Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

PENDIDIKAN · 9 Jun 2026 13:59 WIB ·

Evaluasi Makan Bergizi Gratis di Malaka: Tantangan dan Harapan


					Rikardus Siki, Kepala Sekolah SMP Sabar Subur Betun, (foto istimewa) Perbesar

Rikardus Siki, Kepala Sekolah SMP Sabar Subur Betun, (foto istimewa)

Malaka, Nusa Tenggara Timur [DESA MERDEKA] Di SMP Sabar Subur Betun, Kabupaten Malaka, geliat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah menjadi rutinitas sejak November 2025. Meski gizi yang disajikan dinilai berkualitas baik oleh pihak sekolah, realitas di lapangan menunjukkan tantangan yang tidak sederhana. Sebagian siswa masih kerap menyisakan makanan mereka, memicu perdebatan mengenai urgensi dan efektivitas intervensi gizi nasional di wilayah ini.

Kabupaten Malaka, yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, menaruh harapan besar pada peningkatan kualitas SDM melalui program ini. Sebanyak 516 siswa saat ini menjadi penerima manfaat yang dilayani oleh mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Kepala SMP Sabar Subur Betun, Rikardus Siki, menjelaskan bahwa pihak sekolah berperan aktif dalam distribusi makanan. “Kami melibatkan guru honorer untuk memastikan distribusi lancar, sekaligus memberi mereka honor tambahan,” ungkapnya.

Namun, kendala muncul dari sisi teknis dan perilaku. Tak jarang, siswa yang sudah sarapan di rumah tidak menghabiskan porsi MBG yang disediakan. Selain itu, ada sisi “minus” yang dirasakan guru di kelas: kantuk pasca-makan yang kerap mengganggu fokus belajar siswa. “Anak-anak jadi mengantuk dan tidak fokus saat pelajaran berlangsung,” tambah Rikardus. Baginya, mengukur dampak nyata program terhadap kecerdasan atau kedisiplinan siswa memerlukan indikator yang lebih panjang dan terukur daripada sekadar melihat piring yang kosong.

Terlepas dari perdebatan dampak yang belum kasat mata, sekolah tetap mengambil sisi positif. Program ini menjadi sarana melatih karakter siswa untuk menghargai pemberian masyarakat. Sebagai program prioritas nasional, MBG di Malaka menjadi pembelajaran berharga bahwa menyediakan gizi saja tidak cukup. Dibutuhkan sinergi antara menu yang disediakan, selera makan siswa, serta mekanisme pembagian yang tidak memangkas waktu belajar. Bagi Malaka, keberhasilan program ini adalah investasi jangka panjang, namun memerlukan penyesuaian lapangan yang jauh lebih matang agar setiap suap makanan benar-benar menjadi energi bagi kecerdasan generasi penerus desa.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 10 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Jombang Pastikan Program Sekolah Rakyat Tepat Sasaran

9 Juni 2026 - 00:02 WIB

Pawai Katam Al-Qur’an, Investasi Karakter Generasi Muda Padang

7 Juni 2026 - 13:06 WIB

Literasi Digital Jadi Kunci SDM Desa Berdaya Saing

3 Juni 2026 - 09:25 WIB

Revitalisasi Tradisi Surau Lewat SMP Islam Darul Hakim

2 Juni 2026 - 21:01 WIB

Membangun Benteng Akhlak, Menjaga Masa Depan Desa

31 Mei 2026 - 21:23 WIB

Sumbar Raih Penghargaan Pendidikan Nasional, Desa Semakin Berdaya

28 Mei 2026 - 14:21 WIB

Trending di PENDIDIKAN