Opini [DESA MERDEKA] – Ada pertanyaan penting yang harus kita renungkan bersama: “Apakah kita harus memiliki satu suara dan bersikap seragam dalam menyikapi semua hal?” Sama sekali tidak. Tiada aturan yang mewajibkan setiap individu untuk bersikap identik. Perbedaan sikap dan pernyataan dalam memandang suatu persoalan, termasuk dinamika yang tengah terjadi di Timur Tengah antara Iran dan Israel, salah satunya dilandasi oleh pemahaman substansi dan akar masalah yang sesungguhnya, bukan semata-mata dari peristiwa yang terjadi saat ini.
Sejatinya, perbedaan pandangan dan sikap yang diejawantahkan dalam pernyataan oleh para ulama dan ustadz kita harus dijadikan sebagai bahan pembelajaran dan penambah wawasan kita terkait persoalan yang sedang berlangsung di Timur Tengah, terkhusus perang antara Iran dan Israel. Pemahaman yang komprehensif akan membantu kita menyikapi situasi dengan lebih bijak.
Namun, tidak dapat dimungkiri bahwa di balik layar konflik ini terdapat sejarah panjang dan sepak terjang kedua negara yang saling bertikai. Meski demikian, kita memang seharusnya memberikan apresiasi tinggi kepada Iran atas perlawanan seimbang yang mereka berikan terhadap agresi negara Zionis tersebut. Perlawanan Iran menunjukkan bahwa ada kekuatan yang sanggup melakukan perlawanan yang mampu menggentarkan entitas yang selama ini dianggap sangat superior dan tak tersentuh, di samping karena didukung oleh negara adidaya Amerika Serikat.
Akan tetapi, kita tidak boleh menutup mata terhadap fakta-fakta penting di balik semua itu. Perbedaan fundamental antara Sunni dan Syiah adalah akar permasalahan yang tidak bisa disatukan, terutama dalam soal akidah dan praktik keagamaan. Perbedaan mendasar ini telah menjadi sumber ketegangan dan konflik berkepanjangan di berbagai belahan dunia Islam. Bagi Sunni, Syiah dianggap memiliki penyimpangan dalam rukun iman, rukun Islam, hingga keyakinan tentang sahabat Nabi dan kepemimpinan umat. Sementara itu, Syiah memandang diri mereka sebagai pewaris sah kepemimpinan Islam melalui jalur keturunan Ali bin Abi Thalib.
Sejarah kelam peran Iran terhadap warga sipil di Suriah adalah contoh nyata bagaimana perbedaan ini berujung pada kekerasan. Iran sepenuhnya menjadi pendukung rezim Syiah Bashar Assad di Suriah, yang bertanggung jawab atas pembantaian dan penderitaan jutaan warga sipil, mayoritas adalah Muslim Sunni. Dukungan Iran ini bukan tanpa alasan, melainkan bagian dari rencana dan agenda politik mereka untuk memperluas pengaruh Syiah di Timur Tengah, menciptakan “bulan sabit Syiah” dari Iran hingga Lebanon melalui Irak dan Suriah.
Oleh karena itu, pernyataan dari para ulama seperti Ustadz Felix Siauw, Ustadz Khalid Basalamah, dan Ustadz Abdul Somad didasari oleh pengetahuan mendalam mereka tentang kedua negara tersebut, termasuk agenda politik Iran dan perbedaan akidah yang signifikan. Mereka berupaya memberikan perspektif yang lebih luas agar umat tidak terjebak dalam narasi tunggal
Sikap diskriminatif pemerintah Iran terhadap warga Muslim Sunni di negaranya sendiri juga patut menjadi perhatian. Meskipun ada populasi Sunni yang cukup besar di Iran, mereka kerap kali menghadapi pembatasan dalam beribadah, pembangunan masjid, dan akses terhadap posisi-posisi penting di pemerintahan. Hal ini berbeda jauh dengan perlakuan Iran terhadap warganya yang beragama Yahudi, yang meskipun minoritas, diberikan kebebasan beribadah dan hak-hak konstitusional yang relatif lebih baik, selama tidak terlibat dalam gerakan politik yang dianggap mengancam negara. Ironi ini menunjukkan kompleksitas kebijakan internal Iran yang sering kali luput dari perhatian.
