Desa Merdeka – Ambon. Besok kamis 17/8/2017 Bangsa Indonesia merayakan hari kemerdekaan ke 72. Rakyat di kecamatan Kilmury Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) Propinsi Maluku sepertinya bangun dari mimpi buruk selama 72 tahun rakyatnya sadar bahwa mereka hidup tanpa negara.
Kontributor Desa Merdeka mendapat kiriman messenger 16/8/2017 dari DR A.Tulalessy dosen Universitas Pattimura Ambon berupa pesan dari pemuda pelajar Kilmury yang meminta pemerintah agar selamatkan Kilmury dengan spanduk bertuliskan 72 tahun hidup tanpa negara dan pesan -pesan seperti ini ;
Perjuangan untuk kilmury tidak akan pernah berhenti, seperti hal-nya kami yang tidak akan berhenti mela ngkah kaki, untuk membelah jalan-jalan dipelosok negeri ini selama diberikan kesehatan dan waktu. Masih ada beberapa data yang kami pegang, Kecamatan yang masih membutuhkan keadilan energi. Disini saya bisa banyak belajar tentang bagaimana memaknai sebuah perjalanan dari sisi yang berbeda. Berbuat sesuatu untuk sesama.
EL-NaMa Rumainbugiz
Tatta Kartazi
Sam Sabandar

Terimakasih teman-teman semua yang telah berjuang bersama.

#SaveKilmury #PerjuanganBerlanjut tentang kecamatan Kilmury di kabupaten Seram Bagian Timur provinsi Maluku sudah sangat tertinggal dalam pembangunan.
Keadaannya seperti hutan yang tak ada penghuninya. Keadaan kecamatan ini sangat memprihatinkan. Bayangkan saja sampai sekarang listrik negara dan jalan aspal belum menyentuh kecamatan tercinta ini. Kalau mau ke desa-desa tetangga harus jalan kaki melewati jalan pantai dengan jarak 3 KM, 5 KM s/d 10 KM bahkan lebih.

Selanjutnya, malam hari desa – desa di kecamatan kilmury warganya masih menggunakan obor atau lampu yang terbuat dari kaleng atau botol sebagai penerang dalam rumahnya (pelita). ya seperti itulah keadaannya sampai sekarang. Kami mau merdeka Pak !!!

Masyarakat kecamatan kilmury tidak merasakan makna dari kemerdekaan. Kenapa tidak !!! bukankah Indonesia sebentar lagi merayakan hari yang katanya hari ulang tahun kemerdekaan RI yang ke 72.

Warga desa-desa di kecamatan kilmury pekerjaannya hampir semua adalah petani dan nelayan.

Mirisnya, anak sekolah setiap hari harus berangkat jam 05.00 Wib dari rumah. Mungkin saudara bisa bayangkan bagaimana keadaan anak-anak yang berangkat pagi-pagi buta untuk sekolah. Sarapan tidak sarapan harus berangkat . Embun yang menempel di daun-daun rumput menambah kedinginan pagi mereka. Tak ketinggalan juga sarang laba-laba yang telah terpajang di jalan kadang-kadang di tabrak. Ular juga sesekali mengagetkan mereka. Ada juga sungai-sungai yang mereka harus lewati dengan cara berenang, Kadang kalau paginya banjir mereka tak jadi sekolah dan kalau saat pulang mereka pulang sampai sore menunggu air sungai surut. Kalau air surut terlalu lama mereka terpaksa berenang lagi. Dingin, lapar, takut dan menangis itulah keadaan mereka disitu.

Selanjutnya, karena listrik belum terpasang di kecamatan Kilmury, semua aktivitas dilaksanakan dengan tenaga manusia yang ekstra. Alat masak masih menggunakan kayu, setrika masih menggunakan setrika tempurung.

Sedihnya lagi anak-anak yang belajar hanya ditemani oleh cahaya api obor/Pelita, Saya rasa bisa saudara bayangkan bagaimana anak-anak belajar saat menghadapi ujian, pasti sangat menderita. Dan ini tidak begitu detil saya ceritakan atau tidak begitu mengena saya jabarkan karena lebih dari ini yang kami alami. Bapak/Ibu atau saudara bisa melihat kami sendiri suatu saat nanti.

Kami butuh perhatian Pak Presiden, Pak mentri, Pak gubernur, Pak Bupati, Pak DPRD atau siapapun yang membaca. Kami ingin lepas dari jajahan ini. Kami ingin keadilan dan kesejahteraan mengalir di Kecamatan kami.
Bagikan kiriman ini hingga sampai di tangan Presiden, Mentri, Gubernur, Bupati, DPRD.

#SaveKilmury