Padang, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Sabtu pagi di Kelurahan Jati Baru terasa berbeda. Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, memilih berjalan kaki dari kediamannya menuju TPS 12 yang berlokasi di Kampus STISIP Imam Bonjol Padang. Langkah kaki sang Gubernur bukan sekadar rutinitas, melainkan simbol ajakan bagi warga untuk tidak abai terhadap Pemungutan Suara Ulang (PSU) DPD RI wilayah Sumbar, Sabtu (13/7/2024).
Tiba sekitar pukul 08.14 WIB bersama istri, Harneli Bahar, Mahyeldi mendapati fakta yang cukup kontras dengan semangatnya. Hingga pukul 09.30 WIB, ia tercatat sebagai pemilih nomor urut sepuluh dalam daftar hadir. Kondisi ini mencerminkan masih rendahnya antusiasme masyarakat dalam “hajatan” ulang demokrasi ini.
Melawan Apatis di Bilik Suara
Rendahnya partisipasi menjadi tantangan besar dalam PSU kali ini. Mahyeldi mengakui bahwa pemerintah provinsi telah mengerahkan segala upaya untuk mendongkrak angka kehadiran pemilih. Mulai dari menerbitkan Surat Edaran Gubernur hingga sosialisasi masif di berbagai kanal media telah dilakukan.
“Kita sudah berupaya maksimal, ada koordinasi intensif dengan KPU juga. Sekarang sudah pukul 09.30 WIB dan masih sepi. Saya sangat berharap menjelang pukul 11.00 WIB nanti, kehadiran masyarakat bisa mencapai titik maksimal,” harap Mahyeldi usai menyalurkan hak pilihnya.
Suara Kecil untuk Dampak Besar
Meskipun hanya pemilihan DPD RI, Gubernur menekankan bahwa satu suara di bilik kayu sangat menentukan arah pembangunan Sumatera Barat di level nasional. Sebelum meninggalkan lokasi, ia menyempatkan diri bercengkrama dengan beberapa warga yang baru tiba, mengingatkan bahwa PSU ini adalah momentum penting bagi kedaulatan daerah.
PSU ini menjadi ujian bagi soliditas warga Sumbar. Kehadiran Mahyeldi yang berjalan kaki tanpa iring-iringan mewah seolah ingin menyampaikan pesan bahwa demokrasi dimulai dari langkah sederhana setiap individu menuju TPS terdekat.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.