Desa Merdeka – Semarang : Rapat Pengurus Harian DPW Petani Jateng telah menghasilkan poin Penting. Hadir Ketua Umum Petani Satrio Damardjati dan Ketua Laboratorium Tani Mandiri Propinsi Riau Sahat Antony. Rapat yang dipimpin oleh Ketua DPW Petani Jateng Dumadi Tri Restiyanto dan dihadiri Oleh Ujang Sumbarjo Wakil Bendahara DPW Petani Jawa Tengah. Ketua DPC Petani Kota Semarang dan Wakil DPC Petani Kabupaten Semarang Taif Maskuri. Ketua Sekolah Petani Jateng Winarso dan Ketua Badan Koordinasi Permodalan DPW Petani Jateng Galih Rilo. Dalam rapat ini membahas Agenda Penting seperti yang disampaikan oleh Ketua Umum Petani Satrio Damardjati tetap konsisten dalam hal menjaga dan membumikan Ideologi Pancasila di dalam tubuh Persaudaraan Mitra Tani Nelayan Indonesia. Serta isu isu penting persoalan pertahanan pangan dan distribusi beras. Serta membangun kemitraan serta kemitraan modal secara gotong royong sesuai cita cita dan misi Petani untuk melakukan percepatan penciptaan Basis Produksi bagi Petani.

DPW Petani Jawa Tengah Dumadi Tri Restiyanto memfokuskan pada perlunya dukungan kepada DPW Petani Yogyakarta yang membidani ide ide dasar tentang Zero waste sistem yang dipelopori dengan Kerjasama Petani Kulon Progo dengan Pemerintah Kabupaten Kulon Progo. Ide positif yang disampaikan oleh Peter Drauge aktifis Petani DPW Petani Yogyakarta bahwa dia menyampaikan pendapat masyarakat dunia terutama Indonesia harus berpikir bahwa massa depan generasi mendatang harus diperhatikan dan dijaga oleh generasi saat ini. Dimana lingkungan hidup harus dijaga kelangsungan ekologi dan menjaga ancaman pencemaran lingkungan dengan melakukan pengolahan limbah yang terpadu. Dalam hal ini Petani harus memulai dari dini dan awal agar persoalan limbah dan sampah tidak menjadi persoalan yang semakin pelik di kemudian hari.

DPW Petani Jawa Tengah berpendapat bahwa Industrialisasi di Indonesia harus memperhatikan dampak eksternal dari Industri berupa sampah atau limbah. Disamping menjadi tanggung jawab Pemerintah sebagai pelayan aktifitas publik. Swasta dan rakyat juga berperanan penting. Dia menjelaskan bahwa Siklus produksi dari bahan mentah menjadi produk dan dikonsumsi, sisanya akan menjadi limbah tapi bila diolah kembali akan menjadi siklus Daur ulang dikelola menjadi bahan mentah dan bahan baku industri kembali sehingga tidak meninggalkan bahan yang menciptakan gangguan ekologi lingkungan berupa pencemaran.

Pengolahan limbah padat seperti Kaca dan plastik serta limbah cair harus dilakukan. Menurut nya pemerintah memiliki perusahaan air minum dan ternyata tidak memiliki perusahaan pengolahan limbah. Dalam hal ini perlu instruksi presiden atau disingkat inpres untuk Perusahaan Daerah berupa BUMD bahkan BUMN yang khusus mengolah limbah cair dan padat. Petani yang sudah memulai dengan ide dan percontohan di Yogyakarta siap dilibatkan dan mendampingi di daerah lain untuk Wilayah ,Cabang dan Kelompok lain di seluruh Indonesia. Serta jajaran pengurus Petani di Seluruh DPC Petani melakukan kerja sama dengan pemerintah kota dan kabupaten masing masing .

Khususnya di Jawa Tengah dimana kepadatan Penduduk dan Industrialisasi semakin meningkat dengan Pemerintah Kabupaten dan kota di Jawa Tengah.

Persoalan Impor beras belum dibahas mendetail mengingat sejauh mana kepentingan Impor beras dalam rangka stabilitas harga Beras di Indonesia. Pemerintah harus terbuka kapan impor dan kapan ekspor beras dilakukan . Apakah dilakukan oleh swasta,Pemerintah atau lembaga lain. Dan apakah impor ini merupakan barter dari surplus perdagangan atau kepentingan politik bilateral. Agar tidak terjadi spekulasi masyarakat tentang adanya proses impor beras di tengah pasar bebas Internasional.

 

Dibuat oleh Biro Propaganda dan Penerapan DPW Petani Jateng.