Desa Merdeka – Jakarta : Dewan Pengurus Nasional Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia mengadakan Diskusi Tematik II yang bertema “Sampai Dimana Kedaulatan Pangan Indonesia & Apa Langkah serta Solusinya?”. Dalam Diskusi tersebut Pembicara diskusi Ir. M Yanuar J Purwanto PhD, IPM, Ketua BK Pertanian Persatuan Insinyur Indonesia memaparkan bahwa produksi pangan perlu dukungan irigasi, areal sawah beririgasi perlu dipertahankan karena alih fungsi lahan di sekitar daerah irigasi, rendahnya revenue kawasana, sarana dan prasarana on farm dan off farm, tidak adanya industri hilir yang mana kawasan potesial untuk dijadikan wilayah pengembangan.

Alih fungsi lahan tersebut menurut dosen IPB ini adalah karena rendahnya revenue kawasan, sarana dan prasarana on farm, off farm yang kurang memadai sehingga kawasan dijadikan wilayah pengembangan NON PERTANIAN hal tersebut dapat kita temui di Ciranjang yang terjadi alih fungsi sawah di areal daerah irigasi Cihea, di Kab, Cianjur ujarnya.

Selain itu Ir. Yanuar juga menyampaikan kinerja sawah beririgasi di Propinsi Banten dengan mencuplikan 3 kajian sample yaitu sample pertama MT 1 sebesar 25926, MT II sebesar 22028 dengan luas 47954/Ha, IP 1,85. Sample kedua MT 1 sebesar 35724, MT II sebesar 29255 dengan luas 64979/Ha, IP 1,82. Sample ketiga MT 1 sebesar 4143, MT II sebesar 2485 dengan luas 6628/Ha, IP 1,60.

Ir. Yanuar mengatakan bahwa pengembangan pangan dengan sawah beririgasi antara lain aspek pengembangan yaitu areal,konsolidasi dan nilai tambah, pemberdayaan petani, op irigasi dan nilai tambah dan pelayanan pemerintah yaitu pelayanan di ranting dan pelayanan di komisi irigasi. Selain itu perlunya solusi kendala Antara lain alih fungsi, ip belum optimal dan keberlanjutan, lantas Ia menawarkan konsepsi Perdesaan Masadepan Indonesia 2045, Pengembangan Zonasi Desa Tertinggal Antarab Lain 1. Blok Industri Kecil / Home Industri : (MITRA DESA DAN SWASTA), 2. Blok On-Farm (TERKONSOLIDASI) : (MITRA POKTAN/GAPOKTAN DAN SWASTA), 3. Blok Pemukiman (MITRA KAMPUNG DAN DESA), 4. Blok Komersial –Pasar (MITRA DESA DAN SWASTA), 5. Blok Layanan Publik – Balai Desa (MITRA DESA DAN PEMDA), 6. Fasilitas Kawasan (Utilitas) : (MITRA DESA DAN PEMDA/SWASTA).

Ir. Mangontang Simanjuntak, Sekretaris Jenderal MSP, Alumnus IPB yang sehari-hari menjadi petani di daerah jonggol ini memaparkan bahwa untuk memahami kedaulatan pangan sangat penting membaca dahulu pidato Bung Karno saat mendirikan IPB (baca :Soal Hidup Atau Mati, Pidato Bung Karno pada peletakan batu pertama dari pada Gedung Fakultas Pertanian Bogor pada tanggal 27 April 1952), disana terdapat data – data yang logis yang hingga kini masih relevan dan sahih digunakan sebagai dasar pemahaman Kedaulatan Pangan.
Ia mengatakan bahwa problem yang terjadi saat ini adalah ketergantungan yang menyebabkan hilangnya kedaulatan, secara cita-cita ingin berdaulat tapi tidak menggapai jalan yang mengarahkan pada kedaulatan pangan itu sendiri, hingga saat ini bibit lokal begitu banyak dan perlu dilindungi tapi petani menggunakan bibit hybrid, ini yang menjadi matinya kreativitas penemuan bibit dan menimbulkan ketergantungan bibit yang notabenenya sudah di kapitalisasi pemilik modal, lalu apa yang bisa diperbaiki ketika bibit dan pupuk harus dibeli, disingkat wisdom hilang, keseimbangan hilang, semua harus diarahkan menuju produktivitas, dan kenaikan anggaran harus ditujukan pada kedaulatan memperkuat petani memuliakan benih lokal yang bisa ditanam terus menerus, memperkuat akses permodalan dan peralatan agar petani bisa memproduksi pupuk sendiri, serta daya dukung tehnologi agara petani sesuai kultur lahan dapat membuat atau memproduksi sarana produksi pertaniannya ujar Mangontang yang berprofesi sebagai petani ini, yang juga memproduksi, memuliakan benih, bibit, pupuk dan sarana produksi pertanian sendiri dan digunakan oleh komunitasnya.
Ir. Mangontang Simanjuntak mengatakan bahwa rata-rata petani komunitas adalah orang yang ahli di bidangnya justru ia juga banyak menggali dan berbagi ilmu melalui pengalaman-pengalamannya dengan petani komunitasnya seperti membuat alat pecacah daun atau copper yang bisa digunakan sendiri, membuat bakteri untuk membuat pupuk, mengkomposkan jerami yang dapat menambah penghasilan petani kurang lebih 2,5 juta dan banyak hal lain yang sebenarnya praktek kedaultan pangan ada dilapangan namun Ia menyayangkan kepemilikan lahan yang kini rata-rata lahan 0,2ha sama dengan 400 rb/bln satu KK ini sangat menyedihkan, dan kedaulatan pangan kita berada dipersimpangan.
Dalam diskusi tematik tersebut terurai bukan sekadar teori dan angka-angka namun juga program aksi yang dilakukan oleh para narasumber serta fakta-fakta dilapangan namun disayangkan perwakilan dari Kementerian Pertanian RI tidak hadir dalam diskusi tersbut sebagaimana subtema yang telah disampaikan yaitu upaya dan langkah pemerintah dalam mewujudkan kedaulatan pangan.