Padang, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Panggung legislatif Sumatera Barat resmi berganti wajah. Sebanyak 65 anggota DPRD Sumbar periode 2024–2029 baru saja mengucap sumpah jabatan di bawah pimpinan Ketua Pengadilan Tinggi Padang, Ade Komarudin, Rabu (28/08). Namun, alih-alih hanya bicara soal kekuasaan, Gubernur Mahyeldi Datuak Marajo justru melempar tantangan radikal: anggota dewan harus punya nyali untuk diawasi balik oleh publik.
Dalam pelantikan tersebut, Mahyeldi menegaskan bahwa fungsi pengawasan adalah “roh” dari demokrasi. Tanpa pengawasan ketat, anggaran dan kebijakan berisiko melenceng dari kebutuhan rakyat. Namun, ia mengingatkan bahwa di era transparansi, posisi anggota dewan kini ibarat berada di dalam rumah kaca.
“Anggota DPRD punya kuasa mengawasi, tapi mereka juga harus siap diawasi oleh lembaga antikorupsi, auditor, hingga masyarakat luas melalui sistem digital,” ujar Mahyeldi dengan lugas.
Dashboard Digital: Senjata Baru Transparansi
Sudut pandang out of the box yang ditawarkan Pemprov Sumbar adalah pemanfaatan teknologi untuk memperpendek jarak antara penguasa dan rakyat. Mahyeldi memamerkan dashboard data real-time yang kini bisa diakses publik secara bebas. Langkah ini sekaligus menjadi ujian bagi para anggota dewan baru untuk bekerja lebih akuntabel karena performa mereka kini terpantau secara instan.
Integrasi sistem ini bertujuan agar fungsi legislasi dan penganggaran tidak lagi menjadi proses “ruang gelap”. Rakyat tidak perlu menunggu lima tahun untuk mengevaluasi wakilnya; mereka bisa melakukannya setiap hari melalui layar ponsel.
Melanjutkan Estafet Kerja Sama
Ketua DPRD Sumbar, Supardi, menyambut baik tantangan tersebut. Ia menekankan bahwa sinergi antara eksekutif dan legislatif yang telah terbangun di periode sebelumnya harus tetap kokoh, namun tetap dalam koridor pengawasan yang sehat.
“Kerja sama yang baik adalah kunci kemajuan Sumatera Barat. Kami mengajak seluruh anggota yang baru dilantik untuk menjaga semangat ini,” ungkap Supardi.
Estafet kepemimpinan ini kini berada di tangan 65 wakil rakyat yang baru. Tantangan mereka bukan lagi sekadar rapat di gedung megah, melainkan membuktikan bahwa mereka mampu menjadi penyambung lidah rakyat yang bersih di bawah sorotan tajam mata publik dan teknologi.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.