Malang, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Berabad-abad lalu, di tanah yang kini kita kenal sebagai Desa Sumberporong, Kecamatan Lawang, atmosfernya mungkin sempat tegang. Cerita tutur yang diwariskan turun-temurun mengisahkan perseteruan sengit antara dua tokoh penguasa lokal: Demang Kentol dan Demang Lengket. Ego dan konflik sempat merajai, sebelum akhirnya seorang tokoh ulama bernama Mbah Pati datang membawa dakwah keteduhan yang mendamaikan keduanya.
Para leluhur itu tentu tidak pernah menyangka. Perjalanan spiritual, konflik, dan ikrar damai yang mereka lalui di masa lampau kini mewujud menjadi sesuatu yang tak terduga berabad-abad kemudian: guratan lilin malam di atas selembar kain mori.
Melalui Batik Sumberparang, generasi penerus di lereng Gunung Arjuna kini sedang merajut kembali kisah rekonsiliasi tersebut menjadi sebuah identitas ekonomi baru.
Mengubah Teras Rumah Jadi Ruang Kreasi
Bagi warga RW 3 Desa Sumberporong, seperti pasangan suami istri Pak Dodok dan Bu Indri, membatik kini bukan lagi sekadar pengisi waktu luang. Di teras rumah yang sederhana, mereka berupaya menghidupkan kembali filosofi perdamaian para leluhur.
Jika motif parang klasik di tanah Jawa umumnya melambangkan ketangkasan dan peperangan, maka Batik Sumberparang di desa ini justru membawa pesan sebaliknya: simbol persatuan dan semangat kerukunan warga.
“Setiap goresan ini rasanya seperti sedang melukis masa depan anak-anak kami,” ungkap Bu Indri (52) sambil meniup cantingnya. Ada harapan besar agar anak cucu mereka kelak tetap mengingat akar sejarah desanya.
Sinergi antargenerasi pun mulai tampak. Sementara generasi tua seperti Pak Dodok dan Bu Indri menjaga ketelatenan proses canting konvensional, para pemuda desa perlahan mengambil peran dalam digitalisasi motif dan eksplorasi pasar digital.
Menatap Realitas: Merangkak dari Tahap Rintisan
Meski memiliki narasi sejarah yang sangat kuat dan memikat, warga Sumberporong memilih untuk tetap membumi. Mereka sadar bahwa membangun industri kreatif tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Sebagai usaha yang masih berada di tahap rintisan awal, kelompok pengrajin ini masih dihadapkan pada tantangan nyata: keterbatasan pasar, manajemen kelayakan usaha, hingga penguatan identitas visual produk.
Celah inilah yang kemudian dijembatani oleh kehadiran akademisi. Pada Agustus 2026, Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) hadir di tengah-tengah pengrajin untuk menyusun dokumen studi kelayakan bisnis. Tidak hanya itu, mereka juga membantu merancang brand identity rintisan ini—mulai dari pembuatan logo resmi, penataan tipografi, hingga desain kemasan agar lebih bernilai jual.
Kerja sama dengan PT Baruna (BUMD Provinsi Jawa Timur) juga terus dijajaki demi memperkuat legalitas perizinan dan membuka akses permodalan yang lebih sehat bagi warga.
Air Perdamaian yang Terus Mengalir
Dari sebuah konflik kuno antara Demang Kentol dan Demang Lengket, Desa Sumberporong hari ini belajar bahwa kedamaian bisa dirayakan dengan cara yang kreatif. Batik Sumberparang bukan sekadar komoditas sandang yang diproduksi massal; ia adalah mesin waktu yang membawa pesan damai dari masa lalu untuk masa depan ekonomi desa yang lebih mandiri.
Di bawah bayang-bayang Gunung Arjuna, warisan leluhur itu kini tidak lagi membeku di buku sejarah, melainkan terus hidup dan mengalir di ujung jari para pengrajinnya.

Penulis Desa, Budaya dan Ekonomi Lokal | Pemerhati Masalah Sosial serta Pembangunan Perdesaan


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.