Way Kanan, Lampung [DESA MERDEKA] – Bagaimana cara organisasi santri tetap relevan di era gempuran teknologi? Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU-IPPNU Kecamatan Banjit punya jawaban unik. Tak hanya menggelar Masa Kesetiaan Anggota (Makesta), mereka juga menyisipkan turnamen Mobile Legends sebagai daya tarik kaderisasi dalam memperingati Hari Santri Nasional di Aula MTs Guppi Banjit.
Langkah inovatif ini diambil untuk mematahkan stigma bahwa organisasi keagamaan hanya berisi kegiatan kaku. Ketua PAC IPNU Banjit, Rekan Aldhy Ariansyah, menegaskan bahwa hobi generasi z harus diwadahi secara positif agar mereka merasa nyaman berproses di bawah naungan Nahdlatul Ulama.
“Kami ingin mengedukasi kader bahwa di IPNU itu asyik. Tidak melulu belajar serius, ada ruang untuk bermain dan bercanda yang sehat. Ini cara kami membangun kekompakan,” ujar Aldhy.
Fokus pada Akar Rumput: Target 27 Ranting
Pelantikan pengurus periode 2021-2023 ini menjadi momentum besar bagi pelajar NU di Banjit. Ketua PC IPPNU Kabupaten Way Kanan, Faridatul Husna, S.Pd., menitipkan pesan besar agar pengurus baru tidak hanya berhenti pada seremoni pelantikan. Fokus utama ke depan adalah pembentukan ranting-ranting hingga ke pelosok desa di Kecamatan Banjit.
Faridatul menekankan pentingnya pendampingan pasca-Makesta. Ia mengingatkan agar pengurus tidak membiarkan anggota baru “bingung” setelah masuk organisasi. Inovasi berkelanjutan adalah kunci agar kader tetap istiqomah belajar dan berproses di organisasi berbasis Ahlussunnah wal Jama’ah ini.
Ujung Tombak Kaderisasi NU
Senada dengan hal tersebut, Ketua MWC NU Kecamatan Banjit, Muhammad Din Hadi, M.Pd., menyatakan dukungan penuh terhadap aktivitas IPNU-IPPNU. Baginya, kedua organisasi pelajar ini adalah ujung tombak yang memperkenalkan nilai-nilai ke-NU-an sejak dini.
“Ini adalah awal proses pembelajaran. Kaderisasi harus jalan terus, dan kami di MWC NU akan selalu pasang badan untuk mendukung penuh setiap langkah produktif mereka,” tegas Muhammad Din Hadi saat membuka acara secara resmi.
Selama tiga hari kegiatan, para peserta tidak hanya digembleng dengan ideologi cinta tanah air, tetapi juga diajak mengasah sportivitas melalui kompetisi e-sport. Sinergi antara tradisi kepesantrenan dan adaptasi gaya hidup modern ini diharapkan mampu melahirkan kader yang tangguh secara mental namun tetap lincah mengikuti perkembangan zaman.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.