Lantas, bagaimana Muslim harus bersikap terhadap peran Iran yang melawan agresi militer Israel? Silakan saja berbeda pandangan, tetapi jangan lantas menuduh bahwa orang yang berbeda pendapat itu sebagai agen-agen apa pun. Marilah saling menghargai dan menghormati pendapat orang lain. Bisa jadi ilmu yang kita kuasai tentang persoalan Timur Tengah, terutama konflik yang terjadi saat ini dan sejarah yang melingkupinya, tidak seluas ketiga ulama yang disebutkan di atas. Apalagi sampai kita terprovokasi oleh pernyataan musuh-musuh Islam yang sengaja membuat kegaduhan dan memecah belah umat.
Secara pribadi, penulis lebih mempercayai apa yang disampaikan oleh Ustadz Felix Siauw, Ustadz Khalid Basalamah, dan Ustadz Abdul Somad. Namun, penulis tetap setuju dengan pendapat dan nasihat dari Buya Yahya dalam videonya yang menyatakan bahwa saat ini kita tidak boleh terpecah dalam menyikapi persoalan antara Iran dan Israel. Bahkan jika pun yang membombardir negara Zionis itu adalah negara yang kita anggap negara kafir sekalipun, seperti Rusia, Korea Utara, atau bahkan negara Wakanda, kita pasti akan mendukung mereka dalam rangka membela kemanusiaan dan keadilan.
Sikap pasif negara-negara Arab yang mayoritas Sunni terhadap agresi Israel terhadap Palestina juga menjadi pertanyaan besar. Alasan di baliknya beragam, mulai dari kepentingan geopolitik, ketergantungan ekonomi pada negara-negara Barat, hingga kekhawatiran akan stabilitas internal jika terlalu aktif dalam konflik. Beberapa negara Arab bahkan telah menormalisasi hubungan dengan Israel, yang semakin memperumit posisi mereka dalam membela Palestina.
Oleh karena itu, jadikan diri kita netizen yang bijak dalam menyikapi apa pun, termasuk menyikapi pendapat berbeda, apalagi pendapat dari orang-orang yang kita anggap memiliki pengetahuan tentang hal tersebut. Jadi, tidak ada yang salah jika ada yang berbeda pendapat dan pandangan terkait peran Iran dalam memberikan perlawanan terhadap Israel, selama perbedaan itu dilandasi oleh ilmu dan niat untuk persatuan umat.
Disclaimer: Artikel ini ditulis berdasarkan analisis berbagai pandangan dan informasi yang tersedia, dengan tujuan untuk memperkaya wawasan pembaca mengenai kompleksitas isu Timur Tengah. Pandangan yang disampaikan dalam tulisan ini merupakan interpretasi penulis dan tidak bermaksud untuk menghakimi atau menyalahkan pihak manapun. Pembaca diharapkan untuk senantiasa mencari informasi dari berbagai sumber terpercaya dan memfilter setiap informasi dengan bijak.

Activity:
•Reporter •Advocate (Kandidat Notaris PPAT) •Konsultan Pendidikan Nawala Education (Overseas Study Advisor – Nawala Education) •Lecturer
Experience:
•Reporter & News Anchor TVRI •Medical Reps. Eisai Indonesia •HRD Metro Selular Nusantara
***
“Penghargaan paling tinggi bagi seorang pekerja keras bukanlah apa yang dia peroleh dari pekerjaan itu, tapi seberapa berkembang ia dengan kerja kerasnya itu.” – John Ruskin


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.