Desa Merdeka – Jakarta : Sejarah baru digoreskan Indonesia. Simposium Nasional Membedah Tragedi 1965 melalui Pendekatan Sejarah digelar di Hotel Aryaduta, Jakarta. Simposium yang digagas Forum Silaturahmi Anak Bangsa ini berlangsung atas dukungan Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Keamanan.

Simposium yang digelar dua hari, Senin dan Selasa 18-19 April, mempertemukan korban tragedi 1965, sejarawan, mantan jenderal TNI, dan sejumlah tokoh lembaga yang berada di pusaran peristiwa berdarah tersebut.

Setengah abad telah berlalu sejak tragedi 1965 memecah-belah bangsa ini. Lewat simposium ini, pemerintah berharap konflik dapat diurai dan trauma masa lalu bisa dipulihkan. Setidaknya, peristiwa 1965 dalam diletakkan dengan benar dalam perspektif sejarah.

Pukul 12.50, ruang Simposium

Harry menekankan ada sekian aturan yang ada pada masa orde baru, harus dicabut karena bersifat diskriminatif.

Dia mengusulkan dan menegaskan urgensi pembentukan KKR. “Tidak mungkin rekonsiliasi tanpa membentuk komisi,” kata dia.

Salah satu tugas dan fungsi, adalah komisi bersifat independen dan langsung di bawah presiden. Dia juga menekankan komisi harus menggunakan pendekatan HAM dan tidak partisan.