Desa Merdeka – Sleman : Kebiasaan tidur warga Dusun Kasuran, Desa Margodadi, Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman terbilang unik. Mereka tidur tanpa beralaskan kasur kapas, dan kebiasaan itu sudah berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu.

Kebiasaan tidur tanpa kasur kapas ini bukan karena faktor ekonomi, melainkan tradisi. Mereka percaya jika seorang warga Dusun Kasuran tidur beralaskan kasur maka akan terjadi musibah.

“Ya, warga di sini setiap hari tidur tidak memakai alas kasur. Memang pantangan menggunakan kasur kapas,” jelas Wartilah (53), kepala Dukuh Kasuran Kulon, Desa Margodadi, saat ditemui di rumahnya, Senin (12/1/2015).

Diakuinya, larangan ini tidak masuk di akal, namun faktanya sering terjadi musibah jika pantangan itu dilanggar. Menurut Wartilah, suatu hari seorang warga pernah melanggar pantangan itu dengan nekat tidur pakai kasur kapas. Akibatnya, warga tersebut langsung sakit.

“Kebiasaan ini sudah sejak nenek moyang dan memang kejadian. Dulu ada yang memakai kasur kapas, langsung sakit. Ada juga anak-anak yang demam dan teriak-teriak seperti kesurupan,” ujarnya.

Wartilah mengaku ia sendiri tidak percaya dengan mitos tersebut, namun karena sejak kecil dinasihati oleh orangtuanya agar jangan tidur beralaskan kasur kapas, ia pun terpaksa menurutinya.

Wartilah pun menunjukkan tempat tidur yang setiap hari dipakainya. Di dalam kamar berukuran 3 X 3 meter itu tampak berdiri ranjang besi berpapan kayu yang menurut ibu tiga orang anak ini, hanya dilapisi tikar ataupun karpet ketika digunakan untuk tidur.

“Akhirnya sampai sekarang, waktu di rumah sakit kan pakai kasur, badan saya malah sakit. Mungkin sudah kebiasaan,” tutur perempuan yang sudah sejak tahun 1977 tinggal di Dusun Kasuran ini.

Menurut Wartilah, larangan memakai kasur untuk tidur itu hanya berlaku untuk jenis kapas. Sementara, kasur dari busa rupanya diperolehkan dan tidak akan menyebabkan musibah. Oleh karena itu, kini, sebagian warga ada yang menggunakan kasur busa untuk tidur.

“Kalau sekarang ada yang masih beralaskan tikar, ada yang sudah membeli kasur busa. Pokoknya bukan kasur kapas,” tandasnya.

Kebiasaan unik ini menyedot perhatian peneliti, dosan dan beberapa media. Mereka pun mengunjungi dusun ini mengetahui lebih jauh tradisi unik tersebut.

Sunan Kalijaga

Pantangan tidur beralaskan kasur kapas bagi warga Dusun Kasuran Desa Margodadi Kecamatan Seyegan Kecamatan Sleman ternyata sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu. Wartilah menjelaskan awal mula munculnya pantangan tidur beralasakan kasur kapas.

Dia mengisahkan, sekitar 600 tahun yang lalu, Sunan Kalijaga yang saat itu menyebarkan Agama Islam singgah ke sebuah rumah milik Djanu di Dusun Jaron (sekarang Kasuran). Dusun Jaron saat itu berada di tengah hutan belantara.

“Dalam perjalanannya menyebarkan Agama Islam, Kanjeng Sunan Kalijaga mampir ke dusun ini, dulu namanya Jaron,” ucapnya.

Mendapat tamu Sunan Kalijaga yang merupakan tokoh besar, Djanu lantas menyiapkan sebuah ruangan lengkap kasur kapas untuk beristirahat. Di Dusun Jaron sendiri saat itu ada seseorang yang sakti bernama Soncondalu. Orang ini merupakan tokoh berpengaruh karena ilmunya yang tanpa tanding.

Melihat kedatangan Sunan Kalijaga ke Dusun Jaron untuk beristirahat sekaligus menyebarkan Agama Islam, Soncondalu merasa terusik. Dengan kesaktiannya, Soncondalu lantas mengirim santet ke kasur kapas yang dipakai Sunan Kalijaga beristirahat.

“Saat bangun, Kanjeng Sunan Kalijaga merasa badannya tidak enak. Kanjeng Sunan tahu siapa yang telah mengirim santet dan memilih untuk memaafkan Soncondalu,” katanya.

Melihat kerendahan hati, kesabaran serta kebijaksanaan Sunan Kalijaga meski telah disakiti lewat santet, sikap Soncondalu pun akhirnya berubah 180 derajat. Soncondalu yang awalnya membenci justru mengikuti Sunan Kalijaga.

“Saat itu, Kanjeng Sunan Kalijaga tidak pernah membalas santet Soncondalu. Kanjeng Sunan justru memaafkan tindakan Soncondalu,” kisahnya.

Setelah sekitar satu bulan berada di Dusun Jaron, Sunan Kalijaga lalu melanjutkan perjalanannya menyebarkan Agama Islam. Namun sebelum pergi, Sunan Kalijaga berpesan kepada Djanu bahwa kasur yang telah disantet tidak boleh dipakai sebagai alas tidur oleh siapa pun. Sebab, santet yang ada di kasur tersebut belum dinetralisir.

“Kanjeng Sunan Kalijaga meminta Djanu tidak menggunakan kasur yang ada santetnya. Djanu diminta untuk menguburkan kasur itu,” ucapnya.

Pesan Sunan Kalijaga itu, lanjutnya oleh Djanu diubah. Kepada warga, Djanu bercerita agar jangan ada warga Dusun Jaron yang tidur beralaskan kasur kapas sebelum ilmunya setara dengan Sunan Kalijaga. Cerita Djanu itu pun akhirnya turun temurun sampai sekarang.

“Cerita yang salah itu sudah diluruskan pada 2012 lalu. Sekarang sudah dibuat buku,” tuturnya.

Diyakini, kasur yang dikubur oleh Djanu itu saat ini masih ada di pemakaman Dusun Kasuran. Lokasi kuburan kasur itu oleh warga dibuatkan sebuah rumah di tengah-tengah pemakaman.

“Sampai saat ini, lokasi dikuburkannya kasur itu masih ada. Di tengah-tengah pemakaman Dusun Kasuran,” pungkasnya.

 

 

Sumber : Kompas