Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

SOSBUD · 9 Agu 2024 04:47 WIB ·

Memutus Tabu Kekerasan Seksual di Sumbar Lewat Adat


					Memutus Tabu Kekerasan Seksual di Sumbar Lewat Adat Perbesar

Padang, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] Anak-anak di Sumatera Barat kini didorong untuk mendobrak tabu dan berani melaporkan segala bentuk kekerasan seksual di lingkungan mereka. Langkah radikal ini menjadi bagian dari gerakan preventif total yang diserukan Gubernur Mahyeldi Ansharullah untuk memulihkan martabat daerah yang kian tercoreng oleh maraknya kasus asusila.

Selama ini, isu pelecehan sering kali terkubur sebagai aib keluarga, terutama di tingkat nagari dan pedesaan yang cenderung tertutup. Untuk memutus rantai krisis moral yang kompleks ini, Pemprov Sumbar memilih sudut pandang yang tidak biasa: mengawinkan edukasi modern dengan restorasi hukum adat Minangkabau.

Dalam seminar di Auditorium Gubernuran pada Kamis (18/8/2026), Mahyeldi menegaskan bahwa hukum formal saja tidak cukup. Benteng pertahanan utama justru ada pada pengaktifan kembali peran tokoh agama, tokoh adat (ninik mamak), dan cerdik pandai hingga ke level komunitas terkecil di masyarakat.

Strategi ini diterapkan langsung pada dua titik paling sensitif, yaitu institusi pendidikan dan rumah ibadah. Materi mengenai perlindungan bagian tubuh sensitif kini mulai diajarkan sejak dini di sekolah-sekolah, termasuk di dalam lingkungan pesantren. Pemerintah sengaja memecah stigma tabu agar anak-anak sadar bahwa mereka memiliki hak penuh atas perlindungan diri sendiri.

“Anak-anak harus paham bahwa mereka punya hak atas perlindungan. Mereka tidak boleh diam jika mengalami pelecehan,” tegas Mahyeldi.

Guna memastikan pesan ini menembus batasan geografis hingga ke pelosok desa, sosialisasi masif digulirkan melalui dua jalur kontras: konten video digital untuk generasi muda, dan materi khotbah Jumat di seluruh masjid untuk menjangkau masyarakat tua.

Pemprov Sumbar optimis, kembalinya fungsi pengawasan sosial yang ketat lewat konsep tradisional Tali Tigo Sapilin dan Tungku Tigo Sajarangan akan membuat ruang gerak pelaku predator seksual di tingkat lokal menyempit. Integrasi antara nilai adat yang responsif dan keberanian generasi muda untuk bersuara diharapkan mampu menekan angka kekerasan seksual di Sumbar secara signifikan.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 91 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Sinergi Pemuda Sumbar Jadi Benteng Persatuan Desa

23 Mei 2026 - 10:48 WIB

Kiat Desa Gandekan Genjot Target PBB Lewat Wayang Kulit

19 Mei 2026 - 11:58 WIB

Tradisi Merangkat: Pemuda Desa Puyung Jaga Jantung Adat

18 Mei 2026 - 19:16 WIB

Bersih Desa Karanglo Lor Ponorogo Pacu Gotong Royong

18 Mei 2026 - 17:11 WIB

Menghidupkan Kembali Pentas Malam Kuda Kepang Pringsewu

18 Mei 2026 - 13:43 WIB

Krisis Moral Mengancam Nagari, Pemimpin Adat Harus Bergerak

18 Mei 2026 - 13:23 WIB

Trending di SOSBUD