan dengan atraksi kesenian dan produk kerajinan tangan masyarakat lokal. Sementara itu, desa wisata Metun Sajau di Kecamatan Tanjung Palas Timur mengajak wisatawan untuk menyaksikan langsung kehidupan otentik suku Dayak Kenyah Bakung dan Dayak Punan. Masyarakat di desa ini masih teguh memegang tradisi, adat istiadat, dan budaya dalam kehidupan sehari-hari. Perjalanan menuju Metun Sajau dari Tanjung Selor memakan waktu sekitar 1,5 jam, namun keindahan alam pegunungan yang diapit oleh Sungai Pungit dan Sungai Sajau akan membayar lunas perjalanan tersebut.
Kabupaten Nunukan pun tak mau kalah. Desa wisata Sumantipal hadir dengan petualangan yang lebih menantang. Di sini, wisatawan dapat merasakan sensasi arung jeram (rafting) di sungai yang memacu adrenalin, bermain jetski giram, hingga mengunjungi patok perbatasan bekas sengketa Indonesia-Malaysia (EX OBP Sungai Sumantila) seluas 5.700 hektare yang menyimpan nilai sejarah. Bagi pecinta alam, jalur trekking (hiking) di desa ini juga sayang untuk dilewatkan.
Gubernur Kaltara, Zainal A Paliwang, optimis bahwa penetapan lima desa wisata unggulan ini sejalan dengan program Gerakan Nasional Bangga Berwisata di Indonesia (Gernas BBWI). Ia berharap, gerakan ini mampu meningkatkan kunjungan wisatawan ke destinasi lokal hingga mencapai 1,2 – 1,5 miliar perjalanan. Dengan meningkatnya kunjungan, pendapatan pariwisata daerah dari wisatawan domestik pun diyakini akan ikut terkerek naik.
Lebih jauh, Zainal menambahkan bahwa pengembangan desa wisata ini diharapkan dapat menciptakan sumber-sumber ekonomi baru bagi masyarakat. Hal ini akan berdampak positif pada perluasan lapangan kerja dan peluang usaha, meningkatkan popularitas destinasi pariwisata lokal, serta menumbuhkan kesadaran dan kebanggaan masyarakat terhadap potensi wisata di daerahnya.
Sebagai bentuk dukungan nyata, Pemerintah Provinsi Kaltara telah menerbitkan Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2019 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2019-2025. “Pada gilirannya, pariwisata dapat menggerakkan dan membangkitkan roda perekonomian di Kaltara. Untuk itu, penting untuk terus berkolaborasi dalam memperbaiki kualitas destinasi wisata dan UMKM unggul yang menarik, dengan menampilkan inovasi dan kreativitas serta terus meningkatkan daya saing,” pungkasnya. Dengan potensi alam dan budaya yang kaya, Kaltara siap menyambut wisatawan untuk menjelajahi keindahan yang tersembunyi di lima desa wisata andalannya.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.