Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

PEMDA · 5 Feb 2026 17:50 WIB ·

Buku dan Pulpen Berujung Maut: Tamparan Keras Kemiskinan Ngada


					Surat yang di tulis tangan oleh Korban, (gambar istimewa) Perbesar

Surat yang di tulis tangan oleh Korban, (gambar istimewa)

Nggada, Nusa Tenggara Timur [DESA MERDEKA] Sebuah tragedi memilukan di Kabupaten Ngada, NTT, menjadi bukti nyata betapa lubang kemiskinan ekstrem masih mampu menelan harapan masa depan. Seorang siswa kelas IV SD berusia 10 tahun nekat mengakhiri hidupnya, diduga kuat karena tekanan mental akibat ketidakmampuan keluarga memenuhi kebutuhan dasar sekolah seperti buku dan pulpen.

Peristiwa ini bukan sekadar duka keluarga, melainkan alarm keras bagi program jaminan sosial pemerintah yang terkesan “kecolongan” di tingkat akar rumput. Di tengah klaim keberhasilan perlindungan sosial, nyatanya masih ada keluarga miskin ekstrem yang luput dari pendataan, hingga anak-anak mereka harus menanggung beban ekonomi yang melampaui usia mereka.

Respons Kemanusiaan: Kadis Pendidikan Adopsi Kakak Korban
Merespons situasi ini, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P&K) Kabupaten Ngada, Elisius Watungadha, mengambil langkah kemanusiaan yang luar biasa. Melalui sambungan telepon pada Kamis (5/2/2026), Elisius menyatakan komitmen pribadinya untuk memutus rantai kemiskinan di keluarga tersebut.

“Mereka ada lima bersaudara. Secara pribadi, saya akan mengadopsi salah satu kakaknya dan menjamin seluruh biaya pendidikannya hingga jenjang perguruan tinggi,” tegas Elisius. Langkah ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab moral agar tragedi serupa tidak menimpa anggota keluarga lainnya.

Intervensi Trauma dan Evaluasi Kebijakan
Dinas P&K Ngada juga telah menerjunkan tim ke rumah duka untuk memberikan bantuan materiil serta pendampingan psikososial. Mengingat beratnya beban mental yang dialami keluarga, layanan konseling khusus diberikan untuk membantu pemulihan kondisi psikologis kepala keluarga.

Tragedi ini menjadi momentum evaluasi kritis bagi Pemerintah Provinsi NTT dan Pemerintah Pusat. Pendataan warga miskin ekstrem tidak boleh hanya sekadar angka di atas kertas. Negara dituntut hadir lebih nyata di wilayah pedesaan agar tidak ada lagi anak bangsa yang harus menyerah pada hidup hanya karena sebatang pulpen.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 157 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Terminal Barang Glagahan: Peluang Emas atau Ancaman Desa?

8 Juni 2026 - 22:18 WIB

Sampah Jadi Berkah, Strategi Sumbar Menuju Indonesia Asri

6 Juni 2026 - 23:38 WIB

Atasi Kelangkaan, Pemprov Sumbar Perketat Pengawasan BBM Subsidi

6 Juni 2026 - 12:11 WIB

Pancasila Sebagai Jangkar Persatuan Masyarakat Desa

1 Juni 2026 - 17:35 WIB

Reformasi Birokrasi Sumbar: Kualitas Pelayanan Publik Kini Naik Kelas

30 Mei 2026 - 07:50 WIB

Dinsos Jombang Salurkan Bantuan ATENSI 2026 kepada 34 Penerima Manfaat untuk Kembangkan Usaha

26 Mei 2026 - 17:20 WIB

Trending di PEMDA