Opini [DESA MERDEKA] – Rencana kedatangan band asal Britania Raya, Coldplay, pada November mendatang di Indonesia memicu reaksi beragam. Di tengah antusiasme besar para penggemar, muncul gelombang protes dari sebagian masyarakat yang menyoroti dukungan grup band tersebut terhadap gerakan LGBT.
Isu ini mencuat seiring kabar penolakan serupa di Malaysia. Sebagaimana dilansir oleh busurnusa.com, publik Malaysia melayangkan aksi boikot karena vokalis Coldplay, Chris Martin, kerap mengibarkan bendera pelangi—simbol LGBT—dalam berbagai aksi panggungnya, termasuk saat tampil di Super Bowl. Tidak hanya masyarakat awam, politikus Malaysia seperti Nasrudin Hassan dari Partai Islam se-Malaysia secara terbuka menuntut pembatalan konser yang dianggap tidak bermanfaat tersebut.
Beda dengan di Indonesia, Malaysia seperti yang dilansir oleh busurnusa.com justru menolak konser Coldplay. Bendera pelangi yang dianggap bendera LGBT dikibarkan oleh vokalis Coldplay, Malaysia langsung boikot band tersebut.
Di Indonesia, promotor telah mengonfirmasi harga tiket dan denah lokasi untuk konser bulan November nanti. Namun, pertanyaannya kini: bagaimana respons Indonesia terhadap aksi boikot yang dilakukan tetangga serumpunnya tersebut?
Ketegangan ini kontras dengan fenomena “ticket war” yang sempat menggemparkan kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Malaysia. Masyarakat berbondong-bondong mengikuti perebutan tiket demi menyaksikan idola mereka. Fenomena ini dianggap sebagai bentuk apresiasi tinggi masyarakat terhadap karya seni Coldplay di tengah gempita industri musik dunia.
Namun, di balik kegemerlapan tersebut, fakta mengenai haluan politik dan sosial band ini mulai diperdebatkan. Mengutip portal tirto.id, salah satu personel Coldplay memang dikenal sebagai pendukung gerakan LGBT. Hal ini terlihat dari simbol-simbol pelangi yang identik dengan kelompok tersebut yang sering dibawa ke atas panggung.
Coldplay sendiri merupakan band rock yang dibentuk di London pada tahun 1996. Grup ini digawangi oleh Chris Martin sebagai vokalis, Jonny Buckland sebagai gitaris, Guy Berryman pada bas, dan Will Champion pada drum.
Pada akhirnya, menata gelaran internasional seperti ini memerlukan pertimbangan matang. Apakah gempita konser akan tetap berjalan mulus, atau justru akan membentur dinding penolakan serupa seperti yang terjadi di Malaysia? Masyarakat kini menunggu kebijakan pemerintah dalam menyikapi aspirasi yang ada.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.