Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

EKBIS · 20 Jul 2025 05:32 WIB ·

Potensi Ikan Hias Indonesia: KKP Targetkan Pelaku Bertumbuh Pesat


					Potensi Ikan Hias Indonesia: KKP Targetkan Pelaku Bertumbuh Pesat Perbesar

Jakarta [DESA MERDEKA] Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mendorong pengembangan sektor ikan hias di Indonesia. Potensi besar industri ini diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. KKP menargetkan jumlah pelaku budidaya ikan hias meningkat signifikan, dari 21.000 pada tahun 2023 menjadi 50.000 orang pada tahun 2029, sejalan dengan visi Indonesia Maju.

Hal ini disampaikan oleh Joni, Kepala Balai Riset Ikan Hias KKP, dalam forum daring “Laris Forum Ladang Rezeki” episode keempat. Joni memaparkan bahwa Indonesia, sebagai negara megabiodiversitas, memiliki kekayaan ikan hias luar biasa. Dari sekitar 17.000 spesies ikan yang teridentifikasi, 4.552 di antaranya adalah ikan hias. Ini menjadikan Indonesia “rumah bagi ratusan ikan hias eksotis” dengan pangsa pasar global yang menjanjikan.

Ikan Hias Indonesia Mendunia

Joni menjelaskan, banyak ikan hias endemik Indonesia memiliki nilai jual tinggi di pasar internasional. Contohnya, Botia yang harganya bisa mencapai 10 Euro di Eropa, atau Arwana Super Red yang sempat diklaim Malaysia. “Kami berupaya mengusulkan Arwana Super Red ini menjadi Warisan Dunia,” tegasnya. Selain itu, ikan-ikan seperti Cupang, Rainbow, dan Gapi juga sangat populer. Bahkan, ikan yang sebelumnya dianggap remeh seperti ikan gabus (snakehead) kini naik kasta menjadi ikan kontes berharga fantastis. “Ini menunjukkan potensi branding yang luar biasa,” imbuh Joni.

Saat ini, Indonesia menempati peringkat kedua dunia dalam ekspor ikan hias, naik dari posisi kelima. Nilai ekspor pada tahun 2023 mencapai lebih dari Rp547 miliar, meningkat dari tahun sebelumnya. Meskipun demikian, total transaksi industri ikan hias di Indonesia pada tahun 2023 mencapai Rp6,71 triliun, mengindikasikan bahwa pasar domestik juga sangat besar dan banyak transaksi yang belum tercatat.

Manfaat dan Tantangan Pengembangan

Selain potensi ekonomi, Joni menyoroti manfaat lain dari memelihara ikan hias, yaitu mengurangi stres, meningkatkan fokus, dan memberikan inspirasi. “Kami berharap semua kantor kecamatan, kantor desa, dan perkantoran lainnya memelihara ikan hias. Ini akan menjadi pasar pasti bagi para pembudidaya,” ujarnya.

Meskipun potensi besar, industri ini menghadapi tantangan. Joni menyebutkan bahwa 95% pelaku masih bersifat tradisional, dengan 83% di antaranya berpendidikan di bawah SMP. “Ini menjadi tugas berat Laris Forum untuk mendelivery sistem dan membentuk ekosistem yang mendukung profesionalisme pelaku,” jelasnya. Kurangnya persatuan antar pelaku yang kerap menimbulkan perang harga juga menjadi hambatan.

Strategi Pengembangan dan Harapan

Peta sebaran pembudidaya ikan hias menunjukkan dominasi Jawa Timur (terutama Blitar untuk Koi) dan Jawa Barat (Depok untuk Neon Tetra). Joni berharap klaster-klaster ekonomi berbasis sentra ikan hias dapat terus dibangun, diiringi dengan penyederhanaan regulasi. “Model kemitraan inti-plasma perlu dikembangkan, di mana korporasi seperti koperasi atau BUM Desa dapat menjadi inti yang membimbing para plasma,” sarannya.

Di sisi lain, peluang usaha ikan hias sangat luas, dari hulu hingga hilir. Mulai dari penampung, broker, dropshipper, hingga pengelola toko dan marketplace digital. “Generasi muda, khususnya Gen Z dan milenial, memiliki peran besar dalam digitalisasi promosi dan pemasaran ikan hias,” kata Joni. Dengan 220 juta pengguna internet di Indonesia, pasar digital menjadi sangat menjanjikan.

Wali Nagari Labuah Gunuang, Khairul Hadi Dt. Paduko Marajo Lelo, dalam kesempatan terpisah, mengapresiasi upaya pemerintah dalam mengembangkan potensi lokal, termasuk ikan hias. Dukungan terhadap pengembangan budidaya ikan hias di desa-desa yang memiliki sumber daya air yang baik diharapkan dapat menjadi peluang bisnis baru bagi Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) maupun masyarakat.

Diskusi ini juga menyoroti kasus ikan endemik Betta strohi di Sukamara, Kalimantan Tengah, yang langka namun bernilai jual tinggi di pasar global. Ansari, seorang warga Sukamara, berharap ada identifikasi dan pengembangan lebih lanjut untuk melindungi habitat ikan ini. “Peran pemerintah daerah dan pusat sangat dibutuhkan untuk melindungi habitat ikan endemik yang berpotensi menjadi ikan hias bernilai tinggi,” ujarnya.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 74 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Bukan Cuma Berburu Turis, Ini Wajah Baru Pariwisata Masa Depan!

31 Mei 2026 - 01:38 WIB

Internet Rakyat: Senjata Baru BUMDesa Sragen Mandiri Digital

30 Mei 2026 - 18:42 WIB

Perangkat Internet Rakyat di Acara GAS 2026

Samsat Budiman: BUMDesa Gesit Amankan Pajak Desa

30 Mei 2026 - 12:22 WIB

Pelayanan Pembayaran Pajak Kendaraan Samsat Budiman

Strategi GAS Sragen 2026 Dongkrak Pendapatan Daerah

29 Mei 2026 - 16:44 WIB

Government Auto Show 2026 di Gedung Sasana Manggala Sukowati Sragen

Hilirisasi Pinang Lima Puluh Kota Menembus Pasar Ekspor

29 Mei 2026 - 10:45 WIB

Dampak Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Desa: Benarkah Sawah Terancam?

24 Mei 2026 - 15:07 WIB

Trending di EKBIS