Selama beberapa tahun terakhir, BUMDes sering diposisikan sebagai mesin bisnis desa. Ia diminta menghasilkan keuntungan, membuka unit usaha, bahkan bersaing dengan pelaku usaha di luar desa. Tidak sedikit BUMDes yang kemudian mencoba berbagai usaha: wisata desa, perdagangan pupuk, jasa air bersih, hingga minimarket desa.
Sebagian berhasil. Banyak juga yang akhirnya berhenti di tengah jalan.
Masalahnya bukan pada semangatnya. Masalahnya pada cara kita memahami peran BUMDes.
Kita terlalu sering memaksa BUMDes menjadi perusahaan desa, padahal potensi terbesar desa sebenarnya bukan hanya pada bisnis, tetapi pada ketahanan hidup masyarakatnya. Di sinilah BUMDes seharusnya mengambil peran yang lebih strategis: menjadi penggerak ketahanan pangan desa.
Dan jika kita ingin mencari contoh inspirasi sederhana namun kuat, kita bisa belajar dari sebuah tempat kecil di Klaten: Yosofarm.
Pelajaran Penting dari Yosofarm
Yosofarm bukan perusahaan besar. Bukan pula lahan pertanian ratusan hektare. Ia hanya sebuah pekarangan rumah yang dikelola dengan kesadaran ekologi dan kemandirian.
Namun dari pekarangan itu lahir sebuah sistem kehidupan yang menarik.
Di sana sayuran tumbuh beragam. Ayam menghasilkan telur. Kolam kecil menghasilkan ikan. Jamur dibudidayakan dari limbah jagung. Limbah dapur menjadi pakan maggot. Kotoran ternak menjadi pupuk.
Semua saling terhubung dalam satu ekosistem kecil yang efisien dan produktif. Hasilnya sederhana tetapi kuat: kebutuhan pangan keluarga sebagian besar dapat dipenuhi dari pekarangan sendiri.
Pelajaran penting dari Yosofarm bukan hanya teknik bertani. Pelajaran terpenting adalah cara berpikir tentang sumber daya.
Di sana tidak ada yang disebut sampah. Semua adalah potensi.
- Limbah dapur menjadi pakan.
- Pakan menjadi telur dan ikan.
- Kotoran ternak menjadi pupuk.
- Pupuk kembali menjadi tanaman.
Inilah ekonomi sirkular dalam bentuk paling sederhana.
Pertanyaannya: jika satu keluarga bisa membangun ekosistem seperti ini, apa yang terjadi jika satu desa melakukan hal yang sama?
Pekarangan Desa: Potensi yang Terlupakan
Sebagian besar desa di Indonesia memiliki karakter yang sama: hampir setiap rumah memiliki pekarangan.
Ada yang luas. Ada yang sempit. Ada yang hanya beberapa pot tanaman. Tetapi jika semua dihitung bersama, luasnya sangat besar.
Mari kita bayangkan sebuah desa dengan 400 rumah. Jika setiap rumah memiliki pekarangan produktif rata-rata 25 meter persegi, maka desa itu sebenarnya memiliki:
- 10.000 meter persegi kebun pangan keluarga.
- Itu setara satu hektare lahan produksi.
- Bedanya, lahan ini tersebar di rumah-rumah warga.
Jika pekarangan ini diaktifkan, desa sebenarnya memiliki:
- produksi sayur harian
- telur ayam kampung
- ikan dari kolam kecil
- tanaman obat keluarga
- kompos dari limbah rumah tangga
Desa tidak hanya menjadi konsumen pangan. Desa menjadi produsen pangan dari rumah tangga.
Namun potensi ini jarang menjadi perhatian kebijakan desa.
Menggeser Paradigma BUMDes
Di sinilah BUMDes seharusnya mengambil peran baru.
BUMDes tidak harus selalu berpikir tentang usaha besar atau proyek besar. BUMDes bisa menjadi arsitek ekosistem pangan desa.
Artinya BUMDes bukan hanya berbisnis, tetapi membangun sistem yang membuat desa lebih kuat menghadapi krisis pangan.
Belajar dari Yosofarm, BUMDes dapat memainkan beberapa peran penting.
- BUMDes sebagai Pusat Bibit Desa
Gerakan pekarangan tidak akan berjalan tanpa akses bibit yang mudah dan murah.
BUMDes dapat membuka unit usaha pembibitan yang menyediakan:
-
- bibit sayuran
- bibit cabai dan tomat
- bibit tanaman buah
- bibit tanaman obat keluarga
Dengan sistem ini, setiap rumah dapat memulai kebun kecilnya tanpa harus membeli dari kota.
- BUMDes sebagai Produsen Pupuk Organik
Salah satu masalah terbesar pertanian adalah ketergantungan pada pupuk kimia.
Padahal desa sebenarnya memiliki bahan baku pupuk organik yang melimpah:
-
- kotoran ternak
- limbah dapur
- limbah pertanian
BUMDes dapat mengolah semua ini menjadi pupuk kompos.
