Desa Merdeka – Jakarta : Dewan Pengurus Nasional Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia mengadakan Diskusi Tematik II yang bertema “Sampai Dimana Kedaulatan Pangan Indonesia & Apa Langkah serta Solusinya?”. Dalam Diskusi tersebut Pembicara Kunci Prof. Dwi Andreas Santosa, Guru Besar IPB yang juga Ketua Umum AB2TI ini memaparkan bahwa konsep pembangunan pertanian indonesia masih menggunakan 5 (lima) pendekatan sebagai berikut pertama sebagaimana hampir di seluruh negara di dunia → ketahanan pangan (food security), Kedua terdapat lebih dari 200 definisi ketahanan pangan, ketiga akses semua orang terhadap pangan pada setiap waktu, keempat tidak memandang dimana pangan diproduksi dan dengan cara bagaimana, kelima bias ke kemampuan untuk menyediakan pangan pada level global, regional maupun nasional serta bias ke kepentingan negara maju dan Multi National Corporation (MNC).

Prof. Dwi Andreas Santosa mengatakan Produksi, Ekspor dan Impor Serealia di Dunia (Agarwal, 2014) menerakan bahwa di Asia mempunyai tingkat Produksi 42,4 %, Ekspor 14,2 %, Impor 50.1 %, Afrika Produksi 6,5 %, Ekspor 2,6 %, Impor 21,5 %, Amerika Latin Produksi 7,8 %, Ekspor 12,4 %, Impor 18,2 %, Amerika Utara Produksi 20 %, Ekspor 37,1 %, Impor 3,4 %, Eropa Utara Produksi 21,9 %, Ekspor 27,5 %, Impor 6,3 % (prosentase dari total dunia), adapun dampak dari ketahanan pangan yaitu pertama 90% perdagangan pangan serealia dikuasai 5 TNC Antara lain Cargill (USA), Bunge Ltd (Bermuda), Archer Daniels Midland (USA), Marubeni (Japan) (included Columbia Grain International), The Noble Group (UK), kedua 89% input pertanian (agrokimia) dikuasai 10 TNC, ketiga 67% pasar benih dikuasai 10 TNC, keempat 99,9% benih transgenik dikuasi 6 TNC, keempat dengan Monsanto menguasai 90%. Bahkan krisis pangan dunia 2008 tercatat peningkatan keuntungan Multi National Corporation dari tahun sebelumnya Antara lain Archer Daniels Midland (ADM) 55%, Cargill 86%, Bunge 189%, Monsanto 54%, Dupont Agriculture and Nutrition 21%, Potash Corporation 185.9%, Mosaic 1.200%.

Prof yang biasa tinggal dan makan bersama di rumah petani bila ada kunjungan ke basis-basi tani ini juga memaparkan terkait perkebangan luas lahan dikuasai per rumah tangga usaha pertanian sepuluh tahun terakhir lahan bukan pertanian pada 2003 Rumah Tanga Petani menguasai kurang lebih 569 m2 sedangkan pada tahun 2013 menjadi 344 m2, lahan sawah Rumah Tanga Petani menguasai kurang lebih 1.008 m2 sedangkan pada tahun 2013 menjadi 1.989 m2, lahan bukan sawah Rumah Tanga Petani menguasai kurang lebih 2.501 m2 sedangkan pada tahun 2013 menjadi 6.591 m2 (D.A. Santosa, 2018). Sedangkan konversi kepemilikan lahan di pulau jawa (sensus pertanian 2003 dan 2013) terdapat kurang lebih konversi di Jateng 202.222 hektar, Jatim 167.864 hektar, Banten 71.519 hektar, Jabar 36.389 hektar, DIY 30.302 hektar hal ini berpotensi menurunkan produksi beras 3,2 juta ton, jagung 1,6 juta ton, kedelai 93 ribu ton. Sedangkan Petani berumur diatas 35 tahun sejumlah 87.13% dan Petani berumur diatas 45 tahun sejumlah 60.79%, selain itu ketergantungan tehnologi mengakibatkan 78% benih hortikultura dikuasai asing (Diolah dari: Agung Pambudi, FE UI, 2012). Parameter “Kesejahteraan” Petani Selama 16 Tahun Terakhir yaitu nilai tukar petani nasional pada tahun 2000 pada kisaran 124.00, tahun 2003 diatas 124.00, tahun 2008 dan 2009 kisaran 100.00 danpada 2016 sekitar 102.00, ( Santosa, D.A. dan Kartodiharjo, H. 2018). Sedangkan dari 2014 hingga 2017 nilai tukar petani mengalami perkembangan 2014 sebesar 102.03, tahun 2015 sebesar 101.61, tahun 2016 sebesar 101.65 dan tahun 2017 sebesar 101.27 (D.A. Santosa, 2018).

