Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan [DESAMERDEKA] – Kepastian sering kali datang dari detail-detail kecil yang luput dari pandangan orang asing. Bagi Rudi (28), kepastian tentang nasib ayahnya yang hilang bukan datang dari dokumen resmi, melainkan dari bentuk telinga, susunan gigi, dan jemari kaki yang terekam dalam sebuah foto jenazah. Foto tersebut akhirnya menghentikan spekulasi panjang atas penemuan mayat tanpa identitas di Pantai Laja’a, Desa Lamantu, Kepulauan Selayar, Minggu (15/2/2026).
Laki-laki yang ditemukan tergeletak di pesisir itu dikonfirmasi adalah Djafar (63), seorang petani asal Dusun Ero Wali, Desa Majapahit. Kepastian ini menjadi titik akhir dari pencarian melelahkan keluarga setelah Djafar dinyatakan hilang sejak 8 Februari lalu, sesaat sebelum memasuki bulan Ramadan.

Pilihan untuk Tetap Tinggal di Teewemba
Tragedi ini bermula di wilayah pesisir Teewemba, Desa Lambego. Saat itu, rekan-rekan kerja Djafar bersiap pulang ke Bonerate menggunakan jolor—perahu kayu kecil khas Kepulauan Selayar. Mereka sempat mengajak Djafar ikut serta, namun pria tua itu memilih bertahan demi menyelesaikan pekerjaan yang tersisa.
Djafar berencana menyusul dengan menumpang perahu nelayan pemanah ikan yang biasa melintas di sana. Namun, rencana itu tak pernah terwujud. Djafar tak kunjung pulang hingga berminggu-minggu, memicu kekhawatiran yang berujung pada aksi pencarian besar-besaran oleh warga melalui jalur darat dan laut.
Saksi Bisu Sebilah Parang di Jalur Wakasa
Di tengah ketidakpastian, warga menemukan sebuah petunjuk penting di wilayah Wakasa: sebilah parang. Melalui sambungan telepon dari Papua, Rudi meyakini bahwa senjata tajam tersebut adalah milik ayahnya. Penemuan ini sempat menyalakan harapan sekaligus kecemasan bahwa sang ayah berada dalam kondisi bahaya di sekitar jalur menuju Komba-Komba.
| Kronologi Peristiwa | Tanggal / Waktu | Lokasi Terakhir |
| Terakhir Terlihat | 8 Februari 2026 | Teewemba, Desa Lambego |
| Penemuan Mayat | 15 Februari 2026 | Pantai Laja’a, Desa Lamantu |
| Konfirmasi Identitas | Maret 2026 | Melalui foto ciri fisik oleh keluarga |
| Penghormatan Terakhir | 13 Maret 2026 | Salat Ghaib di kediaman keluarga |

Pulang dalam Keheningan
Penemuan jenazah di Pantai Laja’a sempat menemui jalan buntu karena tidak adanya kartu identitas. Namun, insting seorang anak tak bisa berbohong. Melalui Ketua BPD Desa Lamantu, Hamsin, foto-foto penanganan awal jenazah dikirimkan kepada Rudi. Saat itulah, anatomy tubuh sang ayah “berbicara” memberikan jawaban terakhir.

Meski Djafar telah dimakamkan di pemakaman setempat tak lama setelah ditemukan, keluarga kini telah memberikan penanda berupa nisan kayu sebagai bukti kasih sayang. Sebagai bentuk penghormatan terakhir, keluarga menjadwalkan salat ghaib pada Jumat (13/3/2026). Bagi keluarga Djafar, Pantai Laja’a bukan lagi sekadar tempat penemuan mayat, melainkan saksi bisu kembalinya sang ayah ke pelukan bumi setelah pencarian panjang yang penuh air mata.

kontributor Desamerdeka.id wilayah Sulawesi Selatan. Aktif meliput isu-isu sosial, pemerintahan desa, dan dinamika pembangunan masyarakat pesisir.

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.