Selain memperkuat pertanian pekarangan, ini juga menyelesaikan masalah sampah desa.
- BUMDes sebagai Pusat Budidaya Maggot
Di Yosofarm, limbah dapur tidak dibuang. Ia menjadi makanan bagi larva maggot yang kemudian menjadi pakan ayam dan ikan.
Model ini bisa diperluas menjadi usaha desa.
BUMDes dapat membangun unit budidaya maggot desa yang:
-
- menyerap sampah organik
- menghasilkan pakan ternak murah
- mendukung peternakan ayam dan ikan warga
Dengan cara ini, biaya produksi warga menjadi jauh lebih rendah.
- BUMDes sebagai Penghubung Pasar
Jika produksi pekarangan berlebih, BUMDes dapat berperan sebagai pengumpul hasil.
Misalnya:
-
- telur ayam kampung
- sayuran organik
- jamur
- ikan
BUMDes mengumpulkan produk warga, kemudian menyalurkannya ke pasar lokal.
Dengan sistem ini, pekarangan tidak hanya menghasilkan pangan untuk keluarga, tetapi juga menjadi sumber ekonomi desa.
Menghubungkan Pekarangan dengan Program Makan Bergizi
Salah satu peluang besar yang sering terlewat adalah program nasional makan bergizi bagi anak sekolah.
Program ini membutuhkan pasokan pangan yang sangat besar:
- telur
- sayuran
- ikan
- bahan pangan segar
Jika desa tidak menyiapkan diri, maka pasokan pangan akan datang dari distributor besar di luar desa.
BUMDes sebenarnya memiliki peluang besar untuk menjadi penyedia bahan pangan lokal bagi program tersebut.
Bayangkan skema sederhana:
- Rumah tangga memproduksi telur dan sayur dari pekarangan.
- BUMDes mengumpulkan hasil produksi.
- BUMDes memasok bahan pangan untuk dapur program makan bergizi.
Dengan cara ini, anggaran negara untuk program gizi tidak keluar dari desa, tetapi berputar di ekonomi desa.
Dampak yang Lebih Besar dari Sekadar Pangan
Ketika BUMDes memimpin gerakan pekarangan pangan desa, dampaknya tidak hanya pada produksi makanan.
Ada perubahan sosial yang jauh lebih besar.
Pertama, keluarga desa menjadi lebih tahan terhadap gejolak harga pangan. Ketika harga cabai atau telur naik di pasar, sebagian kebutuhan sudah tersedia di rumah.
Kedua, kualitas gizi keluarga meningkat. Sayuran segar, telur kampung, dan ikan segar tersedia setiap hari tanpa harus membeli mahal.
Ketiga, lingkungan desa menjadi lebih sehat. Limbah dapur tidak lagi menjadi sampah yang menumpuk di tempat pembuangan. Ia kembali menjadi bagian dari ekosistem pangan.
Keempat, budaya gotong royong kembali hidup. Warga saling berbagi bibit, pupuk, dan hasil panen.
Ketahanan Desa Dimulai dari Rumah
Selama ini kita sering berbicara tentang ketahanan pangan nasional. Namun kita jarang membicarakan ketahanan pangan rumah tangga.
Padahal ketahanan pangan bangsa sebenarnya dimulai dari rumah-rumah kecil di desa.
Jika setiap rumah mampu memproduksi sebagian pangannya sendiri, maka desa memiliki fondasi ekonomi yang kuat.
BUMDes kemudian hadir sebagai penggerak sistem:
- menyediakan bibit
- mengolah pupuk
- mengelola limbah
- menghubungkan pasar
Desa tidak lagi hanya menunggu bantuan dari luar. Desa membangun kekuatannya sendiri.
Belajar dari Hal Kecil
Yosofarm memberi satu pelajaran penting: perubahan besar sering dimulai dari sesuatu yang kecil.
- Dari beberapa pot tanaman.
- Dari beberapa ekor ayam.
- Dari kolam kecil di samping rumah.
Namun ketika semua itu disusun dalam sebuah sistem, lahirlah ekosistem pangan yang kuat.
Jika satu keluarga bisa melakukannya, satu desa pasti bisa.
Dan jika BUMDes mengambil peran sebagai penggerak, pekarangan desa bukan lagi ruang kosong di belakang rumah.
Ia menjadi fondasi ketahanan pangan desa.
Sebuah kekuatan yang tumbuh dari tanah sendiri, dari halaman rumah sendiri, dan dari kesadaran bahwa desa sebenarnya memiliki semua yang dibutuhkan untuk hidup mandiri.

Jurnalis dan Pegiat Pemberdayaan Masyarakat Peduli Desa. Saat ini adalah Ketua Komunitas Desa Indonesia dan Koordinator Mobile Journalist Desa


















MANTAP