Menu

Mode Gelap
Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi Bukan Seremoni, Desa Kambuno Rayakan Hari Desa dengan Aksi

DESA · 28 Feb 2025 03:25 WIB ·

Politik Desa dan Perubahan Iklim Jadi Fokus di Maros


					Politik Desa dan Perubahan Iklim Jadi Fokus di Maros Perbesar

Maros, Sulawesi Selatan [DESA MERDEKA] Siapa sangka urusan politik desa kini berkelindan erat dengan isu pemanasan global? Di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, paradigma baru tengah dibangun. Yayasan BaKTI bersama Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Maros menggelar maraton penguatan kapasitas selama 12 hari yang menyisir 12 desa di 4 kecamatan.

Misi besarnya cukup berani: memastikan kelompok konstituen desa tidak gagap saat berhadapan dengan dampak perubahan iklim dan tetap memiliki taji dalam partisipasi politik lokal. Koordinator Program Inklusi Yayasan BaKTI Maros, Isnawati, menegaskan bahwa masyarakat desa harus menjadi aktor utama, bukan sekadar penonton dalam menghadapi fenomena alam yang kian ekstrem.

Mengawal Dana Desa untuk Isu Ekologis
Sudut pandang menarik dalam rangkaian kegiatan ini adalah pengaitan langsung antara hak politik warga dengan pengawasan 7 fokus utama penganggaran dana desa. Selama ini, dana desa sering kali dianggap hanya untuk pembangunan infrastruktur fisik. Namun, BaKTI mendorong warga agar memahami bahwa dana tersebut dapat dan harus digunakan untuk mitigasi serta adaptasi perubahan iklim.

“Kami ingin memastikan masyarakat paham bahwa dana desa adalah alat untuk mengatasi masalah nyata mereka, termasuk dampak iklim yang mengancam mata pencaharian,” ujar Isnawati. Dengan pemahaman ini, masyarakat diharapkan lebih kritis dalam proses perencanaan dan pengawasan anggaran agar tepat sasaran.

Inklusi yang Menjangkau Akar Rumput
Kegiatan yang dimulai sejak akhir Februari 2024 ini melibatkan elemen lintas sektor, mulai dari aparat desa, warga dari kelompok rentan, hingga media. Sinergi ini bertujuan agar kebijakan yang lahir di balai desa benar-benar inklusif dan responsif terhadap kebutuhan lokal.

Salah satu titik krusial kegiatan ini berlangsung di Desa Lekopancing, Kecamatan Tanralili. Di sana, warga diajak membedah bagaimana proses politik di tingkat desa menentukan ketahanan mereka terhadap krisis lingkungan di masa depan. Antusiasme warga menunjukkan adanya kerinduan akan edukasi yang menghubungkan kebijakan birokrasi dengan realitas lapangan.

Melalui langkah ini, Maros berupaya membuktikan bahwa kesejahteraan warga tidak hanya dibangun dari beton dan aspal, melainkan dari pemahaman politik yang sehat dan kesadaran lingkungan yang kuat sejak dari lingkup terkecil, yakni desa.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 7 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Kades Plosokandang “Sidang” Isu Viral di Tengah Pengajian

20 Januari 2026 - 02:46 WIB

Sungai Luar Siapkan Cetak Biru Desa Sehat Tahun 2027

19 Januari 2026 - 14:58 WIB

Kadus Petenangan Didemo Mundur Akibat Dugaan Skandal Mesum

19 Januari 2026 - 12:32 WIB

Cara Unik Desa Sungai Meranti Ubah Pajak Jadi Rezeki

19 Januari 2026 - 11:05 WIB

Bukan Cuma Wisata, Desa Kaliwedi Sragen Juara Nasional Pangan

19 Januari 2026 - 09:44 WIB

Aspal Mulus Desa Tinduk: Memutus Isolasi, Merajut Harmoni Sosial

18 Januari 2026 - 10:02 WIB

Trending di DESA