Ungaran, Semarang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Desa Leyangan kini bukan sekadar titik di peta Kabupaten Semarang. Melalui kolaborasi segar antara mahasiswa KKN Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) dan BUMDes Leyangan, desa ini sukses menyulap lahan terbatas menjadi lumbung pangan modern. Puncaknya, pada Selasa (3/3/2026), greenhouse di Dukuh Jetis menjadi saksi bisu panen raya sayuran kualitas premium yang kini jadi incaran ibu rumah tangga.
Program ketahanan pangan ini membuktikan bahwa pertanian tak lagi soal tanah dan lumpur. Dengan sistem hidroponik, jenis sayuran seperti bayam merah, sawi, dan pakcoy tumbuh subur di instalasi yang higienis. Inovasi ini bukan sekadar gaya-gayaan; ini adalah solusi konkret menjawab tantangan pangan dari tingkat akar rumput.

Simbiosis Mutualisme: Teori Kampus Ketemu Realita Desa
Selama 49 hari masa pengabdian (13 Januari – 3 Maret 2026), para mahasiswa tidak hanya datang sebagai tamu. Mereka terjun ke dapur produksi BUMDes untuk mempelajari teknik nutrisi hingga manajemen pasca-panen.
“Selama ini kami hanya tahu teori. Di Leyangan, kami melihat langsung bagaimana proses pembenihan hingga panen dilakukan secara terstruktur. Ini pengalaman mahal bagi kami,” ujar Rizka Sada Ulina, anggota Kelompok 9 KKN UPGRIS.
Di sisi lain, pihak desa merasa terbantu dengan kehadiran energi muda yang membawa gagasan strategi pemasaran baru. Kisyanto, Kepala Unit Pertanian BUMDes Leyangan, menyebut kolaborasi ini menciptakan pertukaran ilmu yang sehat antara dunia pendidikan dan praktik lapangan.

Strategi Pemasaran Digital: Incar Pasar Ibu Rumah Tangga
Hasil panen dari greenhouse Leyangan tidak dibiarkan menumpuk. BUMDes telah membentuk tim distribusi khusus yang menyasar dua jalur utama:
- Warung Desa: Penjualan langsung untuk warga sekitar guna pemenuhan gizi keluarga.
- Pemesanan Daring (Online): Memanfaatkan media sosial dan aplikasi pesan untuk menjangkau ibu rumah tangga sebagai konsumen utama yang mencari sayuran sehat tanpa pestisida.
Efeknya luar biasa. Leyangan kini mulai dilirik oleh berbagai perguruan tinggi lain sebagai lokasi studi banding pertanian modern.
Ketahanan Pangan dan Edukasi Berkelanjutan
Bagi Desa Leyangan, greenhouse di Dukuh Jetis adalah investasi masa depan. Metode hidroponik dipilih karena efisiensi lahan dan kontrol kualitas yang lebih baik. Harapannya, unit ini tidak hanya menjadi pabrik sayur, tetapi juga pusat pembelajaran bagi pelajar dan masyarakat umum.
Keterlibatan aktif kelompok PKK dan Dasa Wisma (Dawis) dalam program ini memastikan bahwa semangat swasembada pangan meresap hingga ke tiap rumah. Kehadiran mahasiswa KKN UPGRIS menjadi pemantik yang mempercepat transformasi desa menuju “Desa Cerdas” berbasis pertanian inovatif.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.