Manokwari, [DESA MERDEKA] – Warga Kelurahan Amban, Manokwari, Papua Barat, kini berkesempatan meningkatkan kesejahteraan melalui inovasi budidaya lele aquaponik. Program pemberdayaan yang digagas Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Papua (Unipa) ini menawarkan solusi panen ganda: ikan lele sekaligus sayuran segar, mengubah pekarangan rumah menjadi sumber pendapatan baru.
Inisiatif ini hadir sebagai jawaban atas tantangan budidaya lele skala rumah tangga yang selama ini belum optimal di Kelurahan Amban. Dr. Thomas Frans Pattiasina, Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Unipa, menjelaskan bahwa sistem aquaponik jauh lebih efisien dan memberikan nilai tambah signifikan dibandingkan metode konvensional. “Dengan aquaponik, pelaku usaha bisa memanen ikan dan sayuran sekaligus, meningkatkan produksi dan pendapatan mereka,” ujar Dr. Thomas, Rabu (15/5/2024).

Teknik Cerdas untuk Hasil Berlipat
Aquaponik adalah sistem pertanian terintegrasi yang menggabungkan akuakultur (budidaya ikan) dengan hidroponik (budidaya tanaman tanpa tanah). Dalam sistem cerdas ini, nutrisi yang dihasilkan dari kotoran ikan dimanfaatkan sebagai pupuk alami untuk tanaman sayuran. Air dari kolam ikan dialirkan ke media tanam sayuran, kemudian air yang telah tersaring dan kaya oksigen kembali ke kolam ikan. Siklus tertutup ini menciptakan simbiosis mutualisme yang efisien dan berkelanjutan.
Kelompok Usaha Tani Petra di Kelurahan Amban menjadi mitra percontohan dalam program ini. Keberhasilan mereka diharapkan dapat menginspirasi dan diadopsi oleh masyarakat luas di Manokwari, khususnya di wilayah kelurahan lainnya. Lele dipilih bukan tanpa alasan. Komoditas air tawar ini memiliki potensi besar di Manokwari, dengan pertumbuhan cepat dan harga jual yang relatif stabil, menjadikannya pilihan favorit bagi banyak pembudidaya lokal.
Mengatasi Tantangan dengan Pendampingan Holistik
Dr. Thomas mengakui bahwa keterbatasan pengetahuan dan penguasaan teknologi menjadi kendala utama bagi pembudidaya lele di Amban sebelumnya. Oleh karena itu, program pemberdayaan ini dirancang secara komprehensif, tidak hanya fokus pada aspek teknis budidaya. “Pelatihan ini tidak hanya soal penerapan teknologi aquaponik, tetapi juga pengelolaan keuangan usaha yang baik,” tegasnya.
Program yang didanai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi ini dibagi dalam tiga tahapan krusial. Tahap pertama membekali peserta dengan teori budidaya lele aquaponik, manajemen keuangan, dan strategi keberlanjutan usaha. Tahap kedua melibatkan praktik langsung pembuatan konstruksi aquaponik, perhitungan bibit, pemberian pakan, pemeliharaan tanaman, dan kontrol kualitas air. Terakhir, tahap ketiga adalah pendampingan intensif untuk memastikan implementasi dan produktivitas yang optimal, berlangsung dari awal hingga akhir September 2024.
Tim Pengabdian kepada Masyarakat Unipa yang menginisiasi program penting ini dipimpin oleh Dr. Thomas Frans Pattiasina, didampingi anggota tim Ludia Wambrauw, Dr. Ir. Reymas M. R. Ruimassa, Dr. Yori Turu Toja, Wilson Palelingan Aman, dan Dr. Ir. Alberth W. A. Remyaan. Inisiatif ini diharapkan menjadi tonggak penting bagi ketahanan pangan desa dan peningkatan ekonomi keluarga di Kelurahan Amban.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.