Desa Merdeka-Ambon : Akhir -akhir ini penyerobotan yang dilakukan oleh PT Gema Hutan Lestari (GHL) semakin marak didalam petuanan marga Lesbasa Gebrihi . GHL menganggap petuanan Marga Lesbasa menjadi lahan penebangan yang subur untuk mendapat modal besar tanpa menghiraukan siapa pemilik petuanan adat .

Menurut Johanes Lesbasa S.Sos pemegang mandat adat keturunan marga Lesbasa yang selalu hubungi kontributor desa merdeka melalui ponselnya mengemukakan bahwa untuk masuk di petuanan adat Marga Gebrihi pola yang mereka pakai adalah mengadu domba masyarakat yang bukan pemilik lahan dengan membayar sedikit uang lebih dulu .Maklum mereka tau bahwa masyarakatnya memiki SDM yang rendah. Saya sudah proses mereka ke Polda Maluku dan sementara diproses aparat karena melakukan penyerobotan di tiga dusun adat milik Marga Lesbasa.

Sekarang mereka kembali buat ulah baru dengan masuk kedusun petuanan adat waimulang yang lain di desa Terkuri.

Kepada kontributor desa merdeka melalui percakapan seluler Kepala desa Waimulang kecamatan Leksula kabupaten Buru Selatan (Bursel) prov.Maluku Yoris Lesbasa mengatakan hari ini senin 26/2/2018 saya baru saja melayangkan surat kepada PT Gema Hutani Lestari ( GHL) untuk menghentikan penebangan kayu di hutan petuanan adat Desa Waimulang di dusun Terkuri sebagai desa pemekaran.

Hal itu dikemukakan oleh kades waimulang Yoris Lesbasa melalui komunikasi ponsel langsung dari desa Waimulang kepada kontributor desa merdeka di Ambon 26/2 bersama pemilik petuanan adat marga Lesbasa Gebrihi Iwan Lesbasa BA.

Dijelaskan selanjutnya surat yang dilayangkan itu bernomor : 25 tanggal 24/2/2018 ditujukan kepada perusahan PT GHL, kepihak keamanan dan tembusannya disampaikan kepada yang berwewenang didaerah Kabupaten Bursel termasuk bupati,gubernur sampai ke Presiden yang bertujuan menghentikan kegiatan penyerobotan dan penebangan didesa Terkuri.

Penegoran kepala desa ini kepada PT GHL disebabkan karena GHL melakukan penyerobotan tanpa seizin pemilik maupun kepala desa. Selanjutnya dikatakan kades Yoris , PT GHL tersebut sudah diarahkan agar datang ke Waimulang untuk dibicarakan bersama masyarakat adat, tapi tidak dihiraukan.

Untuk itu surat yang ditujukan kepada perusahan dan pihak keamanan TNI/POLRI dapat dihargai masing -masing instansi san turut bekerja sama menghentikan kegiatan tersebut karena pekerjaan penebangan sudah dilakukan beberapa bulan secara diam-diam dengan cara mereka menyerobot dusun adat desa Waimulang terkuri dimana petuanan adat itu dimulai dari Muharua dekat fatupa(Waituren) sampai kali Wamsasi.

ketegasan dari kepala desa waimulang ini ditujukan kepada PT GHL . Bahwa penyerobotan yang dilakukan PT GHL sama dengan pencuri tanpa mengetahui kepala desa. Untungnya ketika pemilik lahan tersebut pergi kehutan dan kaget melihat penyerobotan dan perbuatan kesewenangan peneba ngan yang dilakukan PT GHL.

Untuk masyakat mengetahui bahwa PT GHL ini yang juga masih bermasalah dengan marga Lesbasa Gebrihi karena melakukan hal yang sama di ketiga dusun milik Marga Lesbasa dimana dusun yang mereka lakukan penebangan adalah dusun yang sudah dimenangkan marga Lesbasa dan mempunyai keputusan tetap pengadilan negeri.

Pola masuknya PT GHL dengan cara diback up pihak keamanan dan GHL mempergunakan pola adu domba dan memecah masyarakat yaitu membayar panjar kecil-kecilan kepada yang bukan punya Petuanan adat dan menantang pemilik petuanan adat Gebrihi yang pernah dipublikasi melalui Desa Merdeka pada tahun lalu 24/2/2017.