Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

OPINI · 27 Mei 2026 16:29 WIB ·

Momen Idul Adha. Pendamping Desa mesti Belajar Ikhlas, Sabar, dan Cinta dari Kisah Nabi Ibrahim


					Momen Idul Adha. Pendamping Desa mesti Belajar Ikhlas, Sabar, dan Cinta dari Kisah Nabi Ibrahim Perbesar

Oleh: Reki Fahlevi

Pendampung Desa Kec Belalau, Lampung Barat.

Ada banyak peristiwa besar dalam sejarah manusia. Namun tidak semuanya mampu menembus ruang batin manusia seperti kisah Nabi Ibrahim AS. Kisah ini bukan sekadar cerita pengorbanan seekor hewan qurban. Bukan pula hanya tentang perintah yang dijalankan tanpa tanya. Lebih dari itu, Idul Adha menghadirkan pelajaran tentang bagaimana manusia diuji antara cinta, keikhlasan, dan kepatuhan.

Nabi Ibrahim tidak diuji dengan harta yang mudah dilepas. Ia tidak diminta meninggalkan sesuatu yang remeh. Yang diminta justru anak yang sangat dicintainya. Seorang putra yang hadir setelah penantian panjang. Ismail. Ia adalah harapan, masa depan, sekaligus penawar rasa sepi. Namun keikhlasan diuji. Ketika cinta kepada Tuhan harus berdiri lebih tinggi dibanding cinta kepada apa pun yang dimiliki manusia.

Kita sering mengira ikhlas itu mudah. Padahal ikhlas adalah pekerjaan yang tak mudah. Tidak semua orang mampu tersenyum ketika lelahnya tidak dihargai. Tidak semua orang sanggup tetap berjalan ketika kerja kerasnya dianggap biasa saja. Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa pengabdian sejati tidak selalu disertai tepuk tangan.

Lalu hadirlah kesabaran. Sabar bertahan dalam keyakinan. Nabi Ibrahim menjalani hidup yang penuh ujian. Berpindah dari satu ujian ke ujian lain. Dilempar ke api. Ditinggalkan kaumnya. Menanti keturunan dalam usia senja. Hingga akhirnya diuji kembali dengan perintah yang mengguncang batin seorang ayah. Namun Ibrahim tidak tumbang oleh keadaan. Ia tetap berjalan dengan keyakinan bahwa setiap ujian memiliki makna.

Disitu cinta menemukan bentuknya. Cinta yang tidak memenjarakan. Cinta yang tidak egois. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menunjukkan bahwa cinta sejati terkadang justru rela melepaskan demi kebaikan yang lebih besar. Tidak ada teriakan. Tidak ada amarah. Yang ada hanyalah kepasrahan yang ketenangan.

Nilai nilai itu terasa begitu dekat dengan kehidupan para pendamping desa. Sebab menjadi pendamping desa sesungguhnya bukan sekadar pekerjaan administratif. Melainkan jalan pengabdian yang sering kali tanpa reward dan pujian. Banyak pendamping desa bekerja jauh dari sorotan. Menempuh jalan rusak. Mendengar keluhan warga. Menghadapi dinamika sosial yang tidak selalu sederhana.

Ada pendamping yang harus menjelaskan hal yang sama berulang ulang dalam musyawarah desa. Ada yang tetap mendampingi meski dicurigai ketika aturan tidak sesuai dengan keinginan sebagian pihak. Ada pula yang memilih diam ketika kerja kerasnya diklaim orang lain. Di situlah keikhlasan diuji. Tidak semua pengabdian memiliki panggung istimewa.

Kesabaran juga menjadi bekal utama. Desa bukan ruang yang steril dari konflik. Perbedaan kepentingan sering muncul dalam pengelolaan anggaran, pembangunan, hingga penetapan program bantuan. Pendamping desa kerap berada di tengah pusaran itu. Dituntut tetap tenang ketika keadaan tidak baik-baik saja. Tetap objektif ketika tekanan datang dari berbagai arah. Tetap menjaga etika ketika emosi orang lain sulit dikendalikan.

Namun yang paling penting adalah cinta. Sebab tanpa cinta, pendampingan hanya berubah menjadi rutinitas. Cinta membuat seseorang tetap peduli. Cinta membuat seseorang mau duduk mendengar cerita warga lanjut usia yang kesulitan memahami administrasi bantuan. Cinta pula yang membuat seorang pendamping tetap percaya bahwa desa bukan sekadar objek pembangunan, melainkan rumah bagi harapan banyak orang.

Idul Adha akhirnya mengajarkan bahwa pengabdian tidak selalu diukur dari seberapa besar jabatan seseorang. Kadang nilai seseorang justru terlihat dari seberapa tulus ia bekerja ketika tidak ada yang melihat. Nabi Ibrahim telah memberi teladan bahwa keikhlasan melahirkan kekuatan, kesabaran melahirkan keteguhan, dan cinta melahirkan pengorbanan.

Mungkin itulah sebabnya Idul Adha selalu terasa hangat bagi mereka yang bekerja di jalan pengabdian. Sebab disepanjang perjalanan mendampingi desa, selalu ada pelajaran dari Ibrahim yang terus hidup yakni tentang manusia yang tetap setia menjalankan amanah meski dunia sering kali tidak memberi tepuk tangan. (*)

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 7 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Jurnalisme Warga Desa Jadi Tren Global Pembangunan Akar Rumput

27 Mei 2026 - 15:01 WIB

Menggerakkan Ekowisata Lewat Koperasi Desa Merah Putih

27 Mei 2026 - 09:56 WIB

Stop Jual Nama Menteri Saatnya Angkat Panggung Pembangunan Desa

27 Mei 2026 - 01:12 WIB

Ekonomi Kicau Mania Desa Gerakkan Triliunan Rupiah

23 Mei 2026 - 16:48 WIB

Jaga Jakarta Bersih dan Asri: Langkah Kecil untuk Masa Depan Kota

23 Mei 2026 - 13:18 WIB

Jurnalis Mendirikan Yayasan: Begini Cara Aman Hindari Konflik Kepentingan

19 Mei 2026 - 18:46 WIB

Trending di OPINI