Prof. Dwi Andreas Santosajuga mencermati Impor pangan 2014 – 2017antara lain beras pada tahun 2014 sebesar 844.190.606, tahun 2015 sebesar 861.629.584, tahun 2016 sebesar 1.283.212.551 dan pada tahun 2017 sebesar 312,801,507. Jagung pada tahun 2014 sebesar 3.374.501.782, tahun 2015 sebesar 3.500.103.794, tahun 2016 sebesar 1.331.574.757 dan pada tahun 2017 sebesar 639.939,916. Kedelai pada tahun 2014 sebesar 5.845.414.382, tahun 2015 sebesar 6.416.820.924, tahun 2016 sebesar 6.333.785.719 dan pada tahun 2017 sebesar 7.156.825.719. Gandum pada tahun 2014 sebesar 7.734.351.832, tahun 2015 sebesar 7.623.250.997, tahun 2016 sebesar 10.811.236.625 dan pada tahun 2017 sebesar 11.264.357.111, (D.A. Santosa, 2018), yang menarik adalah peningkatan impor gandum yang menyebabkan Indonesia menjadi penimpor gandum terbesar di dunia melebihi mesir dan brazil (FAS-USDA Februari 2018).

Ada Enam Pilar Kedaulatan Pangan sebagaimana Konsep IPC for Food Sovereignty dan Via Campensina Antara lain Hak atas pangan: adopsi hak dasar atas pangan dan kebijakan pertanian, diversifikasi dan pangan lokal → mengakhiri kelaparan dan kurang gizi, Reforma agraria: petani kecil dan tuna tanah memiliki dan mengontrol lahan, Akses terhadap sumberdaya produktif lain: akses petani kecil terhadap sumberdaya air, genetik dan SDA lainnya, Produksi pertanian agro-ekologi: model pertanian agro-ekologi yang berpusat di komunitas dan keluarga, Perdagangan dan pasar lokal serta perlindungan petani dari sistem perdagangan pangan internasional yang tidak adil dan Demokrasi: petani kecil memiliki hak untuk menetapkan kebijakan pertanian pada semua tingkatan, hak dan kedaulatan petani atas benih, teknologi, budidaya, pendidikan dan informasi. Sedangkan kedaulatan pangan di Indonesia Antara lain Gerakan petani dan masyarakat sipil sejak akhir tahun 1990’an yaitu Perjuangan langsung di gerakan tani dan Perjuangan untuk memasukkan Kedaulatan Pangan ke dalam Undang-Undang ( UU No 18/2012 tentang Pangan; Bab II Pasal 2:Penyelenggaraan Pangan dilakukan dengan berdasarkan asas: a. kedaulatan; b. kemandirian; c. ketahanan; d. keamanan dst. dan UU No 19/2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani; Bab II Pasal 2: Perlindungan dan Pemberdayaan Petani berasaskan pada: a. kedaulatan; b. kemandirian; dst.)

Kebijakan pertanian masa lalu dan kini belum menunjukan hal signifikan yang mana pada tahun 2004-2014 dengan upaya Perbaikan jaringan irigasi, subsidi benih dan pupuk, Bansos, KUR, food estate dengan Program swasembada beras, jagung, kedelai, daging sapi, gula, peningkatan anggaran pertanian dan pangan 2004-2013 sebesar 611% namun outputnya 5 juta Rumah Tangga Petani terpaksa keluar dari lahannya dan peningkatan impor pangan 346%. Lalu bagaimana pada tahun 2015-2019 dengan upaya Perbaikan jaringan irigasi, waduk, KUR, SUBSIDI BENIH DAN PUPUK dengan program Program Swasembada 6 komoditas sd 2019. Bagi-bagi Alsintan, TTI, Program PAJALE, Upsus, Peningkatan drastis anggaran pertanian dan pangan ! 55 – 60 T/th, kita menanti apa outputnya ? ujarnya

Akhirnya dalam kondisi saat ini perlu reorientasi ekonomi-politik yang Menjungkir Struktur Pertanian supaya demokratis BUMN, korporasi, entrepreneur menjadi Pertanian rakyat, pertanian keluarga agroekologi dan Pertanian rakyat, pertanian keluarga agroekologi menjadi BUMN, korporasi, entrepreneur. Arkeologi dalam hal ini Model pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan, Berpusat di komunitas dan keluarga, Pendapatan dan kesejahteraan petani meningkat. Adapun dalam mewujudkan hal tersebut Prof. Andreas bersama AB2TI, melakukan program aksi melalui benih dan teknologi karya petani kecil melakukan penerapan konsep agroekologi dengan menggunakan varietas IF8, PROVIBIO dan teknologi karya petani kecil di 13 Kabupaten di Pulau Jawa, gerakan rakyat untuk kedaulatan pangan dalam bentuk Warung Kedaulatan Petani dan AB2TI MART yang mana Sejak Tahun 2016 dilakukan Pembentukan 7 Pusat Produksi untuk Pupuk Hayati PROVIBIO dan Pembentukan 13 Pusat Perbenihan kemudian Tahun 2018 membentuk Koperasi AB2TI, Pembangunan Dryer, RMU dan Gudang di 13 Kabupaten dan membeli gabah petani anggota dengan harga saat itu, simpan, jual, selisih penjualan dikembalikan sebagian ke petani.