Lingga, Kepulauan Riau [DESA MERDEKA] – Sebuah ironi keselamatan publik terjadi di Desa Tanjung Irat, Kecamatan Singkep Barat, Kabupaten Lingga. Di tengah ancaman api yang melalap lebih dari satu hektar hutan dan mulai menjilat batas permukiman warga pada Selasa (20/1), armada pemadam kebakaran justru tak berdaya. Bukan karena personel yang enggan bertugas, melainkan karena hanya ada satu unit mobil pemadam yang kondisinya sudah cukup uzur.
Kebakaran yang bermula sejak Senin (19/1) ini sempat dinyatakan padam, namun cuaca terik dan angin kencang di Kepulauan Riau kembali membangkitkan “si jago merah”. Saat ini, warga Desa Tanjung Irat terpaksa menjadi garda terdepan, bertaruh nyawa memadamkan api dengan alat seadanya demi melindungi rumah mereka.
Fasilitas Usang di Tengah Ancaman Karhutla
Komandan Pleton Damkar Lingga Unit Dabo Singkep, Ikmal Hakim, mengungkapkan fakta pahit di balik keterlambatan penanganan. Timnya menghadapi dilema besar: armada tunggal yang tersedia sudah tua dan akses jalan menuju lokasi rusak parah dengan waktu tempuh lebih dari satu jam.
“Kendaraan pemadam yang tersedia hanya satu unit dan kondisinya sudah cukup tua. Kami harus mempertimbangkan risiko jika kendaraan dipaksakan ke lokasi,” ujar Ikmal.
Dilema ini kian pelik karena jika mobil tua tersebut dipaksakan menempuh medan berat dan mengalami kerusakan, wilayah Dabo Singkep lainnya akan kehilangan perlindungan total jika terjadi kebakaran susulan di titik berbeda.
Heroisme Warga dan Urgensi Infrastruktur
Satrio, salah satu warga setempat, menyebutkan bahwa warga bahu-membahu melakukan pemadaman manual sambil menanti kepastian bantuan. Situasi ini menunjukkan betapa besarnya ketergantungan keselamatan warga pada peralatan yang sebenarnya sudah tidak layak pakai.
Hingga Selasa siang, penyebab pasti kebakaran belum teridentifikasi. Namun, kejadian ini menjadi alarm keras bagi Pemerintah Kabupaten Lingga. Di daerah dengan risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang tinggi seperti Kepulauan Riau, mengandalkan satu unit armada tua untuk menjangkau pelosok desa bukan hanya tidak efektif, tetapi juga membahayakan nyawa masyarakat dan petugas itu sendiri.
Masyarakat Tanjung Irat kini hanya bisa berharap angin mereda dan bantuan segera tiba, sebelum api benar-benar melompati pagar rumah mereka.
Redaksi Desa Merdeka

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.