Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah [DESA MERDEKA] – Di tengah skeptisisme terhadap dunia pertanian di kalangan generasi muda, Yoan (32), seorang pemuda dari Desa Sei Asem, Kapuas Hilir, justru membuktikan bahwa bertani bisa menjadi jalan ninja menuju sukses ekonomi. Melalui bendera Yoan Hidroponik, ia berhasil mengubah rasa ingin tahu menjadi mesin uang dengan mengandalkan teknologi pertanian modern tanpa tanah.
Langkah Yoan tergolong berani. Memulai dari modal terbatas dan belajar secara otodidak melalui media daring, kini ia telah mengelola sekitar 1.500 lubang tanam hanya dalam waktu lima bulan. Sayuran segar seperti selada dan seledri miliknya kini menjadi primadona yang dipanen setiap pagi untuk memenuhi permintaan pasar yang kian meningkat.
Mental Baja: Pernah Ditolak Pasar
Kesuksesan Yoan tidak datang dalam semalam. Di masa awal rintisannya, hasil panennya sering kali ditolak mentah-mentah oleh calon pembeli. Namun, alih-alih menyerah, penolakan tersebut ia jadikan bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas produksi dan teknik pengepakan.
“Semua bermula dari rasa ingin tahu dan keberanian untuk mencoba,” ujar Yoan saat ditemui di sela aktivitas panennya, Sabtu (7/2/2026). Kegigihan ini membuahkan hasil; kini ia tidak lagi mencari pembeli, melainkan pembeli tetap yang datang mencarinya karena kualitas sayuran yang konsisten dan higienis.

Bertarung Melawan Cuaca dan Angin
Tantangan terbesar yang dihadapi Yoan bukanlah hama, melainkan faktor cuaca ekstrem di Kapuas Hilir. Angin kencang sering kali merobek plastik UV yang melindungi instalasi hidroponiknya. Kerusakan fisik ini tentu berdampak pada biaya produksi dan jadwal panen. Namun, Yoan tetap konsisten memelihara instalasinya demi menjaga kepercayaan pelanggan.
Dampak Ekonomi bagi Masyarakat Desa
Menariknya, usaha ini kini tidak lagi dikelola Yoan seorang diri. Ia melibatkan anggota keluarga dan masyarakat sekitar dalam proses panen hingga pengepakan. Hal ini menciptakan ekosistem ekonomi lokal yang baru di Desa Sei Asem.
Yoan berharap langkah kecilnya ini bisa memicu gairah bertani modern bagi pemuda desa lainnya. Ia membuktikan bahwa dengan smartphone di tangan dan kemauan belajar, pemuda desa bisa menjadi pengusaha sukses tanpa harus merantau ke kota besar